HarianBernas.com – Dampak dari krisis ekonomi dan gejolak domestik di Venezuela turut merambah ke sektor politik. CNN memberitakan kalau Mahkamah Agung Venezuela pada hari Kamis (30/3/2017) mengumumkan pembekuan parlemen. Fungsi legislatif di pemerintahan untuk seterusnya akan dijalankan oleh Mahkamah Agung yang diisi oleh tokoh-tokoh pendukung pemerintahan berkuasa.
Pihak oposisi mengecam putusan Mahkamah Agung tersebut. Julio Borges selaku presiden Dewan Nasional menuduh kalau presiden Venezuela baru saja melakukan kudeta. ?Putusan ini menandakan kalau untuk pertama kalinya, (Presiden) Nicolas Maduro memiliki semua kekuatan untuk membuat peraturan, menetapkan kontrak, membuat hutang luar negeri, dan menindas sesama rakyat Venezuela,? papar Borges.
Pendapat serupa juga disuarakan oleh Henrique Capriles, tokoh oposisi merangkap kandidat presiden dalam pilpres terakhir Venezuela. Ketika putusan tersebut diumumkan, Capriles sedang berada di Kolombia. Aksi demonstrasi juga terjadi di luar gedung Mahkamah Agung oleh massa anti pemerintah. Mereka meneriaki petugas keamanan yang menjaga gedung dengan ejekan ?pengkhianat tanah air.?
Bukan hanya rakyat Venezuela yang mengecam putusan Mahkamah Agung Venezuela tersebut. Pemerintah Peru juga mengekspresikan rasa tidak setujunya atas dibekukannya parlemen Venezuela. Duta besar Peru di Caracas sudah mendapat perintah untuk segera kembali ke Peru. Presiden Peru menyatakan kalau putusan Mahkamah Agung Venezuela sebagai ?rusaknya tatanan konstusional dan demokratis.?
