HarianBernas.com – Suriah bukanlah satu-satunya negara yang menjadi pusat perhatian AS di bidang keamanan internasional. Korea Utara dengan senjata nuklirnya juga menjadi sumber kekhawatiran tersendiri bagi rezim Donald Trump. NBC News mengabarkan kalau Dewan Keamanan Nasional mengajukan tiga opsi kepada Trump untuk mengakhiri polemik terkait senjata nuklir Korea Utara.
Ketiga opsi tersebut semuanya terlihat kontroversial. Dalam opsi pertama, AS bakal menempatkan senjata nuklirnya di Korea Selatan. Sementara dalam opsi kedua, Kim Jong Un selaku diktator Korea Utara bakal dibunuh entah bagaimana caranya. Di opsi ketiga, pasukan khusus AS dan Korea Selatan bakal menyusup ke wilayah Korea Utara untuk menyabotase infrastruktur-infrastruktur penting yang ada di sana.
AS sendiri diketahui memang pernah menempatkan senjata nuklirnya di Korea Selatan. Namun pada tahun 1991, seluruh senjata nuklir milik AS di Korea Selatan ditarik mundur. Jika AS benar-benar menempatkan kembali senjata nuklirnya di Korea Selatan, peristiwa tersebut akan menjadi peristiwa pertama sesudah Perang Dingin di mana untuk pertama kalinya senjata nuklir milik AS ditempatkan di negara lain.
Salah seorang pejabat intelijen AS menjelaskan alasan di balik pengajuan opsi tersebut. Kepada NBC News, ia menjelaskan kalau selama lebih dari 20 tahun metode diplomasi dan sanksi gagal menghentikan program nuklir Korea Utara. Ia juga merasa ragu kalau AS dan Tiongkok bisa mendapatkan solusi diplomatik bersama.
Namun opsi penempatan senjata nuklir tersebut juga menuai penolakan dari dalam AS sendiri. Pensiunan tentara AS James Stavridis menyatakan kalau penempatan senjata nuklir di Korea Selatan hanya akan membuat Korea Utara semakin marah dan memperkeruh situasi di kawasan setempat. Mark Lippert yang pernah bertugas sebagai Dubes AS untuk Korea Selatan juga berpendapat serupa dan menganggap kalau penempatan nuklir di Korea Selatan justru bertentangan dengan niat AS menciptakan kawasan bebas nuklir.
