YOGYAKARTA, Harianbernas.com — Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila telah 71 tahun merdeka, tapi kesenjangan ekonomi dan sosial di dalamnya semakin tajam. Nilai-nilai Pancasila diharapkan membumi agar kesenjangan itu berkurang dan hilang.
“Pancasila, di atas Ketuhanan YME, di bawah ada keadilan sosial. Tapi itu masih menggantung, rakyat bergumul dengan kemiskinan dan narkoba,” kata Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Maarif dalam rilis yang diterima Harianbernas.com di Yogyakarta, Sabtu (8/4).
Syafii menerangkan, karena kesenjangan begitu tajam, maka organisasi seperti ISIS, pengikutnya ada di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membina lebih dari 1000 mantan kombatan, tapi tidak akan efektif selama nilai-nilai Pancasila di bawah tidak turun ke bumi.
“Saya lelah sebenarnya kenapa negara sebesar ini, sebagian besar muslim terpecah dan saling menghujat. Suriah, Irak, dan Mesir sudah hancur. Kita boleh menyalahkan Barat tapi juga harus tahu bahwa itu bisa masuk karena kita rapuh,” kata Syafii.
Menurut Syafii, teologi maut mengajarkan berani mati karena tidak berani hidup serta memonopoli kebenaran. Dia melanjutkan, mayoritas orang Indonesis diam karens masih jauh dari Suriah, tapi Indonesia harus hati-hati karena yang bertarung di Suriah juga banyak orang Indonesia penganut teologi maut.
“Pendukung segala sempalan yang ingin ganti Pancasila bersuara lantang karena yang mayoritas diam. Aparat harus peka. Kalau politisi di Senayan agak sulit sekarang, walau tidak semua. Negara anda, negara saya, jangan biarkan tenggelam,” tegas Syafii.
Pakar Hukum Tata Negara, Jimly Ashiddiqie, mengatakan, Indonesia sebagai Negara Pancasila sudah final. “Tetapi kita tetap membiarkan yang kiri, kanan, tengah, atas dan sebagainya untuk bergerak sebagai dinamika di tengah masyarakat,” katanya.
Jadi, lanjut dia, negara ini harus mengakkan aturan-aturan yang sudah berlaku, sera harus menegakkan hukum dengan tegas. Menurutnya, trend konservatisme dan trend terorisme adalah cermin ketidakberdayaan.
“Maka kunci ketidakberdayaan harus diselesaikan. Kunci yang harus dikembangkan adalah pola hubungan yang inklusif dan universal, sebab pluralitas kita terpecah belah,” kata Jimly.
Jimly mengajak, agar bangsa Indonesia optimis, yakni dengan menggunakan gaya komunikasi yang optimis. Sebab, ujar dia, jika pesimis dan khawatir, maka negara ini akan terpecah belah seperti Suriah, kemudian akan didengar dan membuat kelompok yang ingin memecah belah bangsa semakin bersemangat.
“Bagaimanapun bangsa ini sudah teruji dalam sejarah sebagai masyarakat yang toleran,” ujar Jimli. (Arif Kusuma Fadholy)
