HarianBernas.com – Helena Nursanti Djiwandono atau akrab dipanggil Santi Djiwandono pada tahun 2005 dihadapkan pada sebuah kesempatan karir yang baru, tapi justru mengantarkannya pada bidang pekerjaannya saat ini, sebagai Communication Consultant. Di tahun itu, perusahaan tempatnya bekerja diakuisisi oleh perusahaan asing. Ia pun diberi kesempatan untuk mengepalai departemen Internal Communication. Banyak sekali pelajaran dan latihan baru yang sangat berperan membentuk profesi dan misinya sekarang.
Baca juga: Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
“Karena bidang ini relatif baru jika dibanding dengan bidang Humas atau Public Relation, membuat saya dan tim berjuang keras untuk bisa mendapatkan kepercayaan dan pada akhirnya menuai banyak manfaat bersama. Komunikasi di dalam perusahaan atau organisasi sangat penting meningkatkan produktivitas karyawan, sekaligus mendekatkan relasi atasan dengan bawahan secara orisinil dan otentik, serta langgeng,”ungkapnya ke Harian Bernas (25/2).
Kini, prinsip komunikasi itu semakin dikuatkan dengan belajar dari banyak buku, dari sesi pelatihan, melalui penyediaan konsultasi kepada generasi muda, melalui keterlibatan di organisasi Gereja, hingga relasi di rumah. Ia pun membangun kebiasaan khusus untuk mendukung bidang pekerjaannya saat ini dengan introspeksi, evaluasi diri, menulis, dan membaca karya sastra. “Communication needs good will and good skill. Komunikasi membutuhkan skill yang baik dan niat baik. Teori komunikasi yang sedemikian banyak tidak mampu memberikan nilai tambah berarti bagi kita, ketika tidak ada kerendahan hati dan bersedia memikirkan kepentingan lebih besar daripada kepentingan diri sendiri,” tuturnya dengan membagikan salah satu mottonya.
Dosen Luar Biasa ini menjelaskan tentang alasan terus menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini. ”Komunikasi mendorong saya untuk terus introspeksi karena saya baru bisa membantu orang lain jika saya sudah ‘beres’ dengan diri sendiri. Komunikasi adalah pelajaran seumur hidup dan manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, yakni ‘dimanusiakan’ dan itu membutuhkan keterampilan komunikasi yang terus menerus diasah,”tukasnya.
Communication Motivator ini mencontohkan tentang permasalahan yang paling sering dihadapi dalam bidang profesinya. ”Mengartikulasikan peran komunikasi dalam organisasi atau perusahaan sehingga makin banyak pimpinan bersedia merencanakan inisiatif komunikasi yang terukur. Supaya komunikasi tidak hanya ‘diadakan’ ketika ada masalah atau krisis, namun direncakan dan dijadikan budaya. Saya bisa memahami tantangan ini, karena sayapun demikian awalnya, dan saya maju terus saja, karena saya sudah merasakan sendiri manfaat dari komunikasi yang direncanakan dan diukur,” bebernya.
Baca juga: 4 Langkah Menemukan Ide Pokok Paragraf dengan Mudah
Alumnus London School of PR Jakarta ini pun telah memetakan tentang tantangan ke depan yang akan dihadapinya dalam bidang pekerjaannya. “Saya memulai membangun usaha sendiri di umur yang relatif ‘tua’ sehingga bagaimanapun juga kekuatan fisik tidak bisa sebanding dengan upaya yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, saya menulis buku (buku Communication With Heart – Langkah praktis berkomunikasi secara Authentic-Assertive -Articulate, terbit tahun 2015) dengan demikian, saya masih bisa terus berbagi,” terangnya.
Pengagum sosok Bunda Teresa ini pun merasa bahwa bidang pekerjaannya saat ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ”Semua orang membutuhkan orang lain dan perlu menjalin relasi. Semua relasi adalah anugerah sehingga harus dirawat dengan baik. Keterampilan komunikasi membantu relasi menjadi bermakna dan langgeng apalagi komunikasi selalu menuntun orang untuk terbiasa introspeksi. Itu yang saya alami dan saya ingin terus berbagi,” paparnya.
Untuk pencapaian yang membanggakan, mantan manager dari PT HM Sampoerna Tbk ini menjawab bahwa ketika ia sudah bisa mengalahkan diri sendiri sehingga bisa kredibel berbagi. Ia pun tak memungkiri bahwa lingkungan keluarganya sangat berperan atas apa yang dicapainya saat ini karena orangtuanya tipe pekerja keras, jujur, dan belajar terus. “Lingkungan sahabat, partner usaha, sangat bermanfaat menjadi cermin saya. Mereka memberikan umpan balik paling tulus dan jujur sekaligus konstruktif. Banyak sebenarnya, karena di setiap tahapan hidup saya selalu ada orang-orang yang berjasa – mulai dari orang tua yang mengajarkan prinsip kejujuran, guru -guru sederhana yang berdedikasi, sahabat sejak kecil hingga dewasa yang mencintai tanpa syarat, hingga atasan, kolega, konsultan saat berkarya di perusahaan, termasuk partner bisnis di tahap sekarang ini,” imbuhnya.
Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, ia menjawab bahwa akan berdoa terlebih dahulu, kemudian kembali mengkonfirmasi tujuan hidup. “Apapun masalah yang merusak mood tidak bisa dihindari, namun bisa dikelola, dan ketika masalah itu diukur dari pengaruhnya terhadap proses menuju tujuan hidup, relatif lebih mudah bagi saya untuk bersemangat kembali,” ucapnya.
Penyuka hobi menonton film ini tak lupa memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. “Setiap orang diberi keunikan masing-masing, temukan keunikan yang sejati, dalami lalu bagi. Kejar hal-hal yang abadi atau langgeng, yang sesaat digunakan sebagai batu loncatan saja.Untuk saran, ukuran sukses tiap orang berbeda dan berubah-ubah selama hidup, yang penting ketika kesuksesan yang Anda targetkan itu tercapai berarti Anda sudah sukses. Buat saya, ukuran sukses di tahap ini adalah ketika semakin banyak orang tercerahkan melalui pembelajaran komunikasi,”ujarnya.
Member of Toastmasters International ini membocorkan tentang project dalam waktu dekat ini dan impiannya. “Untuk project, menulis buku panduan membangun komunikasi internal di dalam perusahaan atau organisasi dan menulis kolom di media. Untuk impian, keterampilan komunikasi dapat dicantumkan dalam kurikulum pendidikan sejak tingkat dasar hingga tingkat lanjutan, bahkan perguruan tinggi, sebagai subyek wajib,” pungkasnya.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
