HarianBernas.com – Menjadi dosen Leo Alexander Tambunan, SE, MM memang menjadi cita-citanya sejak kecil. Ini menjadi pengalaman yang sangat lucu di perjalanan hidupnya. Ia menduga impiannya ini bisa terwujud karena lingkungan keluarganya yang sebagian besar bekerja di dunia pendidikan sehingga menyebabkannya menyenangi profesi sebagai guru.
“Ketika masa kecil, saya pernah melihat Ayah saya mengajar dan membimbing mahasiswa. Hal itu yang menyebabkan saya menyenangi profesi ini karena ketika melihat Ayah mengajar ada rasa kebanggan yang saya miliki ketika melihat Ayah mengajar dan membimbing mahasiswa,” ungkapnya ke Harian Bernas (24/2).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Uniknya, ketika kelas 5 SD, pria kelahiran Bandung ini sudah mulai mengajar dalam bentuk les secara sukarela kepada teman-temannya ketika ada yang mengalami kesulitan dalam belajar. Ketika SMP, SMA, dan mahasiswa, ia tetap mengajar teman-temannya jika ada masalah di dalam proses belajar. Tak heran dunia profesi guru atau dosen sudah mengalir pada dirinya.
Pengalaman yang tak bisa dilupakannya ketika tahun 1988. Saat lulus SMP, ia berencana mau masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Kota Medan. Namun, ketika itu, peraturan pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah profesi guru itu.”Saya sangat terpukul dan sedih. Merasa bahwa cita-cita saya sejak kecil untuk menjadi seorang guru tidak tercapai, berbagai cara saya lakukan agar saya dapat bersekolah di SPG tersebut. Tetapi, saya tidak bisa mengubah keadaan tersebut. Saya sedih dan down. Berhari hari saya hanya mengurung di kamar sehingga Ayah menghibur saya dan memberikan kekuatan. Beliau share pengalamannya bagaimana dia menjadi seorang dosen tidak melewati pendidikan guru, tidak berarti bahwa tidak sekolah di Sekolah Pendidikan Guru maka impian saya menjadi guru tidak tercapai,” urainya.
Setelah lulus dari kuliah, pendidik ini menceritakan perjalanannya sehingga menjadi dosen. Ia mulai merantau ke Jakarta dengan harapan bisa bekerja di dunia pendidikan, minimal di sekolah atau universitas. Pada bulan April 2002, diterima bekerja di salah satu universitas terkenal di Karawaci, Jakarta sebagai Staff Kemahasiswaan. Saya merasa senang dapat bekerja di dunia pendidikan, walaupun pada saat itu tidak menjadi dosen. “Saya yakin bahwa melalui posisi sebagai staff, saya bisa menjadi dosen,”imbuhnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Selama menjadi staff kemahasiswaan, banyak mahasiswa saya bimbing curhat, baik masalah pribadi maupun masalah perkuliahan.”Saya berpikir mengajar bukan hanya ada di kelas, mengajar juga bisa di luar kelas, mengajar bukan hanya mengajar mata kuliah, tetapi mengajar bisa juga membetuk karakter dan attitude mahasiswa,”tambahnya.
Ia teringat pesan Ayahnya ketika kita bekerja di dunia pendidikan mau jadi dosen ataupun staff administrasi jika bekerja di dunia pendidikan, tujuannya sama, yaitu membimbing, mengarahkan, dan membina mahasiswa untuk mewujudkan cita-cita mereka.
Beberapa bulan setelah itu, salah satu dosen di manajemen, tempatnya bekerja melihat potensinya untuk mengajar. “Beliau meminta saya sebagai asisten dosen baginya maka saya memiliki dua pekerjaan sebagai staff Kemahasiswaan dan menjadi asisten dosen mata kuliah Manajemen SDM. Pada tahun 2004, akhirnya saya melanjutkan studi ambil program S2 Magister Manajemen. Karir saya di bidang kemahasiswaan meningkat sehingga saat lulus S2, saya mengajar dan dipromosikan sebagai Jr. Manager Kemahasiswaan dan Dosen di Surabaya karena universitas tempat saya bekerja membuka universitas di Surabaya,” ucap ceritanya.
Seiring perjalanan waktu, dosen ini pun menemukan sejumlah permasalahan yang paling sering ditemuinya dalam dunia pendidikan. “Selama 15 tahun saya bekerja di dunia pendidikan terutama di bidang kemahasiswaan, perilaku mahasiswa dan visi mahasiswa untuk tujuan hidup mereka tidak jelas. Akibat perkembangan jaman dan teknologi yang ada, menyebabkan mahasiswa berusia rata-rata 18-25 tahun memiliki perilaku dan karakter sangat memprihatinkan. Budaya cuek, tidak menghormati orang yang lebih tua, bersikap sesuka hati, pergaulan bebas, narkoba, dan sex bebas, menyebabkan mahasiswa lepas kendali dan tidak mengetahui arah hidup. Inilah yang menyebabkan beban bagi saya untuk mengubah pola pikir mereka dari perbuatan sesuka hati dan cuek menjadi memiliki rasa perduli terhadap sesama dan mengarahkan dan membimbing mereka untuk mengerti apa tujuan hidup mereka,” bebernya.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Penyuka hobi membaca ini pun memaparkan tentang tantangan ke depan yang akan dihadapinya dalam bidang pekerjaannya sebagai dosen. ”Bagaimana membentuk perilaku, karakter, dan attitude dari mahasiswa agar mereka dapat mengubah bangsa ini. Saya berusaha lewat pengajaran dan didikan ingin mereka dapat membanggakan orang tua, keluarga dekat, serta memberikan kontribusi di masyarakat. Banyak cara yang saya lakukan, tapi tentunya tidak lepas dari dunia pendidikan,” tuturnya.
Pemilik sertifikat Markplus Konsentrasi Sales Operation dari MIM Academy,Surabaya ini menjelaskan tentang bidang yang digelutinya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ”Sebagai pembina mahasiswa dan dosen yang memberikan mereka ilmu, sangat penting karena kita hadapkan pada bagaimana membentuk karakter orang muda, terutama para mahasiswa agar siap menghadapi persaingan di masa yang akan datang. Ketika negara di dunia berbicara tentang keterbukaan dan globalisasi, yang diharapkan adalah adanya kesiapan bagi generasi muda dalam menghadapinya. Menurut saya, mahasiswa atau orang muda merupakan harapan bangsa. Karena itu, perlu diarahkan agar mereka mengerti akan tujuan hidup mereka. Selagi muda, berikan mereka kepercayaan yang tinggi untuk menunjukkan siapa diri mereka. Peran masyarakat sangat penting ketika mereka lulus dan terjun di masyarakat,” paparnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Pengagum Mother Theresa ini tak lupa memberikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. “Saya hanya ingin membagikan pengalaman saya bahwa jatuh bangun dalam mewujudkan segala harapan dan cita-cita merupakan hal biasa. Saya berharap orang-orang dalam mewujudkan cita-citanya tetap bersemangat walau kondisi dan lingkungan tidak mendukung. Saya ingin jangan menyerah, jangan putus asa, jangan melihat lingkungan, dan tetap fokus terhadap apa yang ingin tuju,”katanya.
Ia juga membangun kebiasaan khusus yang dibangun selama ini untuk mendukung pekerjaannya, yaitu komunikasi dan keperdulian terhadap sesama, serta membangun rasa kepercayaan pada diri sendiri. Baginya, hal tersebut yang dapat membentuk kita menjadi manusia yang dapat diterima di lingkungan masyarakat.”Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, saya senang traveling bersama rekan-rekan,” tukasnya.
Pemilik hobi menjalin networking ini pun membocorkan tentang projectnya dalam waktu dekat ini dan impiannya.“ Untuk project, sampai hari ini, saya masih memberikan kuliah, memberikan workshop, memperkenalkan para mahasiswa akan pentingnya menggali minat dan bakat mereka agar mereka dapat mengasah rasa percaya diri. Untuk impian, menciptakan banyak lagi orang-orang muda yang sukses dan dapat berkarya demi bangsa ini. Karena seperti kata para tokoh negara ini orang muda adalah tulang punggung negara ini,” pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
