BERNAS.ID – Sejenak menyalahkan situasi pandemi, kita sudah masuk era digitalisasi. Bisa dibilang jika tidak sedang pandemi pun kita sedang didisrupsi oleh digitalisasi. Peran konten media sosial pun sama penting layaknya produksi produk itu sendiri.
Bagi UMKM kreatif, selain digitalisasi yang berfungsi sebagi media pelayanan konsumen, digitalisasi seperti website dan sosial media hingga marketplace menuntun pelaku usaha kreatif untuk mampu menciptakan citra visual yang keren.
Jika sebuah produk memakai model seorang publik figur atau artis (endorse) yang memiliki banyak penggemar pastilah memiliki dampak positif bagi brand tersebut karena meningkatkan kepercayaan konsumen dan peningkatan “gengsi” brand.
Endorse ini mengeluarkan budget yang beragam sesuai dengan tingkat kepopularitasannya. Bagi mereka yang memiliki modal lebih banyak, hal ini bukanlah hal yang susah. Bahkan produk belum jadi pun brand tersebut sudah mendapatkan preorder. Bagi brand lokal yang masih merintis tentu ini menjadi salah satu target suatu saat nanti karena endorse ini bukan hanya untuk menjual barang lebih banyak dalam waktu yang singkat, tapi juga merupakan aset digital yang bisa mereka cetak atau posting kapan saja.
Peran Kemenparekraf dalam situasi pandemi seperti ini sangat diperlukan. Dengan cara, melakukan pendanaan pada public figur (artist, selebgram atau influencer), lalu membuka akses pada brand lokal untuk mendapatkan foto atau konten pada publik figur yang sesuai.
Program tersebut juga perlu dipublikasi secara masif agar informasi bisa mudah kita dapatkan dan diketahui oleh khalayak umum sehingga sebuah gotong-royong ini menjadi trend. Terwujudya kemajuan ekonomi kreatif dari berbagai sektor ini adalah impian kita bersama karena semua sektor ekonomi kreatif saling berhubungan.
(Penulis: Satria Rifai, Yogyakarta. Anggota komunitas UMKM Nyawiji Yogyakarta, Daylinoon, Goexport.org, dan Owner Gypsyindonesia)
