HarianBernas.com – Selain sebagai Anggota Komisi B DPRD Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Danang Wahyu Broto, SE, MSi juga menekuni usaha di bidang properti yang sudah dilakoninya selama 20 tahun dengan perusahaan PT Rumah Cerdas. ?Kesibukan setelah profesional, menjadi pengurus REI (Real Estat Indonesia). Selebihnya turun di masyarakat dan mengurus partai,?ungkapnya ke Harian Bernas.
Sarjana Ekonomi Manajemen ini rupanya memang memiliki cita-cita sewaktu kecil ingin menjadi anggota dewan. ?Apa yang dibayangkan dulu hidup sejahtera dan punya kegiatan yang positif, saya kira sudah tercapai terpenuhi. Pada posisi sekarang, ketika sudah tercapai, bukan suatu kepuasan lagi, tetapi ternyata amanah ini justru tidak mudah. Menjaga amanah, menjaga silahturami, dan tanggung jawab itu lebih perlu,? tuturnya.
Master Psikologi Industri dan Organisasi ini pun menjelaskan tentang titik baliknya ingin menjadi anggota dewan yang terpicu karena pernah merasakan atau berada di posisi-posisi kekecewaan dan kegalauan terhadap masalah di masyarakat. ?Kok gini ya dan saya harus menjadi bagian dari perubahan itu. Di dewan banyak sekali yang ngomong, masyarakat itu kan sangat tergantung pengambil kebijakan. Masalah di masyarakat, solusinya di dewan dan eksekutif. Titik baliknya, dari sekian banyak kekecewaan, saya harus ada di kebijakan. Saya juga harus punya perusahaan untuk keluarga, saudara-saudara saya, teman-teman bisa bekerja, dan menciptakan lapangan kerja. Sekarang kan masih banyak yang susah mencari kerja. Itulah titik baliknya,? terangnya.
Anggota dewan yang gemar turun ke masyrakat ini pun membagikan pengalaman uniknya sebagai pengusaha. ?Pengusaha itu memang posisinya cukup unik karena dia harus terbebaskan dari sekian banyak permaslahan. Artinya, saya merintis dari tidak punya modal. Bagaimana mengumpulkan modal hingga akhirnya menjadi besar. Dari modal pinjaman tiga ratus juta hingga akhirnya sekian puluh M. Itu pengalaman yang menurut saya unik. Pengusaha itu ternyata tidak harus punya modal, tetapi harus mengupayakan modal sendiri,? katanya tentang awal merintis bisnis.
Sebagai anggota dewan, penyuka wayang kulit juga memiliki pengalaman unik. ?Ketika di kebijakan, kita punya kewenagan anggaran. Kita mau membuat masyarakat sejahtera, itu ternyata tidak susah. Masyarakat pengennya apa atau industrinya berjalan dengan baik, kita buat regulasi yang memudahkan. Pengen modal kerja, kita cari support beberapa pihak untuk membantu modal kerja. Ternyata yang dipikir susah secara umum itu, ternyata tidak sesusah yang dibayangkan,? tukasnya.
Wakil Ketua DPD Partai GERINDRA DIY ini pun menjelaskan tentang alasan menekuni bidang yang digeluti sampai sekarang ini. ?Suatu tantangan, yang dulu posisi kecewa, terkecewakan, sekarang mampu berbuat banyak untuk pengalaman-pengalaman yang tidak enak dulu. Artinya, kalau saya rakyat, kesulitan rakyat, kami tahu sehingga kita cari solusi di ranah kebijakan atas permasalahan masyarakat. Di dunia usaha juga sama seperti masalah permodalan, pemasaran, regulasi. Itu ternyata ada terobosan-terobosan dan ada solusi-solusinya apabila kita cari. Karena kekecewaan, kegagalan, ketidakmampuan lalu menemukan solusinya, itulah yang membuat kita bertahan,? bebernya.
Ia pun menceritakan tentang permasalahan yang sering dihadapi dalam pekerjaan. ?Biasanya, misskomunkasi atau kendala pemahaman. Di dewan, satu pasal dihadapi 10 pakar, interpretasinya menjadi 10 interpretasi. Jadi lebih ke komunikasi, hambatan komunikasi ini menjadi masalah yang sering kita hadapai. Masyarakat butuh bibit atau pupuk, negara ada anggarannya kok untuk subsidi itu. Cuma ketika siapa sih yang butuh, apakah dia butuh atau cari enaknya sendiri, ini kan masalah komunkasi lagi. Bahkan, siapa yang membutuhkan pun tidak tahu harus mengeluh ke siapa. Pembentukan kebijakan juga begitu, pemahaman terhadap komunikasi maunya dia begini, tapi tidak dia tidak tahu harus melangkah mewujudkan kemauannya. Masalah yang sering dihadapi ya misskomunikasi. Kalau kita duduk satu meja, sampaikan permasalahannya, pasti ada solusinya. Das sein, das sollen, harapan dan kenyataan kan tidak sama. Itu kan inti permasalahan. Sumber solusinya, lebih banyak di komunikasi,? urainya panjang.
Wakil Ketua DPD REI Yogyakarta ini menceritakan tantangannya dalam pekerjaan. ?Secara umum, banyak, misal antara regulator, pengusaha, dan masyarakat. Pasti selalu ada distorsi, mesti ada jarak, mesti ada ketidaksepahaman. Hukumnya sudah seperti itu. Kalau selalu dibutuhkan keterkaitan yang harus selalu terus dijaga. Komunikasi terus dibangun sehingga maksud dari regulator, pembuat kebijakan itu mampu memenuhi apa yang diharapkan masyarakat dan pengusaha karena pengusaha kontribusinya kepada masyarakat juga luar biasa terkait tenaga kerja, hasil-hasil produksi. Sebagai regulator, saya kira butuh komunikasi yang intens, bagaimana regulator melindungi semua aspek. Kita tidak mungkin menghilangkan kesenjangan itu, tapi hanya mempersempit saja karena masing-masing pihak akan mencari kebenarannya sendiri, bebernya.
Komisaris PT. Tirta Bumi Rizka ini juga menerangkan tentang bidang pekerjaan yang ditekuninya penting dibagikan ke masyarakat. ?Penting, alhamduliah saya di Komisi B yang bermitra dengan BUMD milik Pemerintah Provinsi DIY. Kita juga bermitra dengan dinas pertanian, perikanan, kelautan, deperindag, dinas koperasi & umkm, yang bersentuhan dengan masyarakat langsung. Kalau saya mewakili Gerindra, itulah 6 aksi Gerindra terhadap masyarakat yang bisa langsung terimplikasi dengan masyarakat. DIY masih mengadalkan sektor pertanian, perdagangan, dan pariwisata yang masih menjadi primadona. Saya bersyukur di Komisi B, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, bagaimana modal bisa diperoleh dari negara untuk masyarakat lewat BPD,? jelasnya.
Ia pun membagikan kebiasannya selama ini untuk mendukung pekerjaannya. ?Menjadi dewasa itu pilihan, tua itu pasti. Setiap saat atau detik, kita memilih ke kiri atau kanan, apakah saya kerja atau apakah saya tidur, apakah saya pulang atau saya harus ikut rapat. Kita selalu dihadapkan pada pilihan. Saya harus dewasa dengan segala kesibukan. Saya harus bertanggungjawab pada anak dan istri agar tidak keteteran. Menunda adalah kematian. Ada hal-hal yang tidak harus ditunda. Harus segara dijalani. Menunda akhirnya tidak menjadi baik dan terlambat. Menunda berangkat, akan ketinggalan pesawat. Kepercayaan yang diberikan kepada kita, ya kita lakukan seoptimal mungkin. Yakin ketika amanah diselesaikan dengan baik, akan muncul amanah baru. Jadi, satu pekerjaan selesai, akan muncul pekerjaan-pekerjaan yang lain. Kalau hasilnya baik, nanti akan naik,?terangnya panjang.
Pengagum sosok Prabowo ini pun membagikan inspirasinya. ?Tidak ada kata putus asa. Kekecewaan terhadap kondisi yang mungkin tidak selalu sesuai, buat saya semua ada solusinya. Saya prinsip, urip ming tak lakoni. Tentu saja, yang baik-baik. Artinya, berpikir positif. Bahwa segala sesuatu tidak hanya dilihat dari kulitnya, tapi hikmah di balik itu seperti itu apa. Keluarga senang, saya ikut senang. Masyarakat senang, saya jadi senang. Saya senang, lalu bekerja dengan suka cita. Masalah pasti ada, masalah itu ada solusinya,? terangnya.
Peraih Young Entrepreneur Awards tahun 2007 dari Kementerian Perindustrian ini membeberkan project terdekat dan impiannya. ?Kalau di dewan, mengawal rohnya keistimewaan karena kita menargetkan 1,7 T bisa terserap di masyarakat. Saya lebih fokus terkait dengan perda-perda istimewa. Harapan saya, APBD yang 5T ditambah 1T sekitar 6T harus ada manfaatnya untuk masyarakat. Untuk usaha, iklim usaha belum begitu bergairah, tetaapi saya mau supoort untuk teman-teman REI agar tetap bisa bertahan. Untuk impian, lebih fokus agar bermanfaat pada keluarga, anak-anak, dan masyarakat,? pungkasnya.
