GUNUNG KIDUL, HarianBernas.com —Saat masyarakat memperingati Hari Pahlawan 10 November, ternyata masih banyak pejuang kemerdekaan yang belum memperoleh perhatian. Sugeng Hadisuyatno, warga Dusun Plumbungan Desa Putat Kecamatan Patuk, adalah salah satu pahlawan yang terlupakan.
Meski ikut andil dalam memperjuangkan nasib bangsa, namun pria kelahiran 26 Desember 1926 ini sampai saat ini tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari pemerintah. Kakek yang memiliki 8 anak, 17 cucu, dan 8 cicit ini pernah menjadi Pembela Tanah Air (PETA). Bahkan rumahnya dibakar oleh Belanda. ?Rumah saya limasan 5 habis dibakar Belanda tahun 1948, karena ada tentara mereka yang mati ditembak pejuang,? kata Sugeng saat ditemui di rumahnya, Selasa (10/11).
Sugeng yang saat ini berprofesi sebagai petani, menunjukkan berbagai piagam yang diperolehnya. Di usia senja, dia menceritakan awal bagaimana perjuangan masuk PETA.
Tahun 1944, dirinya bersama dengan warga lainnya mendaftarkan diri sebagai tentara bentukan Jepang itu.
?Saya mendaftarkan diri di kelurahan bersama dengan warga lainnya,? imbuh kakek yang saat ini hidup di rumah sendiri. Istrinya, Tumirah, 50 hari lalu telah meninggal dunia.
Ia pun masih ingat bagaimana ucapan dalam bahasa Jepang. Misalnya hormat dan perintah menggunakan bahasa jepang. Di PETA, jabatan terakhirnya ialah Gyuhei , di PETA DAI IV Daidan, Gunungkidul.
Di tahun 1945, PETA dibubarkan. Sugeng pun masuk ke kesatuan Batalyon 10 Yogyakarta. Tugas pertamanya ialah mencegat sekutu di sekitar Ambarawa. Saat itu, dalam pertempuran beberapa hari, dirinya terpaksa makan ketela mentah, dan jagung mentah.
?Tugas pertama saya Ambarawa. Saya mencegat sekutu yang datang dari Semarang,? tuturnya menggunakan Bahasa Jawa.
Setahun bergabung dengan batalyon 10, oleh ibunya ia disuruh keluar, karena saat itu kakak tirinya tewas tertembak sekutu. Meski demikian, dari tahun 1946, Sugeng mengumpulkan logistik dari penduduk untuk dikirimkan ke para pejuang. ?Kebetulan saya waktu itu masuk pamong desa, sehingga mudah mengumpulkan logistik,? tambahnya.
Tahun 1948 itulah di sekitar Desa Putat, Belanda membakar desa. Ada beberapa rumah termasuk miliknya rusak dibakar oleh Belanda. Hanya saja, Sugeng mengaku sampai sekarang belum ada bantuan pemerintah. Bahkan untuk hidup sendiri, ia terpaksa meminta makan kepada anak.
?Sampai saat ini saya hidup sendiri, dan belum pernah dapat bantuan,? keluhnya.
Harapan untuk mendapatkan perhatian, diakui sudah pupus. ?Tetapi saya ikut bangga. Kita sudah merdeka, sedikit banyak saya juga ikut berjuang, meski pemerintah tidak pernah memberikan perhatian. Tuhan maha tahu, semoga anak keturunan saya, hidupnya lebih baik,? katanya pasrah.
