JOGJA,HarianBernas.com—Sejumlah tokoh agama dan budayawan mengecam aksi bom bunuh diri yang terjadi di Jakarta, Kamis (14/1). Mereka mendesak Badan Intelijen Negara (BIN) untuk segera mengusut tuntas motif dan pelaku pemboman yang menewaskan tujuh orang tersebut. Sebab peran BIN sebagai badan intelegen dinilai masih sangat kurang. Pengamanan negara seharusnya dilakukan tidak hanya secara represif namun juga preventif.
“Polisi sudah kebanyakan tugas. Sistem keamanan kita yang harus direvisi. Kejadian bom di ibukota sebagai pertanda buruk bagi negara karena pusat pemerintahan saja sudah bisa ditembus. Mungkin sebentar lagi tidak hanya di jalanan ibukota, tapi sudah masuk gedung-gedung pemerintah,” ujar tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Ahmad Hasyim Muzadi di UGM, Kamis (14/1).
Menurut Hasyim, persoalan terorisme seharusnya diatasi dari akar permasalahan. Namun selama ini hal itu tidak dilakukan karena persoalan terorisme lebih banyak dilihat melalui pendekatan Hak Asasi Manusia (HAM). Akibatnya persoalan teroris hanya dilihat dari hilir dan bukan diantisipasi di hulunya. Belum seimbangnya antara HAM dan kewajiban asasi manusia pun membuat pendeteksian ke akar persoalan terorisme tidak bisa dilakukan secara tuntas.
“Dibutuhkan pendekatan secara hukum dan persuasif untuk mendeteksi seluruh embrio kekacauan yang diakibatkan terorisme yang dimulai dari hulunya. Sebab kebebasan saat ini sudah tidak terukur dan tidak singkron dengan keselamatan negara,” tandasnya.
Sementara tokoh Agama Katolik Romo Antonius Benny Susetyo mengungkapkan, BIN kecolongan lagi dengan adanya bom bunuh diri tersebut. Karena itu, dia berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi dengan upaya deteksi dini. Salah satunya dengan melakukan pemetaan terhadap kelompok-kelompok radikal. BIN bisa belajar dari pengalaman saat bom Bali dan bom Marriot. “Negara tidak boleh kalah. Negara harus bisa memberikan rasa aman terhadap seluruh warganya,” tandasnya.
Pemantapan ideologi atas negara Indonesia, menurut Romo Ben, juga harus segera dilakukan bagi seluruh warga Indonesia. Sebab dengan mencintai bangsa dan negara maka keinginan untuk menghancurkan bangsanya akan teredam.
Budayawan sekaligus tokoh Muhammadiyah Syafi'i Maarif menambahkan, bom di Jakarta menjadi bukti aparat keamanan mengalami gagap dan tidak tegas. Padahal seharusnya BIN dan polisi memiliki data yang cukup terkait keamanan nasional. “Namun sayangnya tidak ada penanganan tindak lanjut. Negeri ini tidak pernah aman karena BIN sudah berkali-kali kecolongan. Jangan sampai isu adanya upaya penenggelaman data-data terorisme benar adanya. Jika benar, Indonesia sudah tidak beradab lagi,” tandasnya.
