HarianBernas.com – Nyaris setiap sarjana tentu membayangkan akan bekerja di perusahaan terkemuka, khususnya yang berembel-embel multinasional. hal tersebut juga yang telah dilakukan oleh Andi Taufan Garuda (28) asal Bogor.
Selepas lulus dari jalur Manajemen Business ITB pada 2008, Andi pun selanjutnya menjadi karyawan perusahaan multinasional yang diminati banyak anak muda Indonesia, IBM.
Namun ternyata niat Andi terbilang unik dikala bergabung bersama IBM. Dia bukan mau menguber prestise bekerja di perusahaan multinasional. Andi sedari awal bergabung justru mau 'mencuri' ilmu dari perusahaan yang telah berdiri sejak 1911 ini, khususnya soal manajemen. Ya, dari kuliah Andi maumemiliki bisnis sendiri.
Dua tahun Andi bekerja di IBM, dia selanjutnya memutuskan buat mengundurkan diri dari kantornya tersebut pada 2009. Selepas mengundurkan diri Andi mendirikan Instansi keuangan mikro bernama Amartha Microfinance di daerah Ciseeng, Bogor.
Bukan tanpa alasan Andi memilih daerah tersebut. Di pinggiran Bogor ini banyak penduduk kelas bawah yang tidak tersentuh Instansi keuangan canggih, yakni bank.
Tidak Hanya berbisnis, Andi memiliki maksud membantu golongan menengah ke bawah di daerah Ciseeng supaya terbebas dari rentenir. Dalam suatu perjalanan pada 2008 ia menyaksikan rakyat kurang mampu di daerah Ciseeng yang bekerja sebagai petani ataupun pedagang kecil banyak yang berutang pada rentenir dengan bunga tinggi.
Dengan aset tabungannya, ia pun memulainya dengan meminjamkan dana lunak pada lima orang peminjam. Seiring berjalannya waktu Andi juga mulai menemukan titik temu menjalankan bisnis Instansi simpan pinjam ini. Berawal dari lima orang tersebut, Andi saat ini telah mempunyai 5.000 nasabah.
Tetapi bukan perkara gampang bagi Andi buat mengawali busis ini. Mula-mula, ketika ia mengutarakan pada keluarga, mereka tak menyetujui konsep Andi ini.
Menurut keluarganya Andi seolah turun kelas dengan merintis usaha ini. Dari gedung perkantoran elit Jakarta, tiba-tiba ia mesti ?bergerilya? turun ke sawah atau ke pasar tradisional. Dengan tekad bulat, akhirnya ia mampu meyakinkan keluarganya.
Niat dan kerja keras Andi hasilnya berbuah manis kemudian. Bermodal awal Rp 10juta dan cuma mempunyai 5 nasabah, kini nasabahnya berlipat sampai seribu kali.
Dengan plafon pinjaman perdana Rp 1 juta, terbayang berapa omzet Amartha sekarang ini. Andi sendiri tidakingin membuka berapa omzet keseluruhan Amartha. Tetapi bersama menghitung plafon pinjaman dan jumlah nasabah, jumlahnya tentu telah mencapai miliaran rupiah.
Kala ini Amartha telah mempunyai lima cabang. Selain di Ciseeng, Amartha mempunyai cabang di Tenjo, Jasinga, Bojong Akbar dan Kemang. Saat ini Amartha telah memiliki 40 karyawan. Sebuah pencapaian yang luar biasa di lihat dari umur perusahaan yg belum terlalu lama.
Salah satu kunci penting Andi dan Amartha dalam mencapai sukses seperti saat ini ini yakni pemberdayaan komunitas. Sejak awal Amartha menetapkan target nasabah mereka adalah ibu-ibu dan itu masih berlaku hingga sekarang ini. Tidak Hanya menetapkan targetnya ibu-ibu, Amartha menetapkan sistem komunitas dalam mengembangkan bisnisnya.
Nilai tambah yang diberikan oleh Amartha merupakan edukasi pada para nasabah. Amartha senantiasa memberikan konsultasi dan edukasi pada nasabah. Contohnya mereka meminjam untuk busnis, Amartha akan membantu memberikan solusi uang itu buat usaha apa.
?Intinya Amartha membukakesempatan bagi para ibu-ibu buat berkreasi dan mengembangkan kemampuannya dalam berwirausaha, tetapi terbatas dalam masalah modaldengansystempinjamantidak dengan jaminan,? papar Andi.
Kerja keras Andi terbayar sudah sekarang. Bukan cuma jumlah nasabah yang bertambah, beragam penghargaan pun mereka terima. Beberapa kali ia mendapat penghargaan seperti Finalis Indonesia MDGs Awards, Finalis IPA Social Innovations and Enterpreneurship (Solve) Award, Penerima SATU Indonesia Award, Finalis Global Entrepreneurship Acara Indonesia (GEPI), Penerima Ashoka Young Change Makers Awards, dan terakhir Muda Berkarya.
