HarianBernas.com – Meditasi dan dzikir semakin dipercaya memberi solusi bagi persoalan manusia modern. Demikian juga yang dialami oleh Bu Ryryn, panggilan akrab Ryryn Purwanti Hadiyati Riningsih, seorang pendidik dari Klaten, Jawa Tengah.
Semasa menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA 3 Klaten, Ryryn banyak mendapati tantangan yang cukup berat. Mulai dari murid-murid yang kebanyakan anak-anak nakal sulit diatur, situasi sekolah yang berdekatan dengan terminal bis, dan lokasinya yang angker karena didirikan di atas kuburan.
Hampir tiap hari murid-murid di sekolah itu ada yang kesurupan. “Kebanyakan memang murid perempuan”, tutur Ibu Kepala Sekolah kelahiran Ternate 23 September 1956 ini. Rata-rata karena stres dan kurang perhatian menjadi penyebab mudahnya anak-anak kesurupan atau terkena gangguan makhluk gaib. Belum lagi lingkungan terminal juga kurang mendukung suasana belajar-mengajar dan menambah faktor stres.
Lalu apa yang awal dilakukan Ryryn menghadapi semua problem sekolah itu? Istri dari H. Heru Sardjono itu mengaku menjawab persoalan itu semua hanya dengan meditasi dan dzikir. Semua ujian diyakini Ibu ini datang dari Allah SWT, dan Tuhan juga yang memberi tahu solusinya. Setelah melakukan doa, dzikir dan meditasi memasuki alam keheningan, Ryryn mendapat ilham untuk melakukan puasa 40 hari lamanya. Benar juga, setelah ritual itu terlaksana, guru yang mengaku tomboy semasa mudanya ini merasa mendapat kekuatan dan pencerahan saat mengatasi semua masalah di sekolah.
Tidak tanggung-tanggung, Kepala Sekolah ini sendiri yang turun-tangan menyembuhkan murid-murid yang kesurupan. Lewat ketenangan jiwa meditasi, Ryryn mendoakan air sebagai media. Lalu diminumkan dan diusapkan ke wajah anak-anak didiknya yang sakit. Demikian juga saat melakukan konseling bagi anak-anak yang bermasalah.
Ryryn merasa disinilah manfaat meditasi dan dzikir terbesar, karena mampu memunculkan daya empati kasih sayang seorang pendidik lebih tulus untuk mengentaskan problem muridnya. Hubungan antara guru dan murid kemudian tercipta bagai orang tua dengan putra-putrinya.
Hebatnya lagi, keikhlasan dan kasih sayang yang dihasilkan dari kebeningan atmosfir meditasi/dzikir, mampu membangun suasana belajar-mengajar yang kondusif. Hanya dalam waktu 6 tahun saja, Ryryn bisa menghantarkan SMA 3 dari citra sekolah “buangan” ranking belasan di bawah menjadi sekolah favorit ranking tiga di Klaten.
