JAKARTA, HarianBernas.com – PT Bank Negara Indonesia Tbk mengincar pendapatan berbasis komisi (fee based income) pada 2016 akan tumbuh lebih dari 3%, mengingat pendapatan bunga bersih diperkirakan busa turun sebab orientasi bunga credit satu digit.
“Kami akan serius genjot fee based, karena marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) akan turun,” tutur Suprajarto, selaku Wakil Direktur Utama BNI, di Jakarta, pada Selasa (19/4).
Oleh sebab itu, bank plat merah itu mengincar kenaikan pendapatan komisi dari beraneka andalan jasa perseoran seperti perbankan elektronik (e-banking), perbankan dengan cara daring (internet banking), usaha card, pembiayaan perdagangan (trade finance) dan sumber-sumber komisi yang lain.
Tapi, kala disinggung apakah emiten berkode BBNI itu dapat menaikkan tarif jasa untuk menaikkan komisinya, Suprajarto tetap enggan membeberkan.
Sampai akhir Maret 2016, BNI mencatat pendapatan non bunga tumbuh 16 % jadi Rp2,21 triliun di bandingkan Rp1,90 triliun per Maret 2015. Pertumbuhan tersebut ditopang komisi dari pembiayaan perdagangan, pengelolaan Rek., business card & transaksi ATM.
Sedangkan pendapatan bunga BNI sendiri tumbuh 13,3% jadi Rp6,91 triliun dari masa sama di 2015 sebesar Rp6,09 triliun.
Pendapatan bunga bersih ini mejadi pembentuk laba BNI kepada trowulan pertama 2016 yang tumbuh 5,5% atau jadi Rp2,97 triliun. Marjin Bunga Bersih (NIM) BNI sampai triwulan pertama 2016 sbesar 6,1%.
Direktur Penting BNI, Ahmad Baiquni, pada awalnya, mengaku susah untuk mempertahankan NIM di atas 6%, di tengah upaya buat mendorong penurunan bunga credit ke satu digit.
Sampai akhir Maret 2016, merujuk suku bunga basic credit (SBDK) BNI, baru credit ritel yg berada di satu digit ialah 9,95%. Kredit Korporasi dan Kredit Mengonsumsi tetap bertahan di dua digit.
