SLEMAN, HarianBernas.com– Beragam jenis bambu yang dibudidayakan Dusun Tebonan, Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sukses tembus pasar dunia. Budidaya bambu ini sudah dikembangkan sejak tahun 2009, Minggu (22/5).
“Berbagai jenis bambu yang dibudidayakan di lahan seluas dua hektar ini di antaranya jenis bambu apus, bambu hias serta jenis bambu lainnya, termasuk bibit bambu hingga bambu siap tanam,” kata Indra Gunawan, pembudi daya tanaman bambu di Dusun Tebonan.
Indra mengatakan proses yang dipakai untuk budidaya tanaman bambu ini menggunakan teknologi “Culteru Jaringan”. Teknologi Culteru Jaringan dapat memperbanyak jenis ataupun bambu dengan melakukan proses iniasi, yaitu memilih bambu indukan yang sehat, kemudian bambu dipotong bagian tengah. Selanjutnya, dibawa ke laboratorium khusus dan steril untuk mencegah penyakit atau virus dari tanaman bambu.
Ia menuturkan bibit itu, kemudian dijemur dalam sebuah tempat penyimpanan berisi cairan khusus untuk menumbuhkan akar pada bagian ruas bambu. Proses ini memakan waktu hingga empat bulan. setelah tumbuh akar, dibawa ke lahan yang lebih besar selama tiga bulan. Dari proses 3 bulan ini, hanya 0,1 persen tanaman yang hidup dan tumbuh. Dalam 1 minggu, tempat pembudidayaan bambu Tebonan ini mampu memproduksi 5.000 bibit bambu.
Ia mengungkapkan bambu hasil budi daya ini tak hanya dijual secara lokal, tapi ke sejumlah negara yang memesan bambu hasil budi daya ini. Bambu-bambu ini banyak dipesan untuk bahan pembuatan tekstil dan kertas.
“Hasil dari budi daya bambu ini banyak dipesan dari sejumlah negara dari bibit tanaman bambu, bambu siap tanam, sampai dengan batang bambu berbagai jenis,” kata pembudi daya tanaman bambu di Dusun Tebonan ini.
Setiap bibit bambu dijual Rp10 ribu sampai Rp15 ribu, tergantung pada jenisnya. Budidaya bambu mampu meraup keuntungan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan, imbuh Indra.
