YOGYAKARTA, HarianBernas.com– Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta pastikan tidak beredar vaksin palsu di wilayahnya meski peredarannya disebutkan pelaku sampai ke Yogyakarta, Senin (27/6).
“Meskipun disebutkan pelaku bahwa mengedarkan vaksin palsu ke Yogyakarta, kami memastikan vaksin palsu tidak beredar di Sleman,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, di Sleman.
Bila vaksin palsu beredar hampir 13 tahun ke Kabupaten Sleman, akan terjadi kejadian luar biasa (KLB) dari dampak vaksin palsu, misal bila vaksin palsu beredar di Sleman, akan ada KLB kasus polio ataupun hepatitis. Buktinya sampai saat ini, di Sleman nol penderita polio. Namun, pihak Dinkes tetap akan menunggu penyelidikan dari kepolisian.
Seluruh vaksin di Sleman selama ini datang dari Dinas Kesehatan DIY. Dari pusat lalu disalurkan ke tingkat kabupaten, seterusnya ke puskesmas. Jenis vaksin yang beredar: DPT, Hepatitis B, BCG, Antipolio, dan campak, kata Mafilindati Nuraini.
Peluang terbesar peredaran vaksin palsu ada di klinik kesehatan swasta. Namun, klinik swasta di Sleman selama ini pun diperkirakan peroleh vaksin-vaksin dari puskesmas. Buat apa beli yang palsu karena tinggal mengajukan ke dinkes dan akan diberikan secara cuma-cuma, imbuh Mafilindati Nuraini.
Sejumlah klinik dan rumah sakit swasta di Sleman, ada yang membeli vaksin secara mandiri di luar untuk jenis uniject untuk hepatitis B. Vaksin jenis ini bisa didapatkan melalui dinkes, tapi secara ketat dibatasi untuk bayi usia 0-7 hari. Dinkes tidak melayani permintaan vaksin uniject melebihi batas usia bayi yang ditetapkan. Untuk itu, mereka lalu beli vaksin di luar.
Dalam catatan Dinkes, distribusi vaksin di Sleman setiap bulan capai 1490 HB uniject, 1500 vaksin TT untuk ibu hamil, 4.400 vaksin BCG, 3200 vaksin campak, 5700 DPT hB dan hiB (hepatitis B), dan 5000 vaksin IPT (polio injeksi).
