JAKARTA, HarianBernas.com – Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu membantah isu yang mengait-ngaitkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan PKI seperti pada masa pencalonannya sebagai presiden, Kamis (2/6).
“Ngawur, presiden itu bukan PKI, bayangkan waktu itu saya masih berumur 15 tahun dan Jokowi itu lebih muda 12 tahun dari saya. Artinya, saat itu tiga tahun umurnya. Masa umur tiga tahun PKI. Yang benar saja,” tegas Ryamizard di sela acara Simposium Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain, Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/6).
Menhan berharap Presiden Joko Widodo dengan bijak menyikapi persoalan prahara 1965 karena mencakup pertahanan negara. Jokowi memang dikabarkan menunggu hasil dari simposium yang diadakan oleh para purnawirawan TNI dan puluhan organisasi massa, tetapi juga tidak akan mengesampingkan Simposium bertajuk Membedah Tragedi 1965 yang sudah dilakukan.
“Bapak presiden itu harus bijak dalam persoalan ini. Lihat pihaknya siapa, baru dipertimbangkan benar tidaknya,” kata Ryamizard di sela acara Simposium bertajuk Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain.
Ryamizard menegaskan pemerintahan Presiden Joko Widodo kompak untuk tidak meminta maaf kepada anggota keluarga Partai Komunis Indonesia atau yang dilabeli PKI terkait prahara 1965.
Kendati demikian, Ryamizard mengungkapkan ada keinginan Presiden Joko Widodo untuk rekonsiliasi, tetapi bukan berarti meminta maaf atas nama negara.
“Bukan meminta maaf atas nama negara, maafnya pribadi saja. Kalau negara dengan yang kecil, tidak,” kata dia.
Menurut Ryamizard, Indonesia adalah negara besar sehingga tidak semestinya presiden minta maaf dengan suatu kelompok yang lebih kecil dari negaranya. Menhan mencontohkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang mengunjungi Hiroshima, Jepang, beberapa hari lalu.
“Di sana, pada 6 Agustus 1945, Amerika telah menghancurkan Hiroshima dengan bom atom, sehingga menelan sangat banyak korban jiwa. Obama secara pribadi menyesal namun apa melontarkan permintaan maaf kepada Jepang? Jawabannya tidak,” ucapnya.
Ryamizard menjelaskan Joko Widodo, seorang yang berjiwa Pancasila karena tercermin dalam pidatonya saat menyambut Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2016 kemarin.
“Pak Jokowi saya tahu tidak ingin macam-macam, dia (Jokowi) menegaskan pokoknya Indonesia harus Pancasila sampai kapan pun,” ungkapnya.
