YOGYAKARTA, HarianBernas.com- Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta setiap tahun selalu melibatkan 15 rumah sakit (RS) di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memberlakukan sistem kesiapsiagaan penanganan bencana alam, Minggu (12/6).
“Sistem kesiapsiagaan bencana ini (bertujuan) agar 34 rumah sakit tidak lagi gagap ketika ada banyak pasien secara bersamaan masuk akibat bencana alam,” jelas Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan DIY, Etty Kumolowati di Yogyakarta.
Program ini bertujuan agar setiap rumah sakit memiliki sistem penanganan korban bencana dengan baik dan tepat. Dalam program 'Hospital Disaster Plan', tak hanya masyarakat saja yang siap siaga, tapi RS juga siap siaga untuk menghadapi bencana, imbuh Etty.
DIY menjadi daerah “market” bencana. Ada sekitar 12 ancaman yang bisa terjadi sewaktu-waktu, misal gunung meletus, banjir, tanah longsor, kebakaran, kekeringan, gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, dan wabah penyakit. Selain itu, bencana bisa berasal dari konflik sosial atau kegagalan teknologi. Banyak bencana alam tidak bisa diprediksi. Erupsi gunung api, tanah longsor, dan banjirlah yang hanya bisa terpantau sehingga semua komponen harus siap siaga.
Kepala Staf Seksi Rujukan dan Khusus, Bidang Yankes Dinas Kesehatan DIY, Kudiyana menyebut program itu akan selalu diberikan kepada RS agar tidak terulang lagi kegagapan rumah sakit dalam menghadapi bencana, misal bencana gempa 2006 dan erupsi Merapi 2010. Peristiwa bencana alam tersebut menjadi pelajaran kita bersama.
?Pengalaman 2006, RSUP Dr Sardjito yang sebesar itu gagap ketika menghadapi bencana. Pada 2010 lalu pun, sempat gagap, tapi tidak separah sebelumnya,” terang Kudiyana.
Ketika ada sistem yang baik, penanganan pasien dalam jumlah banyak dan masuk secara bersamaan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) bisa baik, misal siapa yang pertama menanganinya. Jika kekurangan, sudah ada petugas yang melakukan 'backup',imbuh Kudiyana.
