SLEMAN, HarianBernas.com– Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, menghimbau masyarakat untuk membeli elpiji di pangkalan gas dengan harga sesuai HET, Selasa (7/6).
“Memang menerima laporan bahwa harga elpiji di tingkat pengecer berada di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp15.500. Namun, tidak memiliki kewenangan untuk mengatur harga di tingkat pengecer,” kata Kepala Seksi Pengembangan Energi, Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Purwoko Suryatmanto.
Penyebab harga gas lebih tinggi dari HET yang ditetapkan Pertamina sebesar Rp15.500 karena belum terealisasinya penambahan pangkalan gas bersubsidi 3 kilogram.
SDAEM Kabupaten Sleman sampai saat ini masih menunggu pemetaan dari Pertamina untuk menambah jumlah pangkalan elpiji di Sleman. Harapannya, warga Sleman tidak perlu membeli elpiji di penjual eceran. Saat ini, Pemkab Sleman mengajukan 30 pangkalan baru, imbuh Purwoko.
Di Sleman, saat ini ada 17 agen elpiji bersubsidi menyalurkan elpiji ke ke 1.365 pangkalan. Setiap pangkalan, di masing-masing kecamatan berbeda. Rencananya, SDAEM akan membuat pangkalan baru di wilayah seperti Minggir, Seyegan, Moyudan, dan Kalasan.
Saat ini, Pertamina mengeluarkan kebijakan baru, yaitu mengalokasikan 50 persen gas dari pangkalan langsung ke pelanggan, baru sisanya ke pengecer. Jadi, bila ada pangkalan yang menyalahi aturan, dilihat saja kontrak karyanya dengan Pertamina.
Menurut pengalaman Edang, salah seorang warga Margoagung, Seyegan, Sleman, membeli elpiji subsidi dengan harga Rp18.000. Elpiji itu dibeli dari pengecer atau toko klontong langganannya.
“Saya biasa mendapatkan gas tiga kilogram dengan harga Rp18.000, sudah sejak beberapa waktu lalu,” katanya.
