YOGYAKARTA, HarianBernas.com – Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kembangkan sistem peringatan dini kebakaran hutan, Rabu (15/6).
“Sistem deteksi berbasis satelit yang selama ini digunakan memang mampu mendeteksi kehadiran spot api, tapi tidak dapat memberikan informasi mengenai dimensi dari spot api tersebut,” terang Yusuf Ginanjar di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakata.
Sistem yang dikembangkan ini mampu mendeteksi kemunculan titik api dengan kerja lebih cepat untuk memberikan data informasi kebakaran, yaitu menemukan dimensi titik api di sebuah wilayah dengan sensor gelombang inframerah. Proses transmisi dengan memanfaatkan gelombang radio menjadi keunggulan dari sistem ini karena kondisi hutan yang umumnya sukar dijangkau sistem komunikasi lain.
Bila luas titik api telah melebihi 100 meter persegi, sensor sistem akan mengirimkan sinyal ke pusat pemantauan titik api untuk direspons dengan segera melakukan pemadaman titik api. Inisiatif mengembangkan teknologi peringatan dini itu muncul setelah melihat realitas kebakaran hutan di Indonesia.
Selama ini kebakaran hutan sudah terlanjur menyebar luas sebelum dapat dideteksi. Akibatnya, proses antisipasi menjadi sulit dilakukan. Titik api dengan luas 100 meter persegi berpotensi menyebabkan kebakaran hutan, tapi di bawah luasan tersebut, tidak berbahaya.
Yusuf dan keempat rekannya berharap alat ini dapat membantu upaya pencegahan dari bencana kebakaran hutan.Tiga rekan Yusuf lainnya yang ikut  mengembangkan sistem peringatan dini kebakaran, yaitu Karrina Swastikaningsih, Gewin Bestralen Muntoha, dan Ryan Tirta Saputra.
