HarianBernas.com – Di samping Korea Selatan, Jepang adalah negara di kawasan Asia yang penduduknya terkenal modis dan mengutamakan fashion dalam berbagai kesempatan.
Tak hanya mengutamakan fashion ketika hang out saja, bahkan di Jepang, para pelajar juga dituntut tampil modis dan fashionable ketika belajar di sekolah, menggunakan seragam khas Jepang yang terinspirasi seragam pelaut.
Terkait dengan tuntutan ini, pihak sekolah juga mewajibkan murid-muridnya khususnya para perempuan dengan aturan fashion tertentu, ketika pergi ke sekolah.
Hal-hal yang harus ditaati ketika di sekolah adalah:
1. Siswi wajib mengenakan kaus kaki panjang dengan tinggi mendekati lutut.
2. Rok yang dikenakan tak boleh terlalu panjang, maksimal menutupi lutut atau lebih ke atas lagi. Hal ini agar penampilan para siswi terlihat menarik.
3. Siswi harus memakai dasi seragam pelaut, dan pin seragam bila ada.
4. Siswa tidak boleh memakai perhiasan apapun, seperti kalung, cincin, atau anting-anting.
5. Siswa dilarang membawa handphone ke ruang kelas. Mereka hanya diperbolehkan memakai HP saat istirahat, dan mereka harus menggunakannya di kawasan parkir sekolah.
Apakah seragam sekolah siswi Jepang dari dulu seksi seperti sekarang ini? Ternyata tidak. The Asahi Shimbun menjelaskan bahwa zaman dahulu anak-anak perempuan Jepang memakai kimono ketika bersekolah. Ini tentu saja menyulitkan gerak-gerik mereka ketika beraktivitas, terutama saat berolahraga.
Rektor Fukuoka Jo Gakuin University, Elizabeth Lee, teringat dengan model seragam yang dipakainya ketika belajar di Inggris, yaitu sailor fuku atau baju pelaut. Tahun 1918, Elizabeth meminta seorang penjahit di Oota Toyokichi untuk menjahitkan baju atasan seragam anak-anak perempuan seperti yang dirancangnya. Jadilah baju sailor fuku yang mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah tahun 1920.
Tetapi baju pelaut itu ternyata robek ketika dipakai berolahraga, maka Elizabeth menyarankan agar dipasang resleting di bagian kiri/kanan baju dari arah ketiak. Namun resleting ini akhirnya tidak lazim dikenakan pada seragam sekolah siswi Jepang.
Kendala lain waktu itu adalah gerakan para siswi masih terhambat karena rok yang mereka pakai masih berbentuk lurus panjang. Elizabeth pun datang kembali ke penjahit dan menjelaskan agar dibuat rok yang memudahkan anak-anak bergerak. Penjahit mendapat ide membuat rok berlipat-lipat.
Ide ini muncul setelah melihat gorden yang tertiup angin namun setelah itu dapat kembali ke bentuk semula. Akhirnya dibuatlah rok lipat-lipat yang masih digunakan sampai sekarang.
Lambat laun rok yang dipakai para siswi Jepang semakin pendek. Apa penyebabnya? Banyak yang belum mengetahui siapa yang memulainya. Namun banyak yang menduga, pemakaian rok pendek dapat menjadikan pemakainya lebih cantik dan anggun saat dipakai. Dan itulah yang membuat siswi Jepang menjadi tertarik untuk memakainya.
