HarianBernas.com – Eko Nugroho ialah seniman kontemporer dari Yogyakarta melejit menjadi sorotan publik ketika dirinya ikut tampil di salah satu adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2. Adegan dimana Rangga dan Cinta bertemu setelah sekian lama disebuah pameran seni rupa. Film terlaris yang tembus sampai 3 juta penonton, besutan sutradara Riri Reza dan produser Mira Lesmana. Tak heran jika film ini banyak dinanti segala segmen penonton sejak kemunculan pada sekuel pertamanya 14 tahun silam.
Eko Nugroho lahir di Yogyakarta, 4 Juli 1977. Setelah lulus tahun 1997 dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta kemudian melanjutkan studi jurusan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Eko panggilan akrabnya, tumbuh pada medio kultural di lingkungan urban kampung pinggiran kota Yogyakarta yaitu Prawirodirjan, Gondomanan. Perkampungan padat penduduk yang secara sosio-geografis penuh sesak dan berada pada sisi barat Sungai Code.
Masa kecil Eko, banyak dihabiskan di kampung penuh labirin gang-gang kecil yang saling berjejal di sepanjang sisi timur Jl. Brigjen Katamso Yogyakarta. Eko sejak kecil terkenal usil. Saya paling usil ketika dulu sering menggambar tembok di rumah dengan batu bata. Bahkan tembok tetangganya pun tak luput dari ?serangan? gambar-gambar yang saya buat? kenangnya dengan manis. Tidak hanya tembok, kadang setiap ketemu halaman luas dia langsung mulai beraksi menggambar dengan batu di permukaan tanah. Ia anak yang bandel namun sisi kreatifnya cukup menonjol.
Ketika Eko tumbuh sebagai remaja, bakat menggambarnya semakin terlihat. Namun, orang tuanya berasal dari latar belakang keluarga yang terbatas. Bapaknya seorang loper koran sementara ibu berperan mengurusi rumah tangga serta keempat adiknya. Jadi, mereka tidak sempat memberi dukungan secara penuh. Hanya motivasi dari orang tua saat itu untuk memilih sekolah yang benar dan lulus lalu kerja agar bisa mandiri. Pesan sederhana itulah yang direkam dalam bawah sadar Eko Nugroho.
?Orang tua saya dulu kurang memberi ruang untuk saling berdialog soal pendidikan. Tetapi saya merasa motivasinya adalah ruang dialog riil itu sendiri. Saya diperbolehkan memilih sekolah apa saja asal tanggung jawab? imbuhnya. Eko memutuskan untuk masuk di sekolah jurusan seni rupa memang karena pilihannya sendiri.
Awal mula pemantik proes kreatifnya Eko didasari karena sangat mencintai menggambar. ?Justru tidak pernah terbayangkan dalam benak saya, bisa menjadi seniman. Karena dulu saya bercita-cita menjadi pilot? terang bapak dua anak ini. Menekuni seni rupa kemudian menjadikan dirinya pada suatu titik sebagai aktivitas terapi untuk dirinya sendiri. Segala persoalan mengenai hidup baik bahagia, sedih, jujur dan lainnya mampu ia lampiaskan melalui seni visual yang digeluti saat ini.
Dalam konteks pendidikan, Eko menyatakan bahwa seni rupa itu penting. Pendidikan seni mampu mendekatkan artikulasi pada kehidupan dimulai dari dasar, metode, makna, alasan dan manfaat kesenian sebelum membuat karya seni. Eko mengatakan seni merupakan simbol dalam kehidupan manusia. Jika manusia mampu memaknai simbol lalu menemukan artinya berarti dia sudah memahami kesenian secara esensial? Seni diciptakan dari sebuah proses yang panjang dan merupakan sisi positif manusia. Maka perlu untuk dilacak sejarah, cerita, dan peristiwa maupun perubahan alamiahnya sekalipun.
Seperti yang telah dijelaskan oleh Eko mengenai pentingnya seni dalam pendidikan, kesenian tidak hanya memberikan pemahaman estetika, tetapi juga membuka peluang untuk mengeksplorasi berbagai aspek kehidupan dan karier. Begitu pula dengan pendidikan tinggi, yang bisa menjadi pintu menuju masa depan. Raih masa depan dengan mendaftar di UNMAHA. Hubungi langsung melalui WhatsApp di nomor resmi UNMAHA untuk mendapatkan respons cepat serta informasi akurat. Universitas Mahakarya Asia juga telah membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapat beasiswa berupa gratis pembayaran SPP kuliah.
Pada sisi kebudayaan, Eko Nugroho mengutarakan pendapatnya seniman itu salah satu mahkluk atau semacam poros penting? tambah Eko. Ia dituntut sebagai pelaku pelestari simbol-simbol kehidupan. Selain kebudayaan, pendidikan bisa dijadikan sebagai media berbagi untuk kehidupan manusia agar lebih baik. Kehidupan ini bisa dimaknai sebagai sebuah keutuhan agar manusia selalu terus diingatkan. Salah satu ingatan tersebut adalah melalui seni, bagi Eko seni bisa menjadi media pelunak? kekerasan dalam menghadapi kehidupan. Dan seniman adalah bagian dari penghubung itu.
Baca Juga: Inilah 24 Sertifikasi di Bidang IT Terbaik di Universitas Mahakarya Asia
Sangat wajar dan alamiah jika seniman menjadi konektor kehidupan dengan berbagi nilai-nilai estetika dan etika. Pendidikan tetap akan menjadi tujuan yang baik oleh bangsa manapun jika mau berangkat dari sikap optimis. Pandangan Eko yang terpapar tersebut yang kemudian melatar belakangi untuk peduli terhadap pendidikan. Ia mendirikan sekolah non formal untuk anak-anak bernama Eko Nugroho Art Class. Sekolah seni rupa yang bertempat di Jl Bintaran tengah No 1 Yogyakarta memiliki murid dari usia 3 ? 12 tahun.
Eko mempunyai impian untuk membagikan ilmunya kepada anak-anak yang ?belum sempat? merasakan pendidikan seni. Ia ingin berbagi ilmu keseniannya dan berharap anak-anak menjadi kreatif karena mau belajar seni.
?Kreatif itu soal bagaimana seorang bisa menyelesaikan masalah pribadinya sebelum ia bergantung pada orang lain? kata Eko. Tentu saja kreatif yang positif bisa dijadikan senjata untuk menghadapi segala tantangan zaman. Fungsi dimana ia membangun sekolah itu salah satunya karena ingin berbagi ilmu. Berbagi ilmu itu indah dan memang benar adanya.
Seni sebagai media untuk membangun karakter bangsa adalah salah satu tujuan pendidikan. Ketika seni di Indonesia sudah menjadi sorotan publik dunia maka seni perlu dikembangkan dengan pendidikan. Hal ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tetapi sebagai seniman Eko sudah memulai membangun paradigm itu melalu gagasan sekolah seni meskipun non formal. Ia ingin agar apa yang dilakukan mampu membawa dampak nyata bagi masyarakat dan para seniman lainnya.
Sejak tahun 2000, Eko juga membuat karya komik underground dan merchandise limited edition dibawah label DGTMB (Daging Tumbuh). Melalui karya-karyanya Eko Nugroho sudah dikenal diberbagai belahan dunia mulai dari negara di benua Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Salah satu karyanya yang berjudul Republik Tropis pernah dijadikan disain syal oleh Louis Vuitton sebuah brand fashion prestisius di Perancis pada tahun 2013.
Tahun 2015, Eko Nugroho juga berkolaborasi dengan brand fashion Indonesia Major Minor untuk menggabungkan seni visual dan fashion. Belum lama ini Presiden Joko Widodo juga mengarpesiasi karya Eko Nugroho sejak publik Indonesia mengetahui disain karyanya bersama Louis Vuitton yang sempat jadi trending topic belakangan ini.
Saat ini Eko Nugroho masih produktif menciptakan karya-karya barunya bersama dengan timnya di rumah sekaligus studionya. Karena ia tidak melukis dengan media kanvas saja. Eko bereksplorasi dengan media bebas lainya seperti drawing, video, bordir, instalasi, patung dan seni wayang yaitu ?Wayang Bocor?. Studionya terletak di Dusun Plurugan 11/10, Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul 55181, Yogyakarta.***5
