HarianBernas.com – Manajemen waktu biasanya dikenal dan dikaitkan untuk kebutuhan individu yang kemudian dikaitkan dengan kebutuhan organisasi. Pertanyaannya kini adalah, bisakah konsep manajemen waktu ini diterapkan dalam bisnia skala kecil? Jawabannya, tentu saja!
Mari memahami bersama bahwa sebagai bagian dari kehidupan, kita semua terikat oleh waktu, dan dibatasi dengan 24 jam dari pukul 00.00 hingga mencapai pukul 00.00 lagi. Artinya, dalam 24 jam tersebut jika dari sudut pandang kehidupan maka perlu diatur sedemikian rupa sehingga kehidupan menjadi bermakna. Apalagi ketika pada saat sekarang ini, dimana mayoritas dari kita menjalankan ibadah puasa dalam Bulan Suci Ramadan.
Penulis yakin tanpa sadar kita menjadikan ibadah puasa sebagai “kambing hitam” atas ketidakmaksimalan pemanfaatan waktu, karena dikaitkan dengan setiap umat yang menjalankan ibadah ini harus bangun di pagi buta untuk sahur, dan kemudian ada ibadah lainnya yang bertujuan untuk menambah kualitas pahala seseorang. Padahal semangat bulan suci ini sebenarnya adalah masa terbaik mengimplementasikan manajemen waktu yang ideal. Tulisan ini akan membawa pembaca pada bagaimana manajemen waktu yang ideal untuk bisnis skala kecil. Kenapa bisnis skala kecil? Berikut kisah dibaliknya.
Mas Mul dikenal sebagai pedagang bubur keliling di komplek tempat saya tinggal. Meski Mas Mul “hanya” berjualan bubur gerobak, tapi apa yang dijalankannya masuk dalam kategori bisnis skala kecil. Apa yang dilakukan oleh Mas Mul pada usahanya adalah sebagai berikut, dari hari Senin hingga Jumat, dia berjualan dengan cara memutari komplek seluas kurang lebih dua hektare, jadi bisa dibayangkan oleh kita, berapa lama waktu dan potensi pelanggan yang ia dapatkan dari komplek yang rata-rata terbangun rumah ukuran 200 meter persegi.
Bagaimana dengan Sabtu dan Minggu? Rupanya khusus dua hari ini Mas Mul punya “pangkalan” yang berlokasi bersama dengan pedagang lainnya, kebetulan di sebuah taman di dalam komplek, yang menurut Mas Mul akan ramai dengan kunjungan orang yang berolahraga pagi dan jarang yang pergi sendirian (alias bersama keluarga atau beramai-ramai).
Menjelang Ramadan, saya dan keluarga yang selama tinggal di komplek merupakan salah satu penikmat bubur Mas Mul “iseng” bertanya “kalau bulan puasa nanti masih dagang mas?”. Dengan senyum, Mas Mul menjawab “aku pulang kampung Bu, selama sebulan, daripada sepi”. Kemudian penulis timpali dengan candaan “wah mas, berarti cari uang 11 bulan, sebulan istirahat ya mas”. Kali ini jawaban Mas Mul “iya mba, 11 bulan cari uang, satu bulan libur di kampung, balik ke Jakarta ya nol lagi deh” sambil diselingi dengan tertawa ringan.
Apakah harus demikian yang dialami Mas Mul pada setiap memasuki bulan Ramadan? Tentu tidak!
Bagaimana kemudian? Kembali lagi ke judul, yakni manajemen waktu. Ingatlah bahwa kita sebagai makhluk hidup perlu mengkonsumsi makanan, sehingga tidak mungkin bagi manusia untuk tidak berusaha memenuhi. Untuk seorang pebisnis (meskipun skala kecil), tetap harus memperhatikan konsumen untuk kuliner tidak pernah hilang.
Hanya perlu menyesuaikan dengan kondisi, dalam hal ini misalnya pada momentum Ramadan, konsumsi akan bergeser mulai pada saat berkumandang azan Maghrib hingga menjelang sahur kembali. Artinya ada pergeseran waktu, yang kalau dihitung-hitung dari segi waktu, rupanya sama saja. Sekarang, terkait menu, apakah relevan untuk seorang Mas Mul untuk berdagang bubur di malam hari?
Mengapa tidak, dan hal ini juga ada dipraktikkan oleh pebisnis skala kecil di beberapa daerah tertentu yang menjalankan bisnis buburnya 24 jam, ingatlah bahwa manusia perlu makan dan makanan adalah suatu hal yang wajib dipenuhi. Dengan begitu, Mas Mul tidak perlu mengalami ritual “11 bulan kerja, 1 bulan dihabiskan”, karena adanya penyadaran bahwa peluang selalu ada terlepas dari waktu berbisnis yang kemudian perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada.
