HarianBernas.com – Inilah beberapa tips yang dapat menambah referensi penulis ketika hendak menulis berdasarkan jenis-jenis tulisan beserta dengan strukturnya.
1. Tulisan ilmiah
Tulisan ilmiah adalah tulisan yang memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis yang kuat. Dari sinilah kita bisa membuat kerangka berpikir untuk nantinya diuraikan lagi ke dalam beberapa bab dengan riset yang mendalam.
Metodologi penelitian dan deviasi juga mesti dapat diuraikan dengan sangat jelas, jika perlu nantinya akan dikuantifikasikan. Tulisan-tulisan ilmiah diantaranya disertasi, tesis, skripsi, serta artikel-artikel di dalam jurnal-jurnal ilmiah.
Kekuatan, ketajaman serta kejernihan berpikir sangatlah menentukan hasil akhir yang sering berat dan terasa datar karena adanya segala macam unsur subjektif yang harus diminimalisir, terutama yang dapat menimbulkan logika yang miring.
Tulisan semacam ini ialah tulisan yang memang berdasarkan nalar dan pikiran. Hal ini semakin diperkuat dengan pengujian-pengujian hipotesa dan segala macam tes logika yang miring. Tulisan ini memang mengandalkan pikiran, hampir tidak menggunakan unsur perasaan alias subjektifitas, kecuali jika ada bias latar belakang penulisnya dan ilmu yang sedang atau telah dipelajarinya.
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya
2. Tulisan opini
Ini semi-semi ilmiah tetapi terdapat unsur subjektifnya yang besar karena penulis dapat bebas memasukkan sudut pandang menurut hatinya. Struktur tulisan-tulisan opini sering dimulai dengan introduksi yang dapat juga berbentuk kalimat tanya atau suatu asumsi.
Kesimpulannya tinggal menjawab pertanyaan yang ada di paragraf awal atau cukup mengiyakan atau menyangkal asumsi. Sehingga tubuh artikel akan lebih memerlukan banyak data dan pengolahan pikiran.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
3. Tulisan ngepop
Tulisan ngepop idealnya memang tetap ada pendahuluan, isi, dan kesimpulan. tetapi jika dirasa tidak cukup tempatnya karena terlalu singkat. Maka cukup menuliskan beberapa ide pokok saja. Tidak perlu menulis bertingkat jika memang tidak memungkinkan. Hal ini jelas mengandung subjektifitas yang sangat tinggi dan Anda bisa memuji atau bahkan mencaci dengan tanpa banyak halangan.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
4. Tulisan jurnalistik
Terdapat lebih dari satu standar penulisan jurnalistik. Salah satunya adalah standar yang dipakai adalah standar The Associated Press dari Amerika.
Inti dari standar ini ialah paragraf-paragraf disusun berdasarkan kepentingan. Semakin penting sebuah informasi maka akan diposisikan di bagian teratas. JIka semakin tidak terlalu penting serta bisa dengan mudah disingkirkan tanpa mengubah arti dan kredibilitas reportase, maka akan ditaruh semakin di bawah. Hal ini bertujuan untuk menghemat waktu editing.
Reportase ditulis dengan tidak memasukkan unsur-unsur subjektif, kecuali bias alami berdasarkan latar belakang penulisnya atau media yang sedang diwakilinya. Dari membaca artikelnya sendiri, penulis hampir tidak ada bias yang dapat ditarik secara eksplisit.
Baca juga: Mengenal Pengertian dan Ciri-ciri Komik sebagai Karya Sastra
5. Tulisan jurnalistik “feature”
Jurnalistik ‘feature’ biasanya pernah dipraktekkan di sekolah. Caranya adalah dengan memberikan pengantar, tubuh, serta kesimpulan. Pengantarnya dapat berbentuk ringkasan dari tubuh artikel, dapat juga kalimat tesis, termasuk kutipan yang mewakili isi dari tubuh artikel itu sendiri.
Tubuh artikelnya juga dapat berbentuk cerobong, piramida terbalik, ataupun pipa. Tulisan ini pun tidak banyak mempunyai aturan.
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
