Sleman, HarianBernas.com- Bupati Sleman, Yogyakarta, Sri Purnomo menyebut sampah dapat bernilai ekonomis bila dikelola profesional, tapi bisa menjadi masalah bila tidak bisa mengelola, Selasa (9/8).
“Menyikapi sampah dibutuhkan sinergisitas dan upaya bersama dari seluruh pihak, pemerintah, stakeholder, dan masyarakat yang berperan sebagai subjek ataupun objek,” jelas Sri Purnomo di Hari Lingkungan Hidup se-Dunia.
Salah satunya mengelola sampah dapat melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yaitu mulai mengelola sampah terutama sampah plastik, menggunakan tas ramah lingkungan saat belanja, memilah sampah organik dan anorganik. Tujuannya, agar pengelolaan sampah dapat lebih mudah, jelas Bupati Sleman.
Sampah organik bisa dijadikan kompos sebagai media tanam, sedangkan sampah anorganik bisa digunakan untuk kerajinan atau dijual.
“Terakhir, untuk residu sampah, dapat dibuang ke TPA dengan memanfaatkan pelayanan pengangkutan UPT kebersihan BLH,” imbuhnya.
Permasalahan sampah ini akan optimistis teratasi dengan metode 3R apabila seluruh masyarakat memiliki kesadaran dan kedisiplinan untuk menerapkannya.
“Sebagai salah satu Kabupaten di DIY dengan jumlah penduduk yang padat, sampah menjadi tantangan yang memerlukan perhatian lebih,” ucapnya.
Total sampah Kabupaten Sleman setiap hari rata-rata 2.500 meter kubik/hari bila dihitung dari jumlah penduduk Sleman. Jumlah tersebut dapat lebih besar bila dihitung dari aktivitas yang terjadi di Sleman karena Sleman merupakan daerah pendidikan dan wisata dengan jumlah penduduk tidak tetap yang tinggi.
Menurut data Badan Lingkungan Hidup DIY, total tumpukan sampah di Sleman sebesar 8.000 meter kubik per hari dengan 60 persennya sampah plastik. Di Kabupaten Sleman saat ini telah mempunyai 200 kelompok pengelola sampah dari tingkat RT.
“Diharapkan keberadaan kelompok-kelompok pengelola sampah ini dapat menjadi pionir pengelolaan sampah,? ucapnya.
