HarianBernas.com – Drs.Keliek J Soegiarto, saat ini banyak aktif di bidang pendidikan, khususnya untuk tingkat prasekolah (pre-school) dan sekolah dasar (primary secondary).
?Saya mengelola sekolah Mutiara tingkat Playgroup-TK-SD-SMP. Saya juga mengelola Blue Dolphin Pre-School yang bersifat internasional. Lebih banyak sebagai guru, konsultan pendidikan, dan sebagai salah satu pemilik. Selain itu, memberikan, mengubah mindset tentang kehidupan, motivasi, nilai-nilai kehidupan, inspirasi-inspirasi pendidikan melalui training kepada guru-guru,? ungkapnya kepada Harian Bernas (26/10).
Pria kelahiran Jogja ini awalnya tidak ingin menjadi seorang pendidik karena berlatar belakang pengusaha sebelumnya. ?Kemudian, saya bersekolah di IKIP Sanata Dharma, Jurusan Bahasa Inggris. Nah, dari situ, saya harus melakukan Praktek Pengalaman Lapangan. Sekitar itu tahun 1975, saya harus mengajar di sekolah di Stella Duce, lalu praktek mengajar Santa Maria. Dari situ, saya merasakan bahwa menjadi guru itu menarik sekali. Akhirnya, saya memutuskan menjadi guru.
Pengalaman unik lainnya, jadi saya merasakan begini, pada saat saya bekerja di meja, hal-hal yang saya lakukan lebih bersifat rutin. Namun, kalau saya mengajar orang atau menjadi guru, saya menghadapi situasi yang setiap saat selalu berbeda karena berhadapan dengan orang yang selalu berbeda, baik saya pernah mengajar di SD, SMP, SMA, atau Mahasiswa di Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Sanata Dharma.
Saya merasakan sesuatu yang membuat tetap senang dengan pendidikan. Saya bisa menjadi suatu inspirasi atau mengubah suatu mindset seseorang untuk menjadi lebih baik. Itu yang saya rasakan. Contohnya, saya sudah mengajar 41 tahun,? paparnya menemukan ketertarikannya menjadi pendidik.
Pemilik cita-cita waktu kecil ingin menjadi pilot ini memiliki satu pandangan tersendiri tentang menjadi guru. ?Saya itu tidak mungkin sebagai seseorang bisa mengubah dunia dan mengubah negara, kecuali presiden, tapi kan saya punya siswa SMP,SMA, dan mahasiswa. Di situ, saya sebagai guru bisa menanamkan nilai-nilai kehidupan pada mereka.
Kalau saya punya satu siswa atau mahasiswa saja berubah hidupnya karena saya. Itu sudah menjadi suatu kebanggaan. Tidak usah dua ratus. Satu saja. Kenapa, karena yang satu ini nanti akan mengubah yang lain. Saya sudah banyak buktikan. Saya banyak memliki banyak siswa yang sampai hari ini menjadi partner atau rekan saya dalam kehidupan ini, misalnya saya mempunyai Blue Dolphin Pre-School, sekolah yang kita dibangun bersama-sama dengan murid SMP saya tahun 77,? urainya.
Mantan Distric Governor Rotary Club of Mataram Yogyakarta ini membagikan pengalaman unik di bidang pendidikan. ?Saat mendirikan sekolah Mutiara Persada. Waktu itu, saya ada di Bandung. Umur anak saya hampir 3 tahun. Kami sudah mendapatkan sekolah yang bagus. Ketika itu, saya harus pulang ke Jogja karena Ibu saya sakit keras sebagai anak harus pulang untuk mengelola bisnis keluarga.
Di Jogja, saya menemukan suatu kesulitan untuk memilihkan sekolah untuk anak saya. Waktu, saya harus meninggalkan profesi guru dan dosen di Bandung. Ibu (Istri) juga meninggalkan profesinya sebagai guru di Bandung.
Sebetulnya, hidup kami sudah mapan dengan profesi guru, tapi tiba-tiba harus pulang ke Jogja. Saya langsung masuk ke Sanata Dharma. Menjadi suatu masalah ketika akan memasukkan anak saya ke sekolah. Saya mencari sekolah yang tepat untuk anak saya, tidak bisa menemukan. Jadi, anak saya sampai pindah sekolah sampai tiga sekolah. Kemudian, kami berpikir-pikir, kenapa tidak membuat sekolah saja. Karena kami membandingkan Bandung, waktu itu tidak cocok dengan sistem, situasi sekolah, dan masih dikelola dengan tradisional dan fasilitas apa adanya.
Sekolah Mutiara Persada ini berawal dari kekecewaan kami karena kami tidak bisa menemukan sekolah yang sesusai dengan pandangan kami. Kecewa yang positif akan membangun dan itu yang selalu saya lakukan,? paparnya.
Past Distric Governor Rotary Club of Mataram Yogyakarta ini juga membeberkan permasalahan yang sering dihadapi dalam kesibukannya mengurusi sekolah-sekolahnya. ?Kalau finansial pasti ya. Kalau bicara finansial, sekolah itu bukan institusi yang mencari keuntungan. Kalau mau dihitung kan gampang, berapa jumlah siswa, berapa uang sekolah, kan ketemu angkanya.
Setahun ini sekolahan ini dapat berapa? Tinggal menghitung gampang sekali. Lain dengan bisnis yang besok bisa dapat satu juta, besok sepuluh juta, lusa tiga puluh juta. Kalau sekolah kan jumlah siswanya kan tetap, jadi penerimaannya sama.
Menyikapinya pintar-pintar me-memanage keuangan ya karena sekolah bukan instansi mencari keuntungan, tapi harus untung dong. Kalau tidak untung, sekolah pasti bangkrut dan tutup. Kita harus berjuang mengatur keuangan sedemikian rupa sehingga harus ada kelebihan,? bebernya.
Selain itu, penyuka hobi berpetualang ini juga menyinggung tentang permasalahan untuk menyelaraskan antara tujuan pendidikan sekolah dengan tujuan pendidikan orangtua kepada anak-anaknya. ?Misal, kalau kita berbicara pre-school, pre-school itu kan tidak dianjurkan anak diajar untuk membaca dan berhitung karena pres-school masa anak-anak bermain.
Di dalam bermain, anak-anak belajar nilai-nilai kehidupan. Tapi, realita, orangtua menuntut anak-anaknya selesai pre-school bisa menulis, menghitung, dan membaca. Kenapa karena pada saat anak masuk SD, salah satu yang dibutuhkan kemampuan anak yang bisa menulis, membaca, dan berhitung. Di sini kan ada gap, di sini tidak boleh diajar, tapi dituntut kebutuhannya. Menyikapinya, dengan memberikan permainan, yang ada huruf H. Nah, di situlah anak akan mengerti huruf H. Sebagai sekolah harus pintar-pintar, tetap menyesuaikan perkembangan anak yang usianya bermain, tapi pada saat yang sama, juga harus mempersiapkan mental mereka untuk bisa memahami apa yang harus dilakukan di masa depan,? terangnya.
Alumni Sanata Dharma ini menjelaskan tentang tantangan dunia pendidikan. ?Sekarang kita menyekolahkan anak untuk apa. Orientasinya, lulus-kerja. Kerja di mana, pekerjaan yang sifatnya bekerja dengan orang lain, di kantor, di bank, atau PNS. Mindset yang masih banyak dipegang banyak orang.
Padahal, sekolah itu kita belajar untuk menghadapi masa depan, masa depan kita sendiri sebagai manusia yang lebih baik, bukan untuk menjadi pegawai. Saat ini banyak digalakkan entrepreneurship atau selfindependence. Sekolah itu mendidik anak untuk bisa menemukan diri sendiri. Dari temuan dirinya sendiri, ia bisa menentukan hidupnya yang akan datang lebih baik itu seperti apa,? jelasnya.
Pengagum sosok Ayah dan Ibu ini menegaskan bahwa sekolah Mutiara Persada selalu mengandaikan seorang anak itu memiliki kapasitas dan kemampuan sendiri-sendiri. ?Satu prinsip yang kami pegang, tidak ada anak bodoh, tidak ada anak malas, dan tidak ada anak nakal. Kalau ada anak tidak bisa, bukan karena dia tidak bodoh karena hanya belum tahu,? ucapnya.
Ia pun mengungkapkan alasan mengapa menekuni dunia pendidikan. ?Karena punya passion di bidang pendidikan itu. Karena saya punya kesempatan untuk bisa menanamkan nilai-nilai kehidupan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Tidak ada yang lain kecuali passion.
Sampai hari ini, saya masih mengajar, mendidik, dan mengurus kurikulum. Saya sedang membangun kurikulum Mind Synergic Transformation Curicculum. Kami berpandangan bahwa pengembangan otak itu terjadi bersama-sama, tapi harus dilakukan secara sinergi. Dari otak belajar bahasa, dari kemampuan bahasa mereka menguasai ilmu-ilmu yang lain. Akan dipakai Juni tahun 2017,? tukasnya.
Ia pun merasa penting bahwa yang dilakukannya ini penting dibagikan kepada masyarakat karena bisa berperan serta untuk menyiapkan murid-muridnya menjadi dirinya sendiri dan manusia yang lebih baik. ?Saya tidak menuntut menjadi doktor, dokter, profesor, insinyur, atau apa. Itu hanya gelar akademik, gelar profesional. Tapi, saya ingin anak ini mampu mengenali dirinya dan menciptakan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan kapasitas masing-masing,? katanya mantap.
Penulis kata-kata positif dan motivasi ini membagikan inspirasinya. ?Saya hanya punya satu kalimat: ?Pasrah, tapi Jangan Pernah Menyerah?. Kalau orang Jawa, pasrah konotasinya negatif. Saya punya satu prinsip hidup pasrah, tapi tidak pernah menyerah. Artinya, saya menjalani hidup ini pasrah. Saya serahkan semuanya pada Tuhan. Maunya Tuhan apa sih. Apapun kesulitannya saya pasrah, bukan berati diam, tapi tetap berjuang dan berusaha serta berdoa,? jelasnya.
Pendidik ini membeberkan rencana project terdekatnya dan impiannya. ?Membangun sekolah Mutiara Persada ini sampai tingkat SMA. Untuk Blue Dolphin membuka sekolah-sekolah di kota-kota Indonesia. Di Bali sudah membuka dua. Dua hari lagi opening satu Blue Dolphin lagi di Sunter Jakarta. Rencana akan mendirikan lima di Jakarta. Merintis di daerah Sumatera, Kalimantan, dan daerah lain. Impiannya, sekolah-sekolah saya bisa berkembang semaksimal mungkin dan seoptimal mungkin. Berguna untuk anak-anak sehingga menjadi dirinya sendiri dan lebih baik, termasuk mendirikan sekolahnya di seluruh Indonesia,? paparnya.
