HarianBernas.com– Bahar Buasan, ST, MSM, MSc memulai kisah perjalanan hidupnya sebagai anak kecil penjual sayur dan kue keliling, lalu ketika kuliah, menyambi kenek dan tukang batu, menjadi karyawan sampai menjadi pebisnis sekaligus anggota DPD/MPR RI.
?Hidup saya tidak akan menjadi seperti ini tanpa kegigihan, pendidikan dan kesempatan. Jalan hidup saya tidak akan semulus ini jika tidak disertai dengan kebiasaan berbagi hal yang kita sayangi. Tidak ada hidup yang mudah, tapi selama kita menjalaninya dengan tulus dan ikhlas maka semuanya akan menjadi indah,? ungkapnya ke Harian Bernas (24/10).
Karena anggota DPD RI ini memiliki beragam pengalaman mulai dari bertani menanam sayur, menjual sayur dan kue keliling, kenek, tukang batu, karir profesional, menjalani bisnis, hingga politisi, banyak orang yang bertanya kepadanya, apa yang sebenarnya kau cari Bahar? ?Dalam hidup, saya banyak belajar dari filsafat hidup Nenek yang memberikan semangat luar biasa bagi saya.
Beliau mengatakan, ?Kita boleh miskin, tetapi kita harus sekolah. Jangan takut kepada orang yang tidak bisa, takutlah kepada orang yang tidak mau. Jangan takut beli barang mahal, orang beli banyak kita beli sedikit, selera tetap sama. Maju terus pantang mundur!? Berbekal kemauan keras, pintu menuju sukses diyakini akan selalu terbuka,?urainya.
Berbekal filsafat hidup neneknya, ia memiliki empat prinsip yang selalu dipegang dalam hidup. Dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang membawa saya bertransformasi dari anak-anak yang berjualan kue dan sayur keliling menjadi pekerja di beberapa perusahaan, lalu mencoba peruntungan menjadi pebisnis dan menjadi politisi. Keempat prinsip dalam hidup Bahar Buasan, yaitu:
Prinsip Pertama: Kegigihan
Perjalanan karir mantan Presiden Asosiasi Manajemen Indonesia ini tidak dimulai dari usia produktif. Masa karirnya dimulai dari kecil. Ketika kecil dulu, sebelum sekolah, ia membantu Ayah dan Ibu bertani dan berjualan sayur keliling. Ia juga pernah membantu nenek berjualan kue sambil sekolah. Hal ini dilakukannya untuk membantu kehidupan keluarga, lelah? Tentu saja. Namun, demi membantu meningkatkan kehidupan keluarga, ia lakukan dengan semangat. ?Sudah terbiasa dengan belajar sambil bekerja sedari kecil, pada tahun 1985, saya memberanikan diri untuk hijrah ke Bandung dan mengenyam pendidikan di Kota Bandung.
Bermodal tekad yang keras, saya berkuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Mandala (STTM), jurusan Teknik Sipil sambil menyambi pekerjaan menjadi kenek dan tukang batu. Meskipun hanya kenek dan tukang batu, tapi saya mengerjakannya dengan sangat semangat dan gigih. Berkat kegigihan saya, tawaran pekerjaan tidak berhenti mengalir kepada saya. Tercatat pernah bekerja di beberapa perusahaan besar, seperti PT Bandung Asri Mulya, PT Delami Garment Industry, PT Adhimega Kreasi Cipta, PT Pulau Intan Baja Perkasa, Sriwijaya Air, dan Asuransi Wahana Tata,? paparnya.
Prinsip Kedua: Pendidikan Adalah Nomor Satu
Salah satu prinsip yang menempel kepada mantan Penasehat Asuransi Wahana Tata ini sejak kecil adalah kita boleh miskin, tetapi kita harus sekolah. Meski mengalami masa kecil yang cukup memprihatinkan dan saat bersekolah harus membantu Ayah dan Ibu berjualan sayur dan Nenek berjualan kue hingga menjadi kenek dan tukang batu saat sekolah, baginya pendidikan harus terus dikejar dan ingin belajar hingga tidak bisa lagi belajar.
?Pada saat kuliah, meskipun sambil bekerja, saya tetap kuliah. Sekolah boleh terhambat, tapi jangan harap aku berhenti karena apa yang sudah kita mulai harus kita selesaikan, terutama dalam hal pendidikan. Kebanyakan orang melepaskan sekolah jika sudah mulai bekerja, tapi tidak untuk saya karena bagi saya pendidikan adalah kunci utama dari kehidupan seseorang. Seseorang mungkin bisa sukses walaupun tanpa pendidikan, tapi saya percaya apabila ia sekolah maka ia akan lebih sukses lagi karena saya percaya betul apa yang dikatakan oleh Nenek saya ?Kita boleh miskin, tapi harus sekolah? dan jika saya tambahkan ?Meskipun keadaan hidup sudah lebih baik, tetaplah harus sekolah?. Kegigihan saya dalam sekolah dan mengenyam pendidikan juga saya buktikan bahwa di usia saya yang sudah tidak muda lagi. Saya masih mau meneruskan kuliah ke jenjang master. Meskipun saat itu saya sudah menjadi anggota DPD RI Periode 2009-2014 dan 2014-2019, tapi kecintaan saya terhadap pendidikan belum pudar. Tidak tanggung-tanggung saya mengambil dua master sekaligus di dua universitas terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia (UI) dengan jurusan Ilmu Manajemen dan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan jurusan Ketahanan Nasional, bahkan di Universitas Gadjah Mada saya mendapatkan beasiswa,? bebernya.
Prinsip Ketiga: Tak Kubiarkan Nasiku Berceceran
Petani menanam padi, padi ditumbuk menjadi beras. Beras dicuci dan ditanak hingga menjadi nasi. Nasi ditaruh di atas piring. Seringkali, dibuang sebagian.
Mantan General Sales Agen Sriwijaya Air ini bercerita kira-kira seperti itulah nasib beberapa butir nasi yang tidak habis dimakan, padahal mungkin dari beberapa butir tersebut menyimpan energi yang dapat kita gunakan sebagai energi dan tenaga cadangan untuk kegiatan dan masih banyak orang yang masih menderita kelaparan. ?Bagi saya sangat sayang untuk melihat nasi dibuang. Dari filosofi nasi tersebut, saya petik nilai bahwa peluang tidak boleh disia-siakan. Peluang apapun di depan matamu, ambilah karena bisa jadi peluang itu yang akan membawamu ke satu tempat.
Dalam kehidupannya dari kenek tukang batu sampai duduk di gedung MPR, semua ia lakukan karena melihat dan mengambil peluang yang ada. ?Saat saya mendaftar dan diterima untuk melanjutkan kuliah di UI, di bulan yang sama, saya juga mendapat mendaftar dan tidak kebetulan saya diterima, bahkan mendapat beasiswa di UGM. Keduanya, saya anggap peluang dan saya ambil dan jalani. Dalam berbisnis pun, setiap saya melihat peluang yang mampu saya kerjakan,tidak adakan saya sia-siakan dan saya kerjakan sesuai dengan kemampuan. Seperti di dalam bisnis, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bisnis saya beragam mulai dari bidang konstruksi, interior-furnitre, dan sekarang sedang belajar merintis bisnis baru, yaitu dalam bidang cookies dan pastry berlabel ?Oma Atjit?. Bisnis-bisnis tersebut tidak datang dengan tiba-tiba, saya melihat ada peluang, saya ambil, saya lakukan dengan gigih, sungguh-sungguh, dan pantang menyerah. Saya tidak membiarkan nasi saya berceceran,? jelasnya.
Prinsip keempat: Aku Memberi Apa yang Kumiliki dan Kusayangi
Sejak masih hidup susah, mantan Direktur PT Pulau Intan Baja Perkasa Konstruksi ini sudah terbiasa dengan membantu orang lain. Baginya membantu orang lain tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya, tapi bisa dilakukan oleh semua orang karena beramal, berdonasi, dan membantu sesama tidak selalu dengan memberikan uang. ?Berikanlah apa yang kau miliki dan kau sayangi maka hal itu akan menimbulkan kebahagiaan. Pertama, berikanlah senyum. Kedua, berikanlah tenagamu. Ketiga, berikanlah darahmu. Keempat, berikanlah ilmumu. Kelima, berikanlah jantung pisang (hal yang kadang-kadang tidak bermanfaat). Saya mengilustrasikan jantung pisang kala itu, kalau tidak kita petik akan jatuh dan rontok dan jadi sampah, tapi kalau kita petik dan berikan kepada orang menyukai atau membutuhkan maka akan menjadi sebuah nilai tambah dan manfaat di dalam kehidupan sosial sehari-hari karena barang yang tidak bermanfaat bagi kita atau orang tertentu, bisa saja bermanfaat bagi orang yang memerlukannya,? terangnya.
Bagi alumni UI dan UGM ini, kegiatan berbagi dilakukan bukan hanya sekedar ketika kita memberikan sedikit dari hal berlebih yang kita punya, tapi lebih kepada ketika kita tulus dan ikhlas memberikan sesuatu yang kita punya dan kita sayangi. Di situlah esensi keihklasan dalam memberi menjadi dirasakan. ?Saya setiap pulang ke daerah asal saya di Bangka selalu menyempatkan diri untuk melakukan donor darah. Tercatat sudah lebih dari 88 kali saya melakukan donor darah. Selain itu, dalam setiap kesempatan, saya selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dan bercerita bersama orang banyak orang sebagai ajang bertukar ilmu. Apa yang saya ketahui akan saya coba berikan kepada masyarakat. Saya menyebutnya BBM: Belajar Bersama Masyarakat dan kalau dipelesetkan BBM menjadi: Bahar Buasan Melayani,?tukasnya.
