Sleman, HarianBernas.com- Upacara adat, Saparan Bekakak digelar meriah masyarakat Ambarketawang, Kecamatan Gamping setiap bulan Safar dalam kalender Jawa, Jumat (18/11).
Kirab dimulai dengan bregodo ogoh-ogoh (raksasa) berwarna hitam kelam. Simbol sosok makhluk jahat pengganggu kehidupan manusia, lalu bekakak diarak menuju Gunung Gamping di Pedukuhan Gamping Kidul dengan dikawal 37 bregada (prajurit tradisonal) dan kelompok kesenian.
Agenda budaya ini rutin di gelar setiap tahun sejak tahun 1755. Pesta adat budaya ini dilaksanakan untuk mengenang jasa abdi dalem kesayangan Sultan Hamengku Buwono I ketika bertahta di Keraton Ambarketawang, yaitu Ki Wirosuto
Dukuh Gamping Kidul, Ambarketawang, Bambang Cahyono menyebut bahwa bekakak menjadi wujud boneka sepasang manusia sebagai perwujudan sosok Ki Wirosuto dan istrinya. Sepasang boneka ini dibuat dari nasi ketan berisi gula jawa.
Konon, pasangan tersebut hilang secara misterius lalu meninggal karena diganggu makhluk halus penunggu Gunung Gamping saat mencari batu gamping di Gunung Gamping untuk material pembangunan Keraton Yogyakarta saat ini.
“Setelah kejadian itu, Hamengku Buwono I memberi titah kepada rakyat setempat agar menggelar Saparan Bekakak. Selain untuk mengenang jasa pasangan abdi dalem kesayangannya, sekaligus upaya menghindarkan ancaman bahaya untuk warga,” jelasnya.
Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo mengapresiasi upaya masyarakat dalam melestarikan nilai kebudayaan tersebut.
“Saparan Bekakak menjadi atraksi wisata yang menarik dan menjadi perhatian masyarakat,” ucapnya.
Gusti Prabukusumo menyebut pemerintah daerah perlu 'memetri' budaya ini dengan mempertahankan nilai adatnya.
