HarianBernas.com – Sebagai dosen geografi, Paradigma Archipelago menjadi pemikiran yang penting dan telah dikembangkan, serta dilakukan oleh Prof. Dr. Muhammad Baiquni, MA, baik di dalam konteks berbagai ekspedisinya selama 33 tahun yang lalu maupun sampai menjadi guru besar di bidang geografi regional dengan pidato ?Paradigma Archipelago?.
Pendiri Sekolah Rakyat Berdulat ini teringat ketika masih mahasiswa melakukan ekpedisi ke Pulau Lombok, NTB di tahun 1983. Sejak saat itu, ia suka berkelana dan menjadi bagian dari proses-proses pencarian keilmuan yang tidak hanya belajar di kelas atau di sekolah. ?Kita bisa meng-alam, mengalami, dan menjadi pengalaman. Itu kata kunci untuk bisa belajar bersama di ilmu geografi secara praktis ataupun konseptual. 33 tahun yang lalu itulah yang kemudian sampai sekarang terus saya kembangkan dan pada pidato pengukuhan saya tahun 2014, saya mengangkat tema ?Paradigma Arciphelago? sebagai suatu pandangan pembangunan geografi regional yang tepat untuk didasarkan kepada keragaman alam dan budaya. ?
Pidato itu merupakan refleksi dan konseptualisasi dari lapangan. Ia kemudian mendirikan pecinta alam di geografi bernama Gegama bersama kawan-kawan, lalu melanjutkan ekspedisi ke Irian Jaya, Jaya Wijaya tahun 1984. Waktu itu adalah ekspedisi Gadjah Mada 84, ekspedisi pertama secara lintas fakultas. Dari perjalanan-perjalanan semacam itu melahirkan banyak pemikiran dan juga tulisan-tulisan. Pada tahun 85-86, saya menjadi ketua Mapagama, UGM. Tentu, sebagai mahasiswa, dengan kegiatan yang banyak, terutama berkelana dan berpetualang itu menyebabkan kuliahnya panjang agak lama.?Namun, semua itu menjadi pengalaman saya sebagai pembelajar geografi yang betul-betul dengan mata kaki, mata kepala, dan mata hati. Mata kaki, artinya kita harus menjalani jalan ke lapangan. Dengan mata kepala, harus membaca. Mata hati harus kita sambungkan antara ilmu-ilmu yang kita pelajari dengan Sang Pemilik Ilmu, Allah SWT.?
Berkaitan dengan perkembangan-perkembangan pembangunan yang mutakhir, modernisasi ternyata telah membuat monokulturisasi pembangunan. Pembangunan- pembangunan di mana-mana sama, dsb. Padahal, faktanya, di lapangan itu, sosial budaya kemasyarakatannya itu beragam sekali sebagai negara kepulauan dengan alamnya juga beragam. Sumber daya yang tersedia, juga akses, dan berbagai aspek mengenai bentuk wilayah, ini juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, banyak kita menyaksikan kegagalan-kegagalan pembangunan karena didesain dari Jakarta bersifat monokulturiasasi, kemudian dilaksanakan seolah-olah lapangan itu sama padahal kenyataannya beragam. Dari sanalah kemudian muncul kritik-kritik pembangunan sehingga perlu ada solusi. ?Salah satunya yang saya tawarkan, dengan mengembangkan integrasi ekonomi dan ekologi di dalam konteks alam dan budaya negara kepulauan yang Bhineka Tunggal Ika. Di samping itu, juga penting untuk dikembangkan kepemimpinan dan leadership yang berbasis dan berakar pada komunitas, berakar pada kebudayaan dan sosial masyarakat setempat.?
Jejaring STARS untuk Pariwisata Berkelanjutan
Pria kelahiran Surakarta ini bersama kawan-kawannya juga mengembangkan The STARS (Sustainable Tourism Action Research Society), suatu masyarakat yang melakukan riset aksi mengenai pembangunan pariwisata berkelanjutan. Sejak menjadi Mapala yang berpetualang di alam bebas, ia tertarik terhadap kajian-kajian kepariwisataan di pusat studi pariwisata.
Di sana, ia banyak bersentuhan dengan para peneliti, pebisnis yang didorong bersama-sama agar pariwisata kita lebih cerdas mengatasi berbagai hal persoalan. ?Pariwisata itu juga mengandung tonik (penyegar)dan toxic (racun). Kita menambah toniknya, kesegarannya, sekaligus mengurangi toxic atau dampak negatifnya. Itulah upaya-upaya kita yang bisa dilakukan melalui diskusi di WA Group dengan saling berbagai pengalaman atau menggunakan forum atau diskusi seminar series setiap bulan dan setiap tahun, kita diupayakan ada seminar nasional.?
Tahun 2016 ini, seminar nasional bertema tentang GeoPark direncanakan akan digelar hari Sabtu, 24 September nanti. Juga direncanakan international conference dan workshop The STAR untuk tahun 2017. Dengan harapan, kegiatan pariwisata bisa menambah nilai tambah dari sumber-sumber yang ada baik alam dan budaya di tingkat masyarakat dengan kepengusahaan yang baik dan berjejaring sehingga kita mendapatkan satu manfaat yang lebih berguna bagi masyarakat. ?Itulah upaya saya bersama kawan-kawan mengembangkan grup The STARS.?
Leadership Kepemimpinan Bumi di SDGs
SDGs (Sustainable Development Goals) merupakan satu agenda PBB yang diluncurkan awal tahun 2016 sampai 2030. Agenda-agenda Sustainable Development Goals akan mengisi pembangunan berbagai negara di seluruh dunia. ?Tetapi, bukan kita akan melaksankan secara global itu sendiri, tapi kita memulainya sendiri dari tingkat desa. Bagaimana agenda-agenda SDGs itu bisa diimplementasikan pada tingkat komunitas dan pada tingkat masyarakat sehingga kita bisa melakukannya dengan berbagai pengalaman yang empiris, yang itu akan menjadi bagian dari proses pengkayaan keragaman dari pembangunan di Indonesia yang beragam dan Bhineka Tunggal Ika.?
Penulis buku ?Pembangunan yang Tidak Berkelanjutan, Refleksi Kritis Pembangunan Indonesia? ini juga mengembangkan satu tema tentang Kepemimpinan Bumi. Tema ini penting untuk dikembangkan karena di dalam pembangunan, setiap komunitas, level, atau kelompok perlu ada kepemimpinan atau pemimpin. ?Saya sebagai fellow Leads karena pernah mengikuti training Leadership for Environment and Develompent disingkat Leads selama dua tahun (1999-2001), training ini memberi penguatan bagi saya untuk banyak melakukan pengkaderan dan pengembangan kepemimpinan. Akhir-akhir ini, saya mencoba mengkonseptualisasikan dikawinkan dengan Astabrata, kepemimpinan dengan sifat-sifat alam semesta yang memang dikembangkan dalam budaya Jawa. Sebenarnya itu merupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam berbagai peradapan masa silam dan masa depan. Pemimpin itu seperti matahari yang bersemangat, seperti air yang mengalir menyejukkan, seperti angin yang hadir di mana-mana, seperti bintang yang menunjukkan arah.?
Sejak dikembangkannya dari Millenium Development Goals (MDGs) ke SDGs pada Januari 2016, ada satu seminar series yang selalu diadakankan setiap bulan di Fakultas Geografi UGM untuk membahas berbagai aspek-aspek bagaimana implementasi SDGs itu dalam perspektif SDGs geografi yang diaplikasikan dalam tindakan nyata. ?Kita mencoba mempersuasi atau mengontak beberapa lokasi untuk pengembangan ini, baik di desa maupun di kota secara terpadu dan secara nyata kita implementasikan konsep agenda SDGs ini. Harapannya, para mahasiswa bisa memahami isu-isu global tentang SDGs yang dikembangkan oleh UN di berbagai negara maupun dalam aplikasi nyata dan tindakan nyata. Inilah pentingnya kepemimpinan yang diharapkan bisa membuat perubahan-perubahan menuju lebih baik ke dunia yang lebih adil, lebih sejahtera, dan berkelanjutan.?
