HarianBernas.com – Sigit Riyanto adalah seorang General Manager (GM) Sambi Resort. Ia memulai karirnya di bidang jasa perhotelan karena berkat hobinya bermain bola. Banyak bertemu dengan rekan-rekan yang memberikanya jalan pilihan sampai akhirnya menjabat sebagai seroang GM.
Sigit selama meniti karirnya mendapat dukungan dari keluarganya. Mereka memberikan semangat dari lubuk hati yang paling dalam. Disamping memang saat itu fakto ekonomi memberi pengaruh terhadap kreativitas mensiasati hidup dan bagaimana mengelola strategi hidup.
Orangtua Sigit seorang pedagang. Ia pun tidak ingin membebankan segala sesuatunya terhadap keluarga. Khusunya ketika dirinya harus sekolah dan fasilitas lainnya.
Sejak kecil ingin menjadi Penerbang di Angkatan Udara Republik Indonesia. Hanya karena pada saat itu harus ada persyaratan diluar kemampuan yang tidak bisa terpenuhi maka pupus sudah impiannya. Sigit merasa bahwa peranan orangtua sangatlah penting. Ia selalu ingat nasehat orangtuanya ?le aja kaya wong taumu, rekasa,? ucapnya. Hal itu sebenarnya adalah motivasi yang besar baginya. Agar ia mulai membangun kesadaran dan motivasinya supaya melebihi orangtuanya. Bukan karena tidak bisa bersyukur tetapi motivasi inilah harus dipantik sebagai api diluar orang lain sudah melakukan pada umumnya.
Sigit ingat betul bahwa momen karirnya mulai menunjukan sesuatu ketika dirinya mendapat tawaran untuk sekolah di bidang perhotelan. Bahkan kesempatan tersebut dating hanya karena dirinya memiliki hobi bermain bola. Bukankah ini sebuah keberuntungan yang belum tentu dirasakan orang lain.
Bagi dirinya, bermain bola bukan lagi sekedar kesukaan saja atau hobi. Sepak bola bagi Sigit ada media untuk melatih skill dan mengembangkan karakter melalui aspek sportivitas. Menjadi seorang pemain sepak bola buka soal dimana ia mudah saja diatur tetapi perlu ada pembebasan diri untuk melatih skill agar kelak ia bisa menjadi pemain dengan sendirinya.
?Berawal dari dunia sepak bola saya dikenalkan dengan orang yang notabene saat itu tidak punya basic di perhotelan,? kenangnya. Akhirnya ia ditawari untuk menambah kegiatan tidak sekedar sepak bola saja yaitu menambahkan ilmu belajar tentang perhotelan. Ibaratnya perhotelan itu sama dengan sepak bola. Kerja sebuah tim harus dilakukan karena sudah saling kenal dan saling bisa merasakan hal yang sama.
Dunia perhotelan itu identik dengan dunia melayani. Sementara melayani adalah sifat yang mulia. Sama halnya ketika kita melayani orangtua kita dan mereka senang, itu baginya sudah merupakan sedekah melalui sikap. Sampai pada akhirnya orangtua Sigit berpesan ketika ia menempuh studi perhotelan itu ?jangan lupa untuk ibadah, jangan lupa sedekah dan, jangan lupa memberi rasa senang pada orang lain,? terangnya.
Dalam hal pelayanan, Sigit pernag terinspirasi dari seorang sahabatnya yang mempelajarti filsafat. Sahabat tersebut pernah berujar ?besok akan ada masanya dimana manusia akan sibuk mejadi pelayan karena sebagian di dunia ini sudah diambil orang lain. Semua yang ada didunia ini akan diambil oleh orang-orang yang mempunyai duit.?
Bekerja di dunia perhotelan sering ketemu orang baru dari berbagai kultur dan karakter. Hal ini juga membawa dampak bagi karir dan kehidupannya. Namun, yang menjadi tantang terberat bekerja di hotel karena harus bisa menjaga konsistensi mood. ?Seorang yang melayani itu harus memiliki mood yang agar bisa menata hatinya dan pikirannya supaya bisa genuine,? imbuhnya.
Membangun kebiasaan disebuah lingkungan sosial dimana seorang itu bekerja membutuhkan kejelian. Seperti yang terus ia proses sampai sekarang ini bahwa baik pekerja baru maupun lama harus selalu dihargai dalam konteks loyalitas, usia, dan profesionalitas. ?Rasa hormat itu ketika sampikan ke orang-orang bekerja lebih dulu maka dia ketika berbuat baik dengan nilai 5. Dan yang menerima perbuatan kita akan memberi nilai lebih dari 5,? terangnya.
Dalam kondisi sosial manusia diciptakan untuk saling bersosialisasi. Apa dan siapa kondisi kita yang sekarang adalah bagian dari pengaruh lingkungsan sosial. Nilai itu soal bagaimana memilih dan memilahnya. Lingkungan sosial dalam konteks pekerjaan, secara tidak langsung menjadi inspirator dan mentor bagi siapapun sekaligus memberikan wawasan komprehensif. Dalam hal ini, nilai sosial memberikan bumbu yang cukup komplit untuk bisa bercermin.
Sigit masih teringat betul ketika sahabatnya Muhammad Sofian yang belajar filsafat itu menyampaikan nasehat padanya pada saat belum bekerja. ?Dikatakan bekerja yang penting tidak jumlahnya tapi berkahnya. Saya berusaha mencari tahu dari maknanya, memang ketika melihat jumlahnya berapapun akan kurang, tetapi ketika melihat dari berkahnya kita akan merasa cukup,? tegasnya.
Sebenarnya mungkin sesuatu yang natural yaitu pilihan bekerja sangat banyak sekali, namun bagi Sigit bekerja yang menyenangkan itu dihotel. Ketika kita bekerja dihotel jangan membandingkan berat dan ringan, jangan pernah takut untuk bertanya, jangan pernah takut untuk diperingatkan atasan, dan loyalitas terhadap waktu. Dengan itu orang akan menjadi orang yang biasa-biasa saja.
Impian terbesarnya yang sedang dikejar kelak yaitu saya ingin membuat konsep diri saya ini mempunyai usaha diman usaha itu tidak terlepas dari perhotelan. Untuk saat ini memang menjadi seorang mandiri dalam dirinya sendiri memang menjadi angan-angan saya. ?Jangan pernah takut untuk berbuat salah karena dengan kesalahan itu maka kita akan menjadi orang yang lebih baik? Dalam konteks ini khilaf dan ketidaksengajaan itu pasti akan dialami siapapun. Kalau untuk mencapai sebuah titik yang akan kita capai selalu mencari kebaikan yaitu introspeksi dan bangun serta mencari sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin.
