HarianBernas.com – Agus Sumartono, SSi saat ini fokus menjadi anggota dewan di DPRD Yogyakarta. Di luar sebagai anggota dewan, ia banyak melakukan kegiatan sosial. ?Dengan teman-teman mengelola yayasan seperti yayasan pendidikan, mengelola radio komunitas, mengelola rumah-rumah Quran, dan membuat sekolah-sekolah pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, misal membuat usaha kecil di masyarakat sesuai potensinya dan pemberdayaan misal mengadakan acara tentang literasi media dan kepustakaan. Intinya, hal-hal yang bermanfaat dengan masyarakat dengan potensi yang ada di masyarakat sendiri,? ungkapnya kepada Harian Bernas.
Ia pun tak memungkiri peran orang-orang di sekelilingnya atas apa yang dicapai saat ini. ?Orangtua punya peran. Orangtua saya itu guru. Kebetulan bapak ibu saya itu sering membawa buku-buku ke rumah. Saya sudah bisa membaca saat umur enam tahun dan membaca buku tebal-tebal, misal buku dari Pak Karno, yang judulnya ?Sarinah?, ?Di Bawah Bendera Revolusi?, dan buku-buku tokoh-tokoh masyarakat.
Guru-guru saya, baik formal maupun non-formal, istri, dan teman-teman berperan. Menurut saya, setiap orang punya kebaikan-kebaikan yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita. Mungkin orang biasa saja ada hal-hal kecil yang menarik untuk diambil pelajaran,? jelasnya.
Karena banyak membaca buku, ia mulai berpikir tentang melakukan perubahan di lingkungan. Saat SMP umur 13 tahun, punya rancangan untuk membuat revolusi, yaitu rancangan perubahan untuk mengubah lebih baik lagi bagi bangsa dan negara. ?Titik baliknya, karena bacaan itu, saya suka mengamati lingkungan. Banyak membaca tentang buku Revolusi Amerika, Revolusi Indonesia, atau perubahan masyarakat. Saya lihat bukan dari sisi kekuasaan, tapi bagaimana orang itu bisa melakukan perubahan ke masyarakatnya dengan lebih baik dan pelakunya itu kan banyak, ada rakyat biasa, tokoh, dll,? urainya.
Hal yang menarik dari pria kelahiran Kudus ini adalah suka melihat pemilu. ?Pertama kali melihat Pemilu pada tahun 77 dengan dinamikanya. Saya sering mendengar bagaimana masyarakat atau orang dewasa waktu itu bercerita atau berkomentar tentang urusan yang lebih besar lagi ke masyarakat. Nah itulah yang kemudian menjadi titik balik di pikiran saya, saya mulai berpikir tentang melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan saya ataupun bangsa waktu itu. Pikiran-pikiran politis mulai tumbuh di usia itu,? terangnya.
Dalam perjalanan hidupnya, yang paling berkesan dan menarik bagi Alumni Universitas Gadjah Mada ini adalah ketika menggunakan hak suaranya untuk nyoblos tahun 1987. ?Saya merasa menjadi bagian sebuah negara, bagian yang menentukan negara. Dulu ketika melihat kampanye waktu kecil, dulu kan cuma tiga (parpol), tangannya harus dipegang. Kalau yang lewat no satu, ya dipegang satu. Tiga ya tiga,? ucap ceritanya.
Dulu, ketika sudah punya hak pilih, ia mengakui tidak pernah ikut partai politik walapun ikut terlibat. ?Masa tertentu, pernah tidak menggunakan hak politik karena pada masa Orde Baru penuh rekayasa. Siapa yang jadi, sudah terasa. Tahun 97, saya gunakan hak pilih lagi ketika Bapak Mohammad Natsir meminta, ?Ya sebaiknya orang Islam memberikan hak pilihnya, sedikit atau banyak bisa memberikan kontribusi?. Perjalanan berikutnya, lebih banyak aktivitas bersifat sosial. Ketika beraktivitas sosial yang terkait dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan, akhirnya ketika reformasi, bersama teman-teman mendirikan partai,? tuturnya.
Selain pengalaman berkesan menyoblos, ketika bencana alam wedhus gembel Merapi yang abunya mengarah ke daerah Turgo, ia bersama beberapa teman berpartisipasi membentuk tim, kemudian melakukan pendampingan. ?Sampai lama itu. Sampai pasca pemulihan, kemudian beberapa warga direlokasi. Kita langsung berhadapan pada urusan yang riil, terkait dengan bagaimana kita mengembalikan dan menata sebuah komunitas masyarakat yang mengalami guncangan dan harus mulai bangkit lagi. Tahun 1998, juga ikut turun berdemo,? tukasnya.
Ketika ditanya tentang permasalahan yang sering dihadapi saat ini, Sarjana Biologi, Universitas Gadjah Mada ini menjawab bahwa masalah itu selalu ada dalam kehidupan kita. ?Kita Cuma harus berpikir positif bahwa setiap persoalan akan bisa diubah tergantung kita. Itu memantik saya untuk selalu mencari cara menyelesaikan persoalan, entah itu di pribadi atau di problem masyarakat. Kadang memang membutuhkan kesabaran. Kata orang, yang pemenang adalah orang yang masih bisa bertahan bersama dengan permasalahan dan menyelesaikannya, bukan yang kemudian mundur atau kalah,? jawabnya.
Untuk tantangan yang dihadapi, mantan guru di Pondok Pesantren di Mualimin ini memaparkan bahwa pada awalnya, tantangan terbesar berada di keluarga. ?Keluarga itu berharap anaknya itu kan sebagaimana umumnya orang, sekolah, kemudian bekerja, bisa membangun keluarga yang mapan. Saya belum pernah melamar kerja di PNS. Jadi, karena pikiran-pikiran saya adalah pikiran tentang perubahan maka bagaimana saya bisa melakukan perubahan di titik apa yang sudah saya lakukan di sekitar kita. Tantangan idelisme saya dengan keinginan lingkungan. Tantangan antara idealisme kita dengan realita sosial politik itu tidak selalu sama,?paparnya.
Ketika ditanya apakah bidang pekerjaannya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat, Pengurus DPW PKS DIY ini memandang bahwa setiap profesi itu penting. ?Di sebuah kehidupan, ada bagian yang memang harus diurus. Kita hidup sebagai bangsa dan negara, kita punya kebutuhan yang banyak. Ada suatu bagian yang kita urus, jadi mereka yang akan mengambil kebijakan-kebijakan penting bagi masyarakat dan negaranya. Ini juga harus kita urus supaya nanti bisa menghasilkan produk-produk pelayanan dan produk-produk kebijakan yang sesuai dengan harapan banyak orang. Ini yang membuat menjadi penting. Kita tidak berharap meminta Pemerintah untuk memulai, kecuali kita ikut dalam pengambilan kebijakan supaya mendapatkan hal yang lebih baik,?bebernya.
Ia pun memiliki habit khusus yang dibangun untuk mendukung bidang pekerjaannya. ?Suka membaca sejak kecil sampai sekarang dan berkebun. Saya suka menanam dan memelihara ternak. Dengan itu, kita bisa belajar tentang kehidupan dan memberikan manfaat,? jelasnya.
Ketua Partai Keadilan Bantul ini membagikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini. ?Kehidupan kita kadang keras dan tidak sesuai dengan harapan kita. Saya ingat pesan orang bijak, ambilah hal-hal lain yang bermanfaat dengan sedikit merenung, dzikir, membaca, atau berkebun. Kita tidak boleh berhenti berharap karena harapan itu selalu ada. Kita ambil bagian dari harapan itu dengan membuat suatu hal yang baik. Mudah-mudahan hal yang baik ini memunculkan kebaikan-kebaikan yang lebih besar. Saya sendiri tidak pernah merancang sukses seperti ini. Kita punya keyakinan tentang harapan itu dan kita harus yakin untuk mencapai itu,? katanya.
Pengagum sosok Nabi Muhammad sebagai guru dalam perubahan menyebut ada dua cara untuk melihat lingkungan, yaitu lingkungan yang inspiratif itu akan memberikan warna pada kehidupan saya. Lingkungan yang kata orang tidak memberikan nilai tambah juga menjadi tantangan untuk bagaimana saya bisa melakukan sesuatu pada lingkungan itu.
Pencapaian yang paling membanggakan baginya adalah sesuatu yang dikerjakannya bermanfaat bagi orang lain sehingga cukup mendatangkan kebahagian untuk dirinya.
Project dalam waktu dekat pemilik cita-cita ingin menjadi penjaga suaka margasatwa ini adalah memiliki sekolahan. ?Saya ingin mengembangkannya di lingkup pendidikan. Membuat buku. Saya punya radio, semoga menjadi lembaga media yang memberikan manfaat yang baik. Saya ingin punya pusat-pusat pelatihan masyarakat di tiap tempat sehingga masyarakat bisa berlatih apa saja untuk bisnis dan pengembangan diri,?pungkasnya.
