HarianBernas.com – Tiada kesuksesan dapat diraih tanpa usaha keras dan doa. Ungkapan ini terasa pas mewakili sosok Karina Arifiani Haryadi Suyuti. Putri pertama Haryadi Suyuti dan Tri Kirana Muslidatun ini usianya memang baru 23 tahun. Masih terhitung muda namun sudah menyandang gelar dokter. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) ini punya masa depan cerah.
Semua itu tidak lepas dari peran kedua orang tuanya. Karina, sapaan akrabnya, mengakui ia tidak bisa apa-apa tanpa bimbingan dari Allah SWT melalui kedua orang tuanya. ?Saya percaya rida Allah itu rida orang tua. Jadi sekeras-kerasnya saya, tetap manut orang tua, katanya.
Pengalaman Berkesan Karina
Belasan tahun Karina mengalami banyak pengalaman berkesan dibesarkan sebagai anak tunggal. Ini karena adiknya, Kartika Zahra Salsabila, lahir 11 tahun kemudian. Selisih waktu yang cukup lama. Bisa dibilang hidup saya bersama ibu, karena sebelum di Jogja kan bapak di Jakarta dan selalu pulang setiap minggu. Dan setiap akhir pekan waktunya pasti buat keluarga,? katanya.
Menurut Karina, ibunya bukanlah sosok ibu rumah tangga yang stay at home mom. ?Ibu saya bekerja dan pekerjaannya juga banyak. Jadi, saya dari kecil melihat kedua orang tua saya itu sosok pekerja keras tetapi mereka tetap nomor satukan keluarga. Itu yang saya sangat amazing dari bapak dan ibu,? puji Karina.
Didikan dan Bimbingan Orang Tua
Berkat bimbingan orang tuanya yang pekerja keras, secara otomatis sikap ini tertanam pada diri Karina. Sejak menjalani masa-masa sekolah, mulai dari TK Syuhada, SD Muhammadiyah Sapen, SMAN 1 Yogyakarta maupun di Fakultas Kedokteran UGM, Karina sudah memikirkan cita-citanya ke depan. Ia menyukai tiga hal, yakni kesehatan, akademis dan bisnis. Dari tiga itu, pilihannya jatuh ke bidang kesehatan. Meski keras hati apabila punya keinginan, lagi-lagi Karina tidak mau memutuskan sendiri pilihannya. Bimbingan dari orangtua adalah nomor satu.
Baca Juga: Inilah 10 Sertifikasi di Bidang SDM yang Ada di Universitas Mahakarya Asia
Prinsip saya satu. Mau berapa lama lagi sih saya bisa nyenengin orang tua. Jadi sekeras-kerasnya saya ketika bapak dan ibu sudah bilang nggak dan ketika sudah mentok, ya sudah, saya manut. Kembali lagi, berapa lama to kita bisa menyenangkan orangtua,? katanya.
Selalu Minta Masukan Keluarga
Diskusi dengan ayah dan ibu menjadi hal penting bagi Karina. Waktu yang tepat adalah malam hari, di rumah. Pas makan malam kita sharing, kita biasa open. Bapak dan Ibu itu tipe orang tua yang tegas tapi ngarahin ini-itu. Mereka open mind terhadap pendapat dan pilihan anaknya. Ya semua orang tua pinginnya ngatur agar tercapai yang terbaik buat anaknya,? paparnya.
Begitu pun setelah menjadi dokter, Karina tetap mengikuti saran dan pendapat orangtuanya, tertutama ketika menentukan pilihan pekerjaan, tetap di Jogja atau di luar Jawa. Sama-sama mengabdi untuk sesama, Karina pun memilih tetap di Jogja. ?Bapak ngajarin untuk selalu memberikan yang terbaik,? katanya.
Sampai setahun ke depan Karina ditugaskan sebagai dokter magang di RS PKU Muhammadiyah, sekaligus sebagai salah satu persyaratan memperoleh surat praktik dokter. Sebelumnya dia juga mengerjakan penelitian bersama dosen di kampus untuk kegiatan anatomi.
Diskusi dengan orangtua memang tidak hanya berlangsung di rumah. Sering Karina memanfaatkan waktu luang ibunya untuk berdiskusi di luar rumah. Sesibuk apapun dia percaya pasti ada prioritas, meski masing-masing anggota keluarga memiliki kesibukan berbeda-beda.
Alhamdulillah tetap support satu sama lain. Misalnya sama ibu waktu jam istirahat, Ma di mana? Makan bareng ya? Ya sudah kita ketemu. Sederhana. Makan lotek Sagan, Lotek Kolombo. Makan, ngobrol, tanya tadi ngapain, Mama gimana? Saya gimana, habis itu ya sudah, begitu selesai kembali ke pekerjaan masing-masing,? papar gadis kelahiran 4 Juni 1993 itu.
Baca Juga: Ingin SPP Kuliah Gratis? Ini Strategi Kerja Remote di Universitas Mahakarya Asia
Perbedaan Antara 2 Saudara
Berbeda dengan Karina, adiknya yakni Kartika Zahra Salsabila yang saat masih kelas 7 SMPN 5 Yogyakarta, punya cara tersendiri agar selalu dapat bersama orang tuanya. Jika jarang ketemu, Zahra yang akrab disapa Caca itu punya cara protes dan langsung disampaikan. ?Pak, Mbok ayo jalan-jalan,? ujarnya.
Biasanya, hari Minggu merupakan waktu untuk keluarga. Inilah kesempatan bagi Caca bersama ayahnya, Haryadi Suyuti. ?Kalau ada waktu, Papa yang ngajak, ayo ke mana. Ngajak nonton dan jalan-jalan. Hari Minggu biasanya Papa sering nyetir mobil sendiri. Berempat. Bertiga. Pernah juga berdua, Papa nyetir,? ujarnya.
Sejak di TK Negeri 2 Yogyakarta kemudian SD Muhammadiyah Sapen dan saat ini di SMPN 5 Yogyakarta, Caca sudah punya cita-cita. Meski masih bingung tapi dia ingin menjadi ahli kimia.
Sebagai ibu, Tri Kirana Muslidatun mengakui sering meninggalkan anaknya. Tetapi semua itu tuntutan tugas. ?Saya ninggal dia bukan untuk hura-hura tetapi membantu kesejahteraan orang banyak, kesehatan, ekonomi. Saya percaya Allah. Saya selalu berdoa agar anak saya dibantu, agar anak saya tidak ucul,? tuturnya.
Seperti suaminya, Tri Kirana juga berprinsip anak merupakan segala-galanya dan yang utama. ?Kita berbagi tapi tidak boleh lepas dari jangkauan anak-anak. Anak saya yang kecil (Zahra Salsabila) sudah biasa ikut bapake, rapat, pidato. Ternyata anak saya belajar banyak hal. Ada makna yang lain,? katanya.
Tri Kirana bersyukur prestasi sekolah Zahra Salsabila sangat bagus. Nilai Ebtanas Murni (NEM)-nya tinggi dan betul-bentul itu murni dari hasil dia belajar, sehingga ketika masuk SMP Zahra bebas menentukan pilihan sekolah.
Membanggakan Orang Tua dengan Kesuksesan di Dunia Digital
Karina Arifiani Haryadi Suyuti menunjukkan bahwa dedikasi dan kerja keras dapat menjadi wujud bakti kepada orang tua. Di era digital, salah satu cara untuk mencapai kesuksesan adalah dengan memanfaatkan teknologi yang tepat. Omnichannel Sales Growth dengan teknologi AI dapat membantu Anda meningkatkan pertumbuhan bisnis secara signifikan dengan strategi pemasaran yang lebih efektif dan efisien.
Bakti kepada Orang Tua dengan Kesuksesan Bisnis Sendiri
Karina Arifiani Haryadi Suyuti menunjukkan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Salah satu cara terbaik untuk membahagiakan mereka adalah dengan mencapai kemandirian finansial. Kini, Anda bisa memulai bisnis sendiri tanpa modal besar dengan menjadi reseller laptop di Adolo.
Adolo menawarkan peluang bisnis inovatif yang mudah dijalankan, dengan ekosistem digital yang transparan dan sistem arisan yang menguntungkan. Raih penghasilan dan kebebasan finansial, sambil membanggakan orang tua dengan kesuksesan Anda!***2
