HarianBernas.com – MbahBuk Zipora Triwandini Yulihastuti mulai menekuni produksi MannaZipora, minuman serbuk bernutrisi lengkap ini ketika mengalami kecelakaan yang tragis. Saat itu, delapan dokter internis yang menanganinya memutuskan bahwa tidak ada obatnya.
Saat itu, salah satunya kakinya, akan dipotong karena tidak adanya pembeku darah di dalam tubuh. ?Dikatakan sakit kena ITP, sakit yang trombositnya tidak bisa kembali normal. Sebetulnya, sudah diketahui sejak tahun 76 saat suamiku menunggui ketika melahirkan yang kedua kali kehabisan darah dan dokterku bilang ?jangan punya anak lagi?. Poinnya di situ, dia tidak mau cerita kalau aku tidak punya pembeku darah. Bertahan sampai tahun 2009 sampai terjadi kecelakaan ketika akan mengantar pensiun ke Papaku malam-malam,? ungkapnya kepada harian Bernas, Jumat (9/12).
Ketika itu memang sudah dirapatkan bahwa tidak ada obatnya dan sudah disuruh pulang. ?Yang pulang (meninggal dunia) itu malah Papaku karena kagetnya. Aku sudah pamit sama suamiku dan tidak bisa berbicara pada anak-anak, lalu meminta sama suamiku untuk membawakan ?guru?nya agar bisa ketemu untuk yang terakhir kali,? tuturnya.
Sejak itu, ia memohon pada Sang Pencipta kalau memang diberi kesempatan untuk menunggui cucuku lima dan anakku dua, sisa hidupnya digunakan untuk pelayanan. ?Jadi, visi dan misiku, kami berdua, pelayanan pada masyarakat secara penuh. Dari situ, dari Tuhan Maha Kuasa, aku mendapatkan kesempatan untuk pemulihan. Istilahnya, pemulihan yang segalanya, aku sehat dan dapat berkahnya juga,? ucap ceritanya.
Saat itu, Gurunya mengatakan, ?Ini lho ada tujuh macam biji-bijian. Kamu itu guru agama, tapi kurang menjadi pelaku firman. Ini kalau kamu makan, nanti kamu ada perubahan,? katanya.
Sejak mengonsumsi MannaZipora dari Gurunya itu, ada pemulihan dan luar biasa baik sampai batas normal. ?Tepatnya tanggal 5 sampai 7 Desember 2009 ditranfusi darah 3 hari berturut-turut. Tiap tranfusi masing-masing 300cc 1 ampul tidak naik, tapi acapkali transfusi, hasil bukannya naik trombositnya melainkan turun 1000. Dokter bingung waktu itu karena tidak nambah dan turun terus trombositnya sehingga dipersilakan untuk dibawa pulang. Dengan makan tiga kali dalam sehari dari Manna Zipora itu, trombosit dari 16.000 menjadi 19.000. Semalam itu, 3000 naiknya.
Hari kedua, dicoba lagi, naik menjadi 34.000 dengan ditunggu delapan dokter. Dokter mengatakan aneh karena hanya dari kekuatan makanan yang terdiri dari biji-bijian. Hari ketiga, naik menjadi 72.000. Luar biasa dan sangat heran lagi. Hari keempat, saya jengkel dan tidak minum karena mosok makanan burung saja bisa membuatku seperti ini, lalu habis dites trombosit, anjlok menjadi 22.000. Tiga hari mau dipotong kakinya dan sepuluh hari, mau dipotong sampai lutut. Mau dipotong saya tidak mau,? tukasnya.
Dengan makanan dari biji-bijian itu, ia bisa normal kembali dengan pertolongan Tuhan melalui gurunya melalui makanannnya, yang oleh MbahBuk Zipora dinamai MannaZipora. Sampai sekarang, visi dan misinya, sekali lagi, bersaksi dan berbagi kasih.
Poinnya, ia melayani dengan makanan bernutrisi dari bahan organik semua, yang terdiri dari tujuh macam. Biji-bijinya terdiri tujuh biji-bijian seperti padi, jagung, kedelai, kacang hijau, ketan hitam, jagung cantel, dan sekarang, sudah 12 biji-bijian. Gurunya menyarankan semuanya itu harus berasal dari bahan organik. Poin organik itu terbebas dari 6P seperti pemanis, pewarna, penyedap, pengawet, dan bebas pupuk kimia.?Dalam kepercayaan orang Jawa, pitu (tujuh) yang berarti pitulungan (pertolongan). Berarti aku harus melayani di sisa hidupku untuk semua yang sakit seperti aku,? ucapnya.
Pengalaman uniknya, produknya MannaZipora ini bisa muncul di Supermaket Jepang di Jakarta dengan bahasa Jepang, diterjemahkan di koran Jepang. ?Siapa yang bawa. Kalau memang untuk pelayanan, ya silakan. Harganya pun dari saya. Per bungkus bisa dipakai 15 kali,? ceritanya.
Kini, ia menyebut dirinya saat ini menekuni pelayanan. ?Orang yang berbagi berkat, tidak akan melarat. Tidak pernah berjualan dan hanya melayani kalau ada pesan. Untuk MannaZipora, silakan datang, pesan, dilayani, dan maksimal pesan 5 kg dengan sudah menghubungi beberapa hari sebelumnya. MannaZipora itu bukan obat, tapi makanan. Kalau rutin makannya, nanti ada perubahan. Kalau orang Jawa, waras katanya,? jelasnya.
Kopi Muria, Kopi Lanang
Kakek buyut MbahBuk adalah seorang dalang dan suka minum kopi. Masa kecil di Pati, ketika berumur sepuluh tahun, pensiunan PNS ini sudah menjadi pengelola kopi yang terbaik untuk lingkungan tetangga. Sejak kecil sudah mengenal kopi dan mengolah kopi. Kakeknya hanya mau menceritakan cerita wayang yang baru asal dibuatkan kopi, yaitu kopi lajer/kopi lanang. Ia banyak belajar filsafat kejawen dari Kakek buyutnya.
Untuk produk kopinya, pernah diminta untuk melayani tamu-tamu negara di Prambanan, Imogiri, dan Kepatihan. ?Kopi kualitas ekspor. Diminta untuk dikirim ke Taiwan. Kopinya bernama Kopi Muria karena berasal dari kebunnya di lereng Muria. Juga ambil dari Gunung Sumbing. Kopi ini dikejar karena perawatan, penanganan, dan metodenya berbeda dari yang lain,? jelasnya.
Nenek kelahiran Pati ini menjelaskan kopi lanang atau kopi lajer adalah kopi yang bijinya utuh satu, umumnya satu biji kopi dipecah dua. Satu gerombol kopi di pohon, hanya ada satu atau dua biji. ?Beda dengan yang lain karena kopiku kafeinnya rendah. Untuk penderita jantung, tensi tinggi, kencing manis atau yang dilarang dokter untuk minum kopi, bisa minum kopi sehatnya dengan metode khusus. Kopiku ini sehat karena tidak memakai pupuk kimia. Pupuknya berasal dari daun yang jatuh, lalu menjadi pupuk alami,? terangnya.
Kendala yang sering dihadapi di MannaZipora, orang yang tidak mementingkan kesehatan, pasti bilang mahal atau tidak percaya karena karena biji-bijian bisa menyehatkan. Bahannya ini harus organik. ?Ketika dioven, saya bisa tahu bahan itu organik atau bukan dengan mencium aromanya baunya,? ucapnya.
Untuk tantangan ke depan dalam produksi MannaZipora dan Kopi Muria, ia mengakui sangat galau kalau menolak permintaan orang yang ujung-ujungnya berbisnis karena misinya melayani. Diminta untuk ekspor keluar tidak bisa memenuhi kuota karena kopi ini unik dan antik seperti dari cara pengambilan dan perawatan lain dari yang lain.
Ketika ditanya, bidang yang ditekuni ini penting dibagikan dan dilakukan kepada masyarakat, ia menjawab bahwa bisa berbagi kasih dan memberikan lapangan pekerjaan. ?Orang yang benar-benar membutuhkan kesembuhan, bisa tidak tergantung lagi obat dari dokter. Sudah banyak bersaksi tentang manfaat dari MannaZipora,? tuturnya.
Lingkungan yang positif dari teman-temannya, KOI (Komunitas Organik Indonesia), Suami, dan Gurunya yang mendoakannya memengaruhinya hingga menjadi seperti ini. Gurunya juga mendukungnya agar membagikan yang dipunya untuk Tuhan dan sesama. Gurunya pernah berpesan kalau niat memberikan, jangan dihitung. Kalau niat memberikan, jangan dianggap punyamu karena kita lahir juga tidak membawa apa-apa. Untuk itu, kalau ada event, ia ikut dan berbagi MannaZipora dan Kopi Muria secara gratis. Inspirasi yang ingin dibagikan, yaitu berbagi berkat dan kesehatan, serta berbagi rejeki.
Pencapaian membanggakan bagi MbahBuk adalah saat ada orang yang datang mengatakan aku sehat dengan makan MannaZipora ini seperti ada yang bersaksi bahwa tiroidnya hilang setelah minum MannaZipora.
Rencana terdekatnya hanya pelayanan, tidak ada yang lain. Impian ke depan, ada yang meneruskan. Ingin ada penerus dan penggantiku. Sampai saat ini, belum ada penggantiku. Siapa yang mau bekerja untuk masyarakat dan melanjutkan, besar upahnya di surga.
