HarianBernas.com – Alexander Sriewijono kini menekuni bidang pekerjaan sebagai People Development Consultant di Daily Meaning, kolumnis, radio host, dan menjadi dosen tamu untuk beberapa perguruan tinggi.
?Di Daily Meaning, dengan fokus pada leadership development, change management, dan organizational transformation. Dosen tamu untuk program Pasca Sarjana dengan mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi, serta Change Management. Selain itu, kolumnis, 15 tahun terakhir untuk rubrik Ask Cosmo Anything di majalah Cosmopolitan dan 2 tahun terakhir untuk rubrik Career Notes majalah Intisari. Radio host selama 14 tahun terakhir untuk program Cosmopolitan Career di 90.4 Cosmopolitan FM,? ungkapnya ke Harian Bernas, Selasa (17/1).
The Best UK Alumni tahun 2008 dalam bidang socioentrepreneurship ini pun membagikan pengalaman unik yang menjadi titik baliknya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini. ?Di usia 30 tahun berhenti dari pekerjaan formal di organisasi karena ingin lebih banyak merawat dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan ibu saya. Saya menyadari 'what matters most' buat saya dan itu yang saya prioritaskan. Itulah asal mula saya lebih independen di bidang people development consultant dan berkembang menjadi Daily Meaning yang 7 tahun kemudian dilegalkan sebagai badan hukum,? terangnya.
Pria kelahiran Waingapu ini pun membagikan pengalamannya uniknya di bidang pekerjaannya saat ini. ?Mengajar di berbagai negara (Ukraina, Srilanka, UK, Philippines, Australia, New Zealand, Fiji) dengam culture yang sangat berbeda-beda sehingga tidak hanya mendeliver content, tetapi juga disesuaikan dengan cultural contextnya,?jelasnya.
Dalam perjalanan kehidupannya, ia menjadi pribadi yang lebih menyukai pembicaraan yang bermakna seperti tokoh yang digemarinya, yaitu Jalaluddin Rumi, yang pemikirannya sangat lintas jaman, bahkan masih sangat sesuai di jaman sekarang. ?Dua yang paling saya suka, ?Raise your words, not voice. It is rain that grows flowers, not thunder?. Saya lebih nyaman dengan meaningful conversation tenang dan dalam, yang tidak berisik dengan segala koar-koar atau yang penuh dengan emosi. Lalu, ?Why do you stay in prison, when the door is so wide open?. Yang memenjarakan kita seringkali justru bukan orang lain, tapi diri kita sendiri,? paparnya.
Alumnus Universitas Indonesia dari Fakultas Psikologi ini pun menceritakan permasalahan yang paling sering dihadapi dalam bidang pekerjaannya. ?Change management is about managing positive uncertainty dan kuncinya ada pada unsur 'people'nya. Namun, tantangan sekarang juga ditambahkan pada perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, yang justru bisa dimanfaatkan sebagai penggerak perubahan. Menerapkan pola baku dalam change management justru tidak akan pernah saya lakukan, namun memahami permasalahan dan situasi secara mendalam untuk merumuskan pendekatan yang paling tepat, justru yang sangat dibutuhkan,? kata urainya.
Peraih Master Human Resource Management dari University of Westminster, London, UK ini juga menjelaskan tentang tantangan ke depan di bidang pekerjaannya. ?Partnership with millenials to ride two horses in managing current and future challenges. Tidak cukup hanya dengan mengendarai satu kuda 'operational excellence', namun harus bersamaan bisa menunggangi kuda satunya lagi, yaitu kuda inovasi,? katanya menjelaskan.
Lulusan Global Leadership Program dari Cheung Kong Graduate School of Business, Beijing ini pun menjawab tentang alasan menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini. ?Saya senang melihat progress sehingga empowering people untuk menjadi lebih credible dan mampu membuat progress yang signifikan itu seakan menjadi ?candu? yang dicari. Bidang ini pun penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat karena menggerakkan professionals untuk tidak stay di comfort zone dan hanya menjadi mediocre itu penting agar bisa create significant progress di peran/ bidangnya masing-masing,? jawabnya.
Lulusan Global Leadership & Innovation Program University of California, Berkley, Haas School of Business, USA ini pun membagikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Finding your IKIGAI, konsep sederhana dari Jepang yang mengajak kita untuk memahami hal tentang apa yang membuat kita semangat dalam hidup, apa yang menjadi keahlian kita, yang mampu menjadi manfaat buat orang-orang di sekitar kita, yang dengan sendirinya memberikan penghargaan yang layak karenanya,? tukasnya.
Ia pun memberikan saran kepada orang yang ingin meraih kesuksesan seperti yang dicapai saat ini. ?Berproses itu penting, dimulai dengan knowing what matters most dan konsisten dalam mewujudkannya. Sejalan dengan konsep IKIGAI di atas,? jelasnya.
Ketika ditanya, apakah lingkungan memengaruhinya hingga menjadi seperti sekarang, ia menjawab sangat berpengaruh. ?Masalah yang dihadapi akan membuat kita lebih tangguh untuk mencari jalan keluarnya. Negative person membuat kita bisa lebih berkaca untuk tidak menjadi sama negatifnya. Perubahan membuat kita berusaha untuk tidak menjadi korban, tetapi mengalahkannya, syukur-syukur kita yang menciptakannya,? paparnya.
Ia pun tak melupakan banyak sosok yang berperan atas apa yang dicapainya saat ini. ?Ibu saya, yang mengajarkan saya untuk jadi manusia yang tidak boleh kalah dengan krupuk, yang menggeliat saat dimasukkan minyak panas. Jadi, kalau ada masalah, jangan sampai tidak berkembang as a human being. Pembimbing Akademis di program S1 saya, almarhumah ibu DR Jeanette Murad, yang membuat saya bisa mempersiapkan apa yang bisa dan ingin saya lakukan, bahkan semenjak saya kuliah di semester 1. Seluruh pengajar saya di Psikologi Universitas Indonesia, dan HRM di University of Westminster-London karena saya belajar untuk paham dari mereka bukan sekedar nilai dan gelar. Team Daily Meaning dengan proses bilateral coaching yang menjadi rutinitas sehari-hari, kita belajar sama-sama untuk lebih baik sama-sama,?paparnya panjang.
Untuk pencapaian yang paling membanggakannya, pemilik cita-cita ingin menjadi arsitek waktu kecil ini menjawab mendapatkan beasiswa Chevening dari Pemerintah Inggris untuk melanjutkan postgraduate program di University of Westminster tahun 2004 sampai 2005. Ia pun memiliki cara tersendiri untuk mengusir rasa jenuhnya ketika bekerja. ?Traveling, taking pictures, and playing with my french bulldog. Traveling, sudah saya lakukan selama 25 tahun lebih, yang membuat saya lebih memahami 'people & their culture'. Taking pictures juga membuat saya menjadi silent observer dan bisa belajar banyak dari setiap moment yang saya captured. Account instagram saya @alexandersriewijono bisa sebagai referensi,? paparnya.
Penyuka hobi travelling ini membeberkan rencana dalam waktu dekatnya ini dan impiannya. ?Community engagement untuk berperan lebih optimal di bidangnya masing-masing, menjadi lebih baik sama-sama, dan berkontribusi buat orang-orang di sekitarnya. Untuk impian, mewujudkan rencana dekat itu,? pungkasnya.
