HarianBernas.com – Ir. Andreas Hartono CHt, CI, CFP kini menekuni bidang perencanaan keuangan, spesifiknya lebih kepada financial motivation, yaitu memberikan motivasi yang terkait dengan perencanaan keuangan. Mulai dari bagaimana orang mempunyai mindset yang benar tentang uang, cara mengatur cash flow, cara melakukan financial check up, mempersiapkan investasi pendidikan anak hingga pensiun.
?Jadi, di dunia perencanaan keuangan, saya ini lebih banyak bergerak di bidang trendingnya, trendingnya lebih ke arah motivasi yang dikaitkan dengan perencanaan keuangan,? ungkapnya kepada Harian Bernas.
Untuk karirnya di bidang perencanaan keuangan, ia tak memungkiri banyak peran dari berbagai pihak.?Dari keluarga, istri saya yang selalu mendukung saya ketika saya memulai karir menjadi seorang trainner, motivator, dan financial planner. Orangtua yang selalu mendoakan saya supaya bisa dapat pekerjaan yang banyak, dapat rejeki yang banyak, kemudian dari teman-teman. Yang pasti dukungan dan peran klien-klien saya yang selalu percaya kepada saya, mereka membeli atau mengambil trainning yang cukup banyak dari saya karena mereka merasa saya memberikan sesuatu yang lebih sehingga saya dipercaya dan mendapatkan banyak sekali repeat order dari klien-klien saya,? tuturnya.
Apa yang dicapainya saat ini tak lepas dengan keinginannnya saat masih SMA kelas 3 menjelang masuk universitas. ?Saya masih ingat ketika di SMA dulu menjadi orang yang sangat kurang pergaulan (kuper). Kalau pagi berangkat sekolah jam 6 atau setengah tujuh, kemudian jam 2 atau jam 3 pulang. Nyaris, saya tidak punya teman dan pergaulan yang cukup bagus di SMA. Di akhir masa SMA, ada promosi dari sebuah universitas, ada seorang mahasiswa yang berbicara dengan sangat bagus dan baik. Akhirnya, saya bercita-cita ingin menjadi seperti orang itu. Sampai akhirnya, saya masuk ke universitas dan bertemu mahasiswa yang menginspirasi tadi, lalu masuk gabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa,? terangnya.
Saat masuk Unit Kegiatan Mahasiswa itulah titik balik awal Andreas Hartono dari seorang yang kuper menjadi seorang yang PD, yang berani tampil, dan yang berani berbicara di depan umum saat kuliah di Atma Jaya. ?Saya belajar banyak tentang organisasi, kepemimpinan, dan kemampuan public speaking. Ketika kuliah, saya menjadi orang yang luar biasa. Saya sempat menjadi ketua di beberapa organisasi pada tahun 1996, misalnya Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Elektro, Ketua Satu dari sebuah UKM bernama Forum Diskusi Ilmiah Mahasiswa, Koordinator Kesejahteraan Mahasiswa untuk Senat Perguruan Tinggi, dan Sekretaris UKM dari Wushu,? paparnya.
Pada tahun 1998, ia lulus kuliah dan bekerja di PT. Sharp Yasonta Indonesia sebagai electrical engineer. Pada saat yang bersamaan, dipercaya, memilih, dan mengambil posisi sebagai seorang representatif untuk menjalankan ISO 9001. ?Di situlah saya mulai banyak belajar tentang sebuah perusahaan. Saya ikut training ISO, training tentang audit, banyak berbicara dengan konsultan, dst. Menjadi sebuah titik balik dari dunia kerja yang berhubungan dengan elektro menjadi dunia kerja yang berhubungan dengan manusia. Pada tahun 2000, akhirnya keluar dari Sharp dan masuk ke sebuah perusahaan konsultan. Saat itulah saya belajar lagi bagaimana membantu banyak perusahaan untuk membangun sistem manajemen di sana. Tahun 2004, saya keluar dari perusahaan konsultan, lalu masuk ke perusahaan bernama Garuda Food. Di sana, saya belajar tentang bagaimana membangun people development, menjadi seorang trainer, konsultan, dan dipercaya menjadi corporate training manager. Akhirnya, saya mempunyai pengalaman yang lengkap. Tahun 2008, saya keluar dari Garuda Food dan mulai membangun Andreas Hartono Academy sampai saat ini,? bebernya.
Bagi financial planner ini, dunia konsultan dan training bergerak dengan jaman sehingga memiliki permasalahannya sendiri. ?Artinya, yang saya ajarkan dua tahun yang lalu, belum tentu bisa diajarkan saat ini karena situasi dan tantangannya berbeda. Permasalahannya, saya harus terus update dengan situasi perkembangan teknologi dan ilmu saat ini. Cara menyikapinya, mau tidak mau saya sebagai seorang trainer menjadi trainee. Artinya, menjadi seorang peserta sehingga setiap tahun, saya rencanakan sebuah program, harus belajar apa, baca apa, dan harus bertemu siapa. Apa yang saya ajarkan dan berikan di dunia training dan konsulting setiap tahun harus relevan dengan situasi dan dibutuhkan klien tersebut,? tukasnya.
Ia pun membeberkan pengalaman uniknya menjadi trainer. ?Ketika itu, saya diundang ke sebuah perusahaan untuk presentasi tentang quality manajemen system. Saat presentasi, ada seorang bapak yang cukup senior meminta untuk menceritakan yang lain dan baru karena dia merasa sudah tahu semuanya. Saya menjawab bahwa ini suatu proses yang harus diceritakan kepada bapak, lalu saya mulai bicara lagi. Tak berapa lama, bapak itu berkata yang Anda omongkan ini semua saya sudah tahu, saya minta cerita yang lain dengan nada yang tinggi. Saya jawab mohon maaf kalau bapak minta suatu yang baru, saya tidak tahu apa yang bapak inginkan, tetapi inilah yang bisa saya presentasikan kepada bapak. Saya tanya, apakah bapak mau lanjut saya presentasi atau stop presentasi ini. Bapak ini menjawab sudah stop saja, saya tidak mau mendengar cerita Anda lagi. Akhirnya, saya stop dan pulang dengan tidak membawa apapun. Itu menjadi pengalaman ditolak ketika presentasi dengan cara yang cukup tidak etis karena ada enam orang di sekitar forum,? jelasnya.
Bagi financial motivator ini, trainer dan konsultan merupakan sebuah profesi yang sangat dinamis sehingga memiliki tantangannya sendiri. ?Kita mempunyai tools dan modul yang kadang-kadang tidak bisa fit dan pas dengan semua klien dan situasi. Tantangannya, harus beradaptasi dengan klien, adaptasi dengan orang-orang yang kita ajar dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Ketika mengajar satu modul yang sama, ketika peserta levelnya S1 tentu memiliki tantangan yang berbeda di kelas berikutnya yang levelnya SMA, D1, atau D3. Bagaimana kita mampu untuk memahami kebutuhan klien, customer, dan peserta. Kita bisa menggunakan bahasa sesuai dengan situasi mereka. Modul bisa sama, tapi how to deliver, bahasa, contoh-contoh harus beragam sesuai dengan situasi. Bisa membawa dunia trainer consulting ini beradaptasi dengan dunia yang sedang kita hadapi saat ini,? katanya.
Ia pun memaparkan alasan mengapa dunia training yang digelutinya lebih ke arah perencanaan keuangan. ?Situasi di Indonesia, mayoritas orang-orang kita ini belum melek finansial. Kecerdasan finansial relatif masih sangat rendah. Bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar banyak orang lebih melek finansial. Melek secara finansial, yaitu mereka bisa tahu apa itu uang, memperlakukan uang itu dengan baik dan benar untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik di masa mendatang. Saya merasa senang dan bangga luar biasa ketika bisa berbagi ke banyak orang, perusahaan, dan karyawan sehingga menjadi tahu mengelola uang dan berinvestasi. Banyak orang saat ini memerlukan pengetahuan dan keterampilan mengelola uang dengan baik. Inflasi relatif tinggi, kemampuan investasi rendah, dan tantangan gaya hidup konsumtif luar biasa. Inilah tantangan di dunia perencanaan keuangan bagi saya dan banyak orang, bagaimana membangun dan memberikan pemberdayaan kepada karyawan dan masyarakat untuk punya mindset dan mentalitas yang benar tentang uang. Mereka juga harus punya knowledge dan skill tentang mengelola uang, melakukan investasi, melakukan persiapan pendidikan anak sampai pensiun nanti,? ucap urainya.
Ia pun membagikan saran agar bisa sukses seperti yang dicapainya saat ini. ?Ketika di dunia kerja, saya orang yang cenderung selalu mengambil kesempatan, bahkan ketika tidak ada orang yang mau mengambil kesempatan, saya mengambil kesempatan itu, misal memutuskan untuk membantu mengurusi ISO, quality manajemen system di Sharp dan saya mengambil kesempatan mengambil training leadership di Garuda Food. Dari situ, saya bisa belajar sesuatu yang lebih dari teman-teman saya, mendapat ilmu, dan mendapat pengalaman yang luar biasa. Kesimpulan, selama kita masih punya kesempatan dan diberi kesempatan, ambil kesempatan itu meksi hidup kita menjadi ribet. Itu sebagai proses untuk menjadi kita lebih baik.?
Project dalam waktu dekatnya,?Saya dengan teman-teman di Financial Planner mencanangkan impian untuk membangun sejuta insan cerdas finansial dengan edukasi. Impian, membangun sekolah cerdas finansial yang memberikan edukasi kepada masyarakat dan dibangun dibanyak tempat.?
