SLEMAN,HarianBernas.com-Pada tahun 2016, cakupan sanitasi layak Kabupaten Sleman telah mencapai 94,34% dan menargetkan pada tahun 2019 mendatang cakupan sanitasi layak dapat ditingkatkan menjadi 96,19%.
Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bekerjasama dengan BORDA dan Asian Institute Technologi Bangkok Thailand (AIT) Bangkok serta Ditjen Kementerian PUPR menyelenggarakan Lokakarya FSM (Faecal Sludge Management/Pengelolaan Lumpur Tinja) Toolbox di Ruang Rapat Setda B Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Selasa(24/1).
Kepala Bagian Pembangunan Sleman, Ir. Dwi Anta Sudibyo, MT menyampaikan bahwa pengelolaan lumpur tinja pada masyarakat umum saat ini masih belum tergolong aman bagi lingkungan, baik pengolahan dengan sistem tradisional maupun penggunaan teknologi yang tidak tepat.
Menurut Dwi Anta, saat ini Kabupaten Sleman memiliki sejumlah 5,66% sanitasi kurang layak yang terdiri dari 12.435 KK pengguna jamban tidak aman serta 5.507 KK yang masih BAB sembarangan.
Dwi Anta menambahkan bahwa lokakarya FSM Toolbox yang diselenggarakan merupakan salah satu langkah untuk memenuhi akses sanitasi layak di Kabupaten Sleman guna mewujudkan sanitasi yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat, dengan muara meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup.
“Kegiatan tersebut diharapkan akan mendorong upaya Pemkab Sleman dalam meminimalisir penurunan daya dukung lingkungan yang disebabkan oleh limbah domestik di wilayah Sleman,” kata Dwi Anta.
Perwakilan BORDA, Marina Bruker Supriyono menyampaikan bahwa lumpur tinja dihasilkan dari tinja yang diproses dari teknologi sanitasi on-site seperti septik tank atau pit latrine yang juga mengandung air kotor, tisu, dan limbah padat.
Menurutnya komponen pengelolaan lumpur tinja secara spesifik antara lain yaitu pengurasan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali atau pembuangan lumpur tinja dengan FSM Toolbox.
Sementara Direktur Pengembangan PLP Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Ade Syaiful Rahman, ST, MT berharap FSM Toolbox yang merupakan alat bantu untuk menjalankan pengolahan lumpur tinja dapat membantu Pemkab Sleman dalam penanganan sanitasi kedepannya.
“Agar kinerja yang sudah terbangun dapat berjalan secara optimal sesuai dengan perencanaan maka dibutuhkan penyelenggaraan pelayanan pengelolaan lumpur tinja yang proaktif,” kata Ade.
