HarianBernas.com – Muhammad Sholeh menjadi sosok pribadi yang selalu bersyukur dan mengakui bahwa dulunya memang bukan siapa-siapa. Kini, selain materi, ia bisa mendapatkan banyak hal seperti teman-teman yang hebat, lingkungan pekerjaan yang positif, keluarga yang sangat saling menyayangi.
?Terkadang nggak sebanding dengan apa yang kita berikan kepada Sang Pencipta makanya untuk selalu mengingatkan diri ini, saya selalu bersyukur agar tidak takabur menjadi manusia,? ungkapnya ke HarianBernas.com, Selasa (8/11/16).
Pria kelahiran Jogja ini kini menekuni pekerjaan di bidang konstruksi sebagai aplikator rangka atap baja ringan. ?Sebenarnya awal terjun di dunia marketing atau sales itu karena saya waktu kuliah kurang pinter, cuma standar saja. Jadi, IP pas lulus pas-pasan. Karena dulu saya sangat aktif di Pramuka, jadi agak keteteran kuliahnya. Di pramuka, saya menjadi ketua dewan kerja daerah DIY, yang ngurusi pramuka usia SMA dan perguruan tinggi. Di situ kemampuan saya berkomunikasi, berorganisasi, dan me-manage orang sangat terasah makanya sewaktu memutuskan untuk ke Jakarta mencari pekerjaan, sales/marketing pun saya ambil dan alhamdulillah masih ada kaitannya dengan ilmu kuliah, yaitu di bidang bangunan khususnya atap,? urainya.
Ia pun menceritakan pengalaman uniknya ketika masih bekerja di sebuah perusahaan Australia yang bergerak di bidang atap baja ringan. ?Saya dulu bekerja di perusahaan Australia, merek atap baja ringan yang cukup terkenal. Mengawali sebagai sales, sampai akhirnya dipercaya mempunyai anak buah, dan terakhir sebagai sales manager di perusahaan tersebut.
Satu pengalaman yang sangat terkesan dan menjadi cambuk saya waktu itu, ketika saya hunting ke proyek di seputaran Serpong, Tangerang, di sana saya ketemu pelaksana proyek yang kebetulan lulusan salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Setelah basa basi layaknya sales, beliau nanya asal usul saya, dan saya bilang dari Jogja, dari Teknik Sipil UGM. Reaksi dia mau tahu? ?Hah Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM)? Jadi, sales? Saya saja yang cuma D3 dari xxx bisa jadi pelaksana proyek, sudah dikirim ke mana-mana, mosok dari UGM trimo jadi sales Mas?. Hmm, saya cuma bisa diam. Nggak lama, saya pamit dari situ dan gambar proyek dari beliau yang seharusnya saya laporkan ke kantor, saya buang ke tempat sampah sembari saya katakan dalam hati saya, setahun lagi ente masih naik motor, gue sudah naik mobil. Tunggu aje,? ceritanya.
Pecinta badminton ini pun mengungkapkan alasan keluar dari perusahaan Australia itu, lalu mendirikan usaha sendiri. ?Kalau yang memotivasi saya untuk buka usaha karena waktu itu karir sudah mentok, omzet mulai turun karena kompetitor makin banyak, dan dari perusahaan kurang memberikan support, kemudian saya menyatakan mau keluar, meskipun ditahan akhirnya diijinkan juga. Pengalaman pahit setelah buka usaha sendiri, saya sempat beberapa kali mendapat proyek dan dibayarnya sampai ber ulang tahun,? terangnya.
Sarjana Teknik Sipil ini membeberkan tentang permasalahan yang paling sering dihadapi di bidang usahanya. ?Pertama, sulit mencari karyawan yang jujur karena bisnis model saya ini membutuhkan tenaga pemasaran untuk door to door ke proyek. Nah, jaman sekarang ini susah banget mendapatkan karyawan yang benar-benar memiliki integritas terhadap perusahaan. Banyak yang pengen sukses, tapi instan.
Akibatnya, kerja agak berat dikit sudah nyerah. Sempet saya mengalami punya karyawan hanya bertahan satu bulan, ganti lagi, masuk satu lagi, sebulan keluar lagi. Kedua, persaingan tidak sehat di lapangan dengan kompetitor. Sering temui kompetitor yang memberikan harga ke konsumen jauh dibawah harga pasar. Kalau boleh dibilang harga mereka sama dengan harga modal kita, akibatnya customer yang senang, sementara perusahaan lain jadi kesulitan menetapkan harga. Ketiga, pembayaran yang sering tertunda cukup lama, pernah sampai berulang tahun. Model bisnis saya itu bukan sistem cash and carry karena customer mau bayar kalau kita sudah pasang. Akibatnya, apabila customer kita memang berniat menunda pembayaran, seringkali mencari-cari kesalahan kita agar kita gak bisa masukkan invoice,? bebernya.
Alumni UGM ini pun memaparkan tentang tantangan yang akan dihadapi bisnis usahanya ini. ?Mudah-mudahan saja belum ada material bahan bangunan baru yang lebih efisien dibanding baja ringan. Kalau tantangan pasti banyak. Kompetitor makin banyak, bahkan banyak yang berani mengambil resiko, yaitu beli bahan kemudian dipasang sendiri. Namun, tidak sedikit yang semacam itu atapnya gagal struktur alias ambruk,? paparnya.
Apakah bidang pekerjaannya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat, ia menjawab penting sekali.?Produk ini sangat efisien, murah, dan cepat dalam pemasangannya. Karena bahan baku untuk atap selain baja ringan itu kan kayu atau baja konvensional maka kayu (yang bagus) dan baja konvensional akan jauh lebih mahal dibanding baja ringan. Pemasangannya pun jauh lebih cepat. Sebagai gambaran, rumah tipe 36 atau 45, cukup satu hari pemasangan selesai. Namun, masyarakat harus hati-hati memilih rangka atap baja ringan. Lihat dulu track record aplikator tersebut. Makin banyak referensi pekerjaannya berarti aplikator itu layak dipercaya,? jelasnya.
Ketika ditanya, apakah lingkungan mempengaruhinya, ia menjawab sangat berpengaruh. ?Lingkungan pergaulan, masyarakat, dan keluarga. Selalu berpikir positif akan sangat membantu pola pikir kita dalam mengambil keputusan. Kadang ide-ide muncul ketika sedang ngobrol santai dengan teman atau kerabat. Kebetulan saya suka badminton. Saya sangat senang men-support even-even badminton, terutama di kulonprogo. Alhamdulillah, kalau di Kulon Progo nama Bangun Baja Perkasa sudah cukup dikenal. Teman-teman di sana sangat men-support saya. Tanpa saya minta sudah menjadi iklan berjalan,? jawabnya.
Pengusaha aplikator rangka atap baja ringan ini pun tak melupakan sosok yang berperan dalam karirnya saat ini. ?Ibu selalu memberikan pesan moral yang dalam agar selalu beribadah yang wajib maupun sunnah agar menganggap karyawan seperti saudara dan selalu berpesan agar pantang menyerah. Seluruh masalah pasti ada solusinya,? jelasnya.
Pengagum Tung Desem Waringin ini pun membagikan inspirasinya. ?Dalam bisnis saya selalu menganut paham ATM: Amati, Tiru, dan Modifikasi. Sangat simpel. Berani mengambil keputusan untuk memulai usaha adalah langkah yang tepat, tetapi harus diikuti dengan komitmen yang kuat untuk selalu belajar kepada orang-orang terbaik di bidang itu, kemudian lakukan ATM,? tukasnya.
Pemilik cita-cita menjadi dokter saat kecil ini pun menceritakan tentang impian dan project terdekatnya. ?Kalau terkait bisnis ini, saya pengen mengembangkan usaha saya dengan membuka kantor di seluruh kabupaten di DIY dan beberapa di Jawa Tengah. Saat ini, baru di Serpong, Jalan Magelang, dan Jalan Wates. Untuk project terdekat, rumah tinggal pribadi ada banyak yang siap dikerjakan, kemudian pondok pesantren di Sleman, asrama mahasiswa dari Kalimantan, kemudian kos-kosan di Seturan. Rencana di Semarang dan Bojonegoro juga ada prospek cukup besar untuk tahun depan,? paparnya.
