HarianBernas.com-Pratikno kini sedang mencurahkan seluruh konsentrasinya pada profesinya sebagai General Manager Hotel Grand Tjokro Style, Yogyakarta. Dalam bekerja, ia berusaha sebisa mungkin untuk membuat suasana kerja seenak mungkin, tapi tidak seenaknya.
”Saya berusaha membuat suasana kerja nyaman dan enak, tapi tidak seenaknya. Kerja yang ikut prosedur dan aturan. Kita nyaman di situ. Arti nyaman buat saya, perusahaan tempat saya bekerja harus nyaman dengan adanya saya. Saya juga nyaman dengan perusahaan. Kedua belah pihak harus nyaman sehingga munculah kenyamanan. Kalau yang nyaman salah satu, tidak mungkin,” ungkapnya ke Harian Bernas, Jumat (2/12).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Sebelum bekerja di hotel, ia sebetulnya dahulu pernah membangun bisnis sendiri seperti waralaba laundry dan waralaba cleaning service yang di-manage sendiri. Namun, karena masih muda dan ada latar belakang pendidikan perhotelan, ia ingin membuktikan bahwa bisa bekerja secara profesional di dunia perhotelan.
Tentang ketertarikannya bekerja di hotel, kebetulan, sejak dari awal, pria kelahiran Kebumen ini memang ingin bekerja di hospitality industry. Pertama kali, ingin bekerja di kapal pesiar.
“Awalnya ambil profesi perhotelan dulu. Dari awal memang sudah senang sehingga sampai sekarang, saya menikmati. Meski hari libur atau sebetulnya off, saya bisa bekerja sambil berlibur dan berkumpul bersama keluarga dengan pagi-pagi menyempatkan menengok pekerjaan sebentar untuk memastikan semuanya aman dan nyaman,” tuturnya.
Ketika masih kuliah, ia dulu sudah bekerja. “Pertama, ambil profesi satu tahun Lembaga Pendidikan Profesi di Manajemen Pariwisata Perhotelan. Ketika di profesi satu tahun itu, enam bulan teori, tiga bulan menuju praktek training di luar, dan tiga bulan pembuatan Tugas Akhir (TA). Belum masa training, saya sudah berusaha mencoba training duluan dengan mengajak teman. Pagi kuliah, sore harinya ambil training di hotel supaya apa yang saya dapat di meja kuliah, segera bisa diimplementasikan ke lapangan. Masanya teman-teman saya training, saya sudah selesai trainning. Teman-teman baru wisuda, saya sudah bekerja di hotel,” tukasnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Setelah selesai program yang profesi satu tahun, suami Ninik Sumiarsih ini melanjutkan jenjang pendidikan D3 Kepariwisataan di AKPARDA Yogyakarta. “Saya ambil waktu pagi untuk kuliah dan sore hari untuk bekerja sampai selesai kuliah. Saat teman-teman wisuda di kampus, saya sudah ambil karir sebagai seorang leader, supervisor di luar Jawa, serta harus berangkat ke Sulawesi, Grup Quality. Ketika bisa kembali ke Jawa lagi, bertugas di Solo, karir sudah naik dari supervisor naik menjadi Kepala Bagian Manajer,” urainya.
Penyuka hobi bersepeda ini (gowes) ini menceritakan pengalaman uniknya. “Dulu pernah ketika bertugas sebagai Laundry Attendant, saat baru buka pintu, saya dilempar pakaian karena laundry dan setrikanya kurang halus. Tamu tidak puas. Namun, peristiwa ini sebagai gift/hadiah agar lebih hati-hati,” terangnya.
Untuk itu, sampai saat ini, semua komplain dan komentar dari tamu adalah gift/hadiah buatnya. “Pernah ada tamu, i will pay tax, no pay service karena tidak mendapat service yang bagus. Pengalaman itu menjadi pegangan saya dan saya memberikannya ke staf sebagai motivasi bahwa semua tamu yang di sini, ibaratnya sudah mau dipaksa karena sudah membayar sekian untuk pay service dan tax. Kalau kalian tidak melayani dan tamu tidak bayar, itu kan tidak bagus,” katanya.
Kini alumni AKPARDA ini sangat maksimalkan input dari tamu, misal di front office ada quick survay, manager on duty melakukan breakfast power, yaitu mengajak mengobrol dengan tamu. Kalau King Sales, melakukan morning greetings. Di setiap kamar, ada form guest coment. Setiap jam lima sore sampai jam tujuh malam, Front Office dan FD Service melakukan courtesy call, menanyakan kenyamanan tamu. Selain itu, konsen kepada added value, memberikan nilai tambah pada service kepada tamu. Jangan yang hanya standar saja.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Ia pun memaparkan permasalahan yang sering dihadapinya saat ini. “Saya ingin semua tim saya itu the right person, the right place. Yang sering terjadi adalah the right place, the wrong person. Jangan langsung menyalahkan tempatnya. Bekerja itu di samping ibadah, juga belajar. Kadang merasa sudah bisa, tidak mau belajar. Belajar dengan siapa saja bisa. Ilmu itu tidak ternilai. Saya juga sering mengajak bahwa kamu bekerja di sini itu sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Menjadi bagian dari decision maker, bukan trouble maker,”paparnya.
Pemilik cita-cita waktu kecil ingin menjadi tentara ini membeberkan tantangan pekerjaannya. “Jujur dengan makin banyaknya kompetitor ibaratnya setiap sudut kini ada hotel, dengan makin banyaknya kompetitor, kita harus bisa menunjukkan kualitas dan kuantitas kita. Kita bersaing kualitas. Yang saya khawatirkan, kalau perang tarif, nanti akhirnya Four Each Happy berkurang, yaitu (1) Happy Customer: harga turun, kualitas pelayanan berkurang, (2) Happy Employee: harga turun, benefit karyawannya berkurang, (3) Happy Owner: harganya turun, profit berkurang, (4) Happy Stakeholder: harga turun, kita nyari vendor-vendor yang murah. Kita tetap menjaga price, tapi kita bersaing di kualitas. Jangan fokus pada kekurangan, kita tonjolkan kelebihan kita. Benefit customer kita tambahkan. Customer bilang mahal kalau uang yang dibayarkan tidak mendapatkan nilai yang sepadan,” bebernya.
Tentang kebiasaan khusus yang dibangun untuk mendukung pekerjaannya, Ayah dari Mohammad Mirza ini berusaha disiplin. “Sampai saya jabarkan Disiplin itu, Datang tidak terlambat, Ingat selalu berdoa itu nomor satu, Segera menuju outlet tempat bekerja, Ikuti arahan-arahan dari atasan, Patuhi segala norma-norma yang ada, Lakukan segera instruksi tersebut, Isi dan report notebook, Norma-norma lagi-lagi jangan dilanggar,” terangnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
General Manager Grand Tjokro Style ini pun membagikan inspirasinya. “Setiap pekerjaan harus disukai. Jadilah kita menjadi bagian dari decision maker, bukan trouble maker. Di manapun kita bekerja bikin suasana kerja yang seenak mungkin, tapi tidak seenaknya. Berikan kenyamanan buat perusahaan dan sebaliknya. Suasana kerja pasti akan nyaman. Akan muncul keharmonisan. Produktivitas kerja kita akan meningkat. Disiplin juga menjadi kunci,” ucapnya berbagi ilmu.
Pemilik hobi karaoke ini memberikan saran untuk orang yang ingin sukses bekerja di bidang perhotelan. “Sebetulnya tidak kuliah di perhotelan pun bisa sukses bekerja di perhotelan asal mau belajar dengan training. Melakukan aplication on the job training ambil divisi apa. Tantangan apapun harus dihadapai. Apapun hasilnya kita hadapi. Niatnya belajar,”katanya.
Untuk pencapaian yang paling membanggakan, ia menjawab bahwa keluarganya bisa happy, baik orangtuanya ataupun orangtua istri. “Orang mendukung saya bekerja. Saya bisa sukses bukan karena saya, tapi karena tim. Happy employee harus. Karyawan aset, yang bagus saya kasih rewards, yang salah dikasih teguran. Four Each Happy harus tercapai,” jelasnya.
Untuk impiannya, ia mengaku paling iri dengan tukang las yang bisa punya bengkel las setelah bekerja lama. Untuk itu, ketika sudah bekerja di hotel, lama-lama juga harus mempunyai hotel meski kecil.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
