HarianBernas.com – Saugi adalah seorang wirausaha dari Salatiga sebuah kota kecil dataran dinggi di belakang Gunung Merbabu. Ia memulai usahanya dibidang kuliner dengan latar seorang pekerja yang kebetulan ownernya seorang dari Korea. Dari yang kebetulan, justru melahirkan usaha kuliner Korea yang saat ini sudah memiliki 3 cabang.
Bagi Saugi, keluarga memang memiliki peran di awal sebagai motivasi. Ditambah dengan pengalamannya bekerja di pabrik arang kayu di Klaten milik orang Korea, dimana dispilin dan kerja keras menjadi hal utama. Ia merintis bisnis kuliner berangkat dari nol tanpa pengalaman kuliner sama sekali.
Selain itu, ia juga pernah menjadi seorang pengajar komputer mulai dari anak-anak sepeti computer for kid sampai dengan para pegawai negeri swasta.
Setelah selesai kerja dengan orang lain, usianya sudah mendekari angka tidak produktif lagi. Terbiasa dengan kerja di bidang operasional dan berpindah-pindah. Ia memutuskan keluar dengan yakin.
Ia memang berencana ingin membuka usaha kuliner. Dimana orang bisa makan makanan khas Korea dan Jepang di dalam satu tempat. Orang bisa menikmati ramen, sushi, cemilan dan sebagainya. Lalu terwujudlah usaha kuliner tersebut pada 12 Desember 2012 di daerah Sagan Yogyakarta.
Sejak kecil memang tidak punya cita-cita tetapi memang ingin dibidang ekonomi tetapi orangtuanya menghendaki untuk kuliah di jurusan hukum. Akhirnya ia terpaksa membeli dua formulir untuk mengambil dua jurusan tersebut. Namun, ia diterima dijurusan ekonomi sesuai keinginannya.
Saugi mengalami pengalaman yang menjadi titil balik ketika dirinya benar-benar memutuskan tidak bekerja ikut orang lagi. Ia tak sengaja pada saat ingin mencari tempat usaha pas mengantarkan anaknya sekolah. Melihat sebuah lokasi di seputaran daerah Sagan Yogyakarta. Waktu itu, ia melihat warung bekas bakso kepala sapi yang sudah tidak terpakai. Ia sewa kemudian dipakai untuk jualan nasi rames dan nasi goreng.
Karena keuntungan dari berjualan nasi rames dengan harga sewa tidak seimbang. ?Saya pikir ramai tapi omset tidak kembali. Dalam 1 tahun, kok gak ada duitnya. Trus ia melihat tren pasar kuliner Jepang yang cukup ramai waktu itu.? katanya.
Keinginan untuk membuka usaha kuliner Jepang dan Korea semakin kuat, Saugi berniat mengikuti kursus singkat selama 2 minggu di Jakarta kelas basic untuk bikin sushi dan ramen. Setelah pulang dari Jakarta, ia juga bertemu dengan orang Malaysia kemudian shering menu lalu dibukalah warung kuliner tersebut. Dari awal dibuka, Saugi setiap 3 bulan ada evaluasi dengan melihat menu mana yang sering banyak dipesan. Jadi, memilih tempat di sini dulu juga karena menyelamatkan bangunan yang lama terpakai.
Menekuni kuliner Jepang dan Korea secara serius memang meiliki berbagai tantangan. Karena bagi sebagian orang memang kuliner semacam ini belum begitu familier sekali. ?Maka saya perlu mengenalkan menu bagi yang belum pernah sama sekali tahu,? imbuhnya. Cuma untuk saat ini cukup terbantu dengan maraknya drama Korea dan melalui media sosial.
Tantangan yang paling esensial sebenarnya lebih pada sumber daya manusia (SDM). ?Saya harus bisa menghandle seluruh karyawan dengan maksimal. Saya banyak merekrut karyawan yang berusia maksimal 25 tahun dan bukan dari latar belakang kuliner,? jelas lelaki pengagum BJ. Habibie ini. Alhasil dari berbagai karyawannya justru dari latar belakang pendidikan sekolah kejuruan da nada juga yang lulusan jurusan kesehatan.
Sebagai seorang owener sekaligus leader, Saugi selalu menerapkan nilai-nilai yang terus membangun motivasi. Ia shering dengan karyawannya selepas warung tutup. Shering seputar seharian apa saja yang dilakukan sembari evaluasi. Di proses inilah ia ingin menularkan nilai positif bagi karyawannya.
Menurut Saugi, sebagai seorang wirausaha di bidang kuliner banyak yang tidak bertahan dalam prosesnya. Padahal sebagai wirausaha itu harus butuh proses dan harus sabar dengan proses. Sementara usaha kuliner tidak bisa menggunakan prinsip begitu buka langsung ramai pembeli. Semua akan terlihat ketika sudah jalan 3 bulan, kemudian baru dievaluasi sebagai tolak ukur. Apakah ada customer balik lagi, terus kemudian ketika ada komplain harus dihandle sebagai bentuk-bentuk pelayanan yang memuaskan.
Omset yang sekarang sudah diraih cukup bagus, disamping ia menggunakan media pertemanan waktu sekolah dulu yang kemudian sering nongkrong di warung tersebut. ?Sekarang ini sudah punya beberapa temen sering nongkrong di sini, sama2 dijogja. Banyak anak-anak dari teman saya yang justru terinspirasi untuk menjadi wirsausaha,? tambahnya.
Impian terbesarnya tidak muluk-muluk, ia ingin buka cabang di beberapa tempat. Sementara masih di kuliner Jepang dan Korea sembari nanti melihat prospek ke depan seperti apa. Sampai hari ini Saugi masih hobi jalan-jalan dan kuliner. Sering mencicipi makanan apapun sebagai bentuk apresiasi dan refrensi soal rasa.
?Menjadi pengusaha itu jangan pernah mengambil hak orang lain. Kita jualan sedapat mungkin sesuasi dengan apa yang dijual dan sesuai dengan deskripsi. Misalnya di jam terakhir warung akan tutup ada pembeli ingin makan tapi menu sudah tidak lengkap, jadi saya selalu tekanan pada karyawan untuk harganya dikurangi.? Jelasnya.
Kejujuran itu penting. Mungkin kalau soal kesalahan lain bisa saja ia maafkan namun ketika menyangkut soal tanggung jawab dan integritas itu memang harus dipertahankan sebaik mungkin.
