HarianBernas.com-Endang Rukini saat ini menjadi Bisnis Coach untuk mahasiswa binaan Min Uno Foundation dan juga sebagai pengisi tetap di Yayasan Sedekah Ilmu. Selain itu, ia juga sedang membangun bisnis telur asin, yang menurutnya akan menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. ”Hidup adalah belajar. Saya memilih itu karena banyak hal yang saya temui dalam hidup saya dan semua itu menjadi pembelajaran bagi saya,” ungkapnya kepada Harian Bernas, Senin (7/11).
Wirawasta ini pun menceritakan pengalaman unik, khusus sehingga menjadi titik balik baginya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini.
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
“Saya sudah mengalami jatuh bangun dari beberapa usaha. Usaha dengan modal besar. Karyawan yang cukup banyak itu tidak menjamin bisnis akan lancar. Saya pernah buka fotocopy penjilidan yang cukup besar, travel agen juga. Saat itu, orang memandang saya sebagai pebisnis yang sukses karena memang fotocopy dan travel agent saya rame, tetapi tiap hari saya stress. Saya harus mikir bayar supliyer kertas, gaji pegawai yang cukup besar. Uang kontrak ruko yang sangat besar, itu yang memotivasi saya untuk menjadi bisnis coach, terutama untuk startup bisnis biar para pemula tidak salah langkah. Untuk telur asin, awalnya saya berpikir bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak butuh pegawai banyak. Tidak butuh tempat yang mahal dan juga untuk menambah penghasilan pembantu di rumah. Saya coba-coba belajar di internet pembuatan telur asin. Saya coba buat dengan suami di rumah dan kebetulan dulu, Ibu mertua saya sering buat telur asin sehingga suami saya bisa membuat. Saya keliling-keliling untuk belajar ternak bebek ke peternak-peternak, ternyata dapat pencerahan dari beberapa peternak di kampung-kampung,” urainya tentang alasan menekuni dua bidang profesinya saat ini.
Pendidik yang terlahir dari Bapak seorang guru dan Ibu yang berdagang di pasar ini pun mengungkapkan permasalahan yang paling sering dihadapi di kedua bidang profesi yang ditekuninya saat ini.
“Di bisnis coach, masalah yang sering timbul, klien tidak mau action. Dia beranggapan kalau punya coach, coachnya yang harus action. Untuk di bisnis yang saya jalani permasalahan yang sering timbul justru dari dalam. Untuk menyikapinya, saya cukup introspeksi diri, misal mungkin saya terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Di bisnis telur asin, tantangan bagaimana cara membesarkan industri ini,”ungkapnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Pebisnis telur asin ini juga membeberkan tentang tantangan ke depan yang akan dihadapi di dua bidang pekerjaan ini.
“Di bisnis coach, saya ingin mengubah mindset generasi-generasi muda kita supaya mereka setelah lulus kuliah tidak mencari kerja, tetapi bagaimana mereka menciptakan lapangan kerja dengan berwirausaha. Di bisnis telur asin, saya ingin membuat bisnis ini mendunia, karena telur asin harganya terjangkau dan bergizi tinggi. Saya ingin membesarkan bisnis ini dengan mengajak ibu-ibu rumah tangga supaya Ibu-ibu rumah tangga bisa mendapat penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah,” bebernya.
Ketika ditanya apakah bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat, ia menjawab bahwa penting karena ternyata selama ini orang merasa susah mencari telur asin yang enak dan berkualitas apalagi ternak bebek selama ini hanya banyak di Pulau Jawa. Orang di Sumatra dan Kalimantan kesulitan untuk mendapatkan telur asin bebek.
“Kemarin saya sudah kirim ke Palembang. Mereka sangat senang bisa menikmati telur asin tanpa harus datang ke Jawa. Otomatis, pasar di Indonesia saja masih sangat luas. Inilah yang memotivasi saya,” terangnya.
Coach Bisnis ini pun memberikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya.
“Semua orang harus punya mimpi yang besar. Mimpi itu kita realisasikan dengan kerja keras dan banyak belajar dengan orang-orang sukses. Belajar tidak harus ketemu langsung, tetapi bisa dilakukan dengan baca buku orang-orang sukses. Belajar dari internet dan ikut seminar-seminar. Sukses itu tidak instan. Dari pengalaman yang saya alami, saat itu, saya berpikir memulai bisnis asal punya modal pasti jalan, ternyata salah besar. Ingat sekecil apapun bisnis kita, itu namanya tetap perusahaan dan di dalam perusahaan itu, ada beberapa faktor yang harus kita kelola. Pada saat kita kerja ikut orang lain atau kita bekerja di sebuah instansi, saat itu kita hanya ditugasi di bidang saja misalnya sebagai marketing atau bagian keuangan atau di bagian IT, tetapi ketika kita memulai usaha, semua itu menjadi tanggung jawab kita. Kita harus bisa mengelola semua itu. Oleh karena itu, pesan saya untuk yang mau memulai usaha, persiapkan betul semua itu dan belajar pada ahlinya. Paling tidak punya mentor,” jelasnya.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Pemilik cita-cita ingin menjadi guru saat kecil ini memaparkan bagaimana lingkungan memengaruhinya hingga menjadi seperti sekarang ini.
“Lingkungan keluarga sangat mendukung, terutama Ibu saya yang tidak henti-hentinya memotivasi saya. Adik-adik saya sekarang juga sudah resign dari semua tempat kerja. Semua sudah berwirausaha. Untuk usaha telur asin ini, alhamdulillah suami sudah tertarik, bahkan resepnya pakai resep Ibu Mertua, ibu Raden Ayu Siti Supratjulani, resep tempo dulu. Beliau ini adalah keluarga kraton Yogyakarta dari HB VII. Semoga usaha telur asin ini benar-benar bisa menelor ke Indonesia sampai pelosok-pelosok Tanah Air sehingga bisa menikmati telur asin resep tempo dulu. Harapan saya, telur asin ini bisa diangkat menjadi oleh-oleh khas Kota Jogja selain gudeg dan bakpia,” paparnya.
Pencapaian yang paling membanggakan bagi peraih The Best Marketing dari Bringin Life adalah sebelum membuka usahanya saat ini, dulu pernah bekerja di asuransi, saat itu, ia pernah membuat cabang Jogja dalam pencapaiannya yang tertinggi di seluruh Indonesia.
“Tapi yang paling membanggakan adalah ketika saya bisa menghidupi beberapa karyawan di usaha saya. Saat Lebaran yang lain nunggu THR, saya bisa memberi THR. Itulah kebanggaan saya dan saya bisa menjadi seorang Ibu dari dua anak saya. Alhamdulillah, kedua anak saya cita-citanya ingin menjadi pengusaha,” tukasnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Perempuan kelahiran Wonosobo ini pun memiliki tokoh idola dan sosok yang berperan atas apa yang dicapainya saat ini.
“Untuk tokoh idola, Ibu Muryati Sudibyo, beliau memulai usaha diusia 45 tahun, jadi tidak ada kata terlambat untuk memulai. Beliau juga belajar terus di usia yang tidak muda lagi. Untuk sosok yang berperan, Ibu saya, Ibu Haji Turah. Ibu saya selalu bercerita bahwa ketiga anaknya bisa kuliah di luar kota, semua dari hasil dagang. Kalau mengandalkan gaji guru mana mungkin anak-anak bisa kuliah di luar kota. Saat itu, gaji guru sangat kecil, tidak seperti sekarang,”tukasnya.
Rencana atau project dalam waktu dekatnya adalah punya binaan produksi telur asin minimal berjumlah 10 dengan kapasitas produksi minimal 500 telur asin per hari sehingga dengan 10 pengrajin, sehari bisa menghasilkan 5000 telur asin dan sebulan sudah 150.000 telur asin.
Impian terbesar ke depannya adalah menjadi inspirator wanita yang bisa menyejahterakan ibu-ibu rumah tangga sebagai pengrajin telur asin sehingga para ibu rumah tangga bisa memberi pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya dan tidak hanya mengandalkan suami.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
