HarianBernas.com-Ikacha Ibrahim kini menekuni berbagai bidang pekerjaan seperti coach dari Marshall Goldsmith Stakeholder Centred Coaching, mentor untuk Customer Service, Supervisory Leadership and Transformational Service Trainer, dan owner konsultan training dan pengembangan SDM TBL Consulting dan Kinetika Performa Solusi.
Ia pun menyebutkan motto hidupnya “Your Quality is Reflected in The Standard You Set for Yourself. Standar seseorang dalam melakukan sesuatu sebenarnya gambaran dari kualitas dirinya. Anda diundang meeting jam 8.00 dan Anda baru datang jam 8.15 maka dapat dikatakan standard Anda rendah karena Anda datang terlambat dan dari sana sudah bisa diukur seberapa besar kualitas Anda dalam kedisiplinan,” ungkapnya ke Harian Bernas, (19/1).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Menurut istri dari Reja Akbar ini kualitas itu bersumber dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang.
“Ya itu tadi asalnya dari ‘being’. Jika being bagus maka tindakan bagus dan kualitasnya juga nyata terlihat bagus. Tidak perlu berkoar-koar soal kualitas karena kualitas terefleksi langsung dari apa yang kita lakukan,” imbuhnya.
Ibu dari anak laki laki bernama Rhazano (9 tahun) ini membagikan pengalaman uniknya yang menjadi titik baliknya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini.
”Meninggalkan profesi saya sebagai banker di saat banyak orang menganggap pekerjaan tersebut sudah cukup membuat hidup saya mapan. Banyak yang melecehkan dan beranggapan bahwa tidak mudah bagi saya untuk mendapatkan pekerjaan baru karena saya wanita, usia sudah lebih dari 30 tahun saat itu, dan berbadan gendut. Banyak yang berkata bahwa gengsi saya turun karena meninggalkan bank plat merah ternama di Indonesia. Tapi, saya pantang menyerah pada tujuan. Satu satunya yang mendukung hanya Ibu saya (Ayah saya telah meninggal dunia ketika saya resign). Saya nekat resign dengan keyakinan bahwa saya memiliki kualitas yang bisa saya tawarkan ke perusahaan lain. Terbukti saya hanya menganggur seminggu kemudian memperoleh pekerjaan baru dan lancar berkarir hingga jadi coach dan trainer hingga sekarang,” bebernya.
Ia pun menceritakan pengalaman unik di pekerjaannya ketika masih bekerja di bank.
“Dimaki-maki customer dan dilempar segepok uang lima ribuan ketika menjadi banker. Menyelesaikan kasus komplain seorang customer yang kartu kreditnya terdebet hingga puluhan juta sementara ia tidak pernah menggunakan membership yang ia miliki. Dari kedua kasus tersebut, saya belajar bahwa hubungan komunikasi dengan pelanggan jauh lebih berharga daripada nominal/ angka yang dibahas pada komplain tersebut,” terangnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Lulusan Magister Management dari Universitas Respati ini menjelaskan tentang alasannya terus menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang.
”Seperti yang tadi saya sampaikan, semula saya tidak menyukai dunia pelayanan, akan tetapi setelah saya tekuni sekarang saya dapat berkata bahwa dunia pelayanan adalah passion saya. Sejak kecil, impian saya adalah menjadi seorang pengajar dan mengapa saya menekuni bidang ini karena saya bisa melakukan kedua hal tersebut secara bersamaan. Saya bisa mengajar, berbagi pengalaman, dan pengetahuan tentang pelayanan dan saya juga melakukan tindakan pelayanan itu sendiri. Membantu para trainee, mentee, dan coachee, melayani mereka dan di saat bersamaan mengembangkan mereka/ mengajak mereka bertransformasi untuk menjadi lebih baik. Saya bahagia melayani, bahagia mengajar, dan bahagia jika melihat para trainee, mentee atau coachee yang saya bantu mampu bertransformasi dan mencapai hasil terbaik sesuai dengan keinginan mereka. Bisa saya katakan bahwa kebahagiaan dan kepuasan batin yang saya peroleh triple,”paparnya.
Bachelor of Administration dari Universitas Respati ini menceritakan bahwa ia tak pernah terlarut dalam permasalahannya, terutama dalam pekerjaannya.
“Saya jarang larut pada masalah karena menurut saya, dalam hidup kita akan selalu berhadapan dengan masalah. Saya berkeyakinan setiap permasalahan sepanjang bisa diukur pasti ada jalan keluarnya. Ketika berhadapan dengan masalah, saya berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan dengan being yang poitif dan melakukan kaizen atau improve sehingga masalah tersebut tidak berulang/ sering terjadi,” jelasnya.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Diploma of Accounting dari Polytechnic University of Indonesia ini membeberkan tantangan ke depan yang Anda akan dihadapi.
”Tantangan utama dalam bisnis, tentu saja persaingan/ kompetisi di bisnis yang sama. Akan tetapi, saya meyakini bahwa sepanjang saya menjual kualitas yang baik dengan pelayanan yang juga berkualitas maka saya akan mampu bersaing dalam kompetisi tersebut,” tuturnya.
Ketika ditanya apakah bidang yang Anda geluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat, penyuk hobi membaca, menulis, dan travelling ini menjawab pelayanan di Indonesia memang perlu diperbaiki.
“Well, di Indonesia terutama bidang pelayanan memang sangat perlu diperbaiki. Tidak hanya pelayanan publik, pelayanan yang dilakukan oleh pihak swasta saja masih banyak yang dikategori rendah atau buruk. Kebanyakan pelaku pelayanan di Indonesia masih bekerja ala kadarnya dan mostly transaksional. Apa yang saya lakukan terutama mensosialisasikan pelayanan yang berfokus pada kebaikan dan kualitas yang baik adalah untuk membuat masyarakat (terutama yang bekerja di bidang pelayanan) aware bahwa melayani adalah memberikan nilai terhadap hidup orang lain jadi penting sekali untuk bersikap baik dan positif dalam melayani. Impiannya kan pelayanan di Indonesia bisa sebaik pelayanan di negara negara maju,” ucap urainya panjang.
Pengagum Margareth Thatcher ini memberikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
“Bangun ‘being’ yang baik untuk menciptakan hasil yang baik dan berkualitas. Karena dengan being yang baik maka ‘doing’ atau tindakan yang dilakukan juga akan baik. Jika tindakan baik maka hasil atau ‘having’ yang diperoleh akan baik dan berkualitas. Sepanjang ‘being’ yang dibangun adalah ‘being’ yang positif maka gerakan atau usaha yang dilakukan otomatis akan positif dan kemungkinan untuk memperoleh hasil yang positif pasti besar,” tukasnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Penulis buku Sukses Mulia is My Life ini membagikan sarannya kepada orang yang ingin meraih kesuksesan seperti yang dicapai saat ini.
”Miliki tujuan hidup yang jelas, fokus kepada tujuan tersebut. Bangun ‘being’ yang positif. Selain itu, ‘Do what you love and love what you do’, pilih pekerjaan yang Anda sukai sehingga tidak perlu merasa bekerja dan sukai/ cintai apa yang Anda kerjakan saat ini jika Anda tidak memiliki kesempatan untuk mengerjakan apa yang Anda sukai. Jangan melakukan pekerjaan Anda dengan terpaksa karena ‘being’ terpaksa tidak akan menghasilkan apa apa selain keterpaksaan,” ujarnya.
Peraih Member Service Consultant of the Year ini memaparkan rencana atau projectnya dalam waktu dekat ini.
“Dalam waktu dekat mengembangkan Kinetika Training Centre yang berfokus kepada Transformational Service dan KAIZEN (Continuous Improvement) bersama dua orang sahabat saya yang juga coach dan trainer selain tetap melayani klien/customer melalui program coaching dan mentoring yang biasa saya lakukan. Selain itu, ingin Kuliah S3 dan punya sertifikasi instruktur yoga,” ucapnya.
Penulis buku Transformational Service ini membagikan impian terbesar untuk ke depannya.
”Memiliki sebuah Wellness Centre khusus untuk pelaku pelayanan yang setiap hari berhadapan dengan complain/ kemarahan customer. Wellness Centre for Customer Service ini harapannya bisa menjadi rumah singgah bagi semua pelaku pelayanan dengan fasilitas olahraga seperti yoga atau pilates, kesenian atau kegiatan apapun yang bisa menjadi pelepas stress atau bisa juga untuk berdiskusi dengan semua pelaku pelayanan untuk belajar dan bertukar pikiran mengenai pelayanan dan improvement dalam pelayanan (service kaizen) dan menjadi tempat bagi mereka untuk mengeluarkan segala unek unek ayang terkait dengan pelayanan. Idenya sih menggabungkan dua passion saya yaitu dunia olahraga dan dunia pelayanan,” pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
