HarianBernas.com – Berlatar belakang pengalamannya menjadi kepala desa selama 17 tahun di Desa Hargo Mulyo, Kecamatan Gedang Sari, Kabupaten Gunungkidul, Suparja, SIP kini menekuni pekerjaan sebagai anggota DPRD DIY, bergabung dengan teman-teman PKB di Fraksi Kebangkitan Nasional, Komisi B DPRD DIY.
?Dalam melakukan tugas, mungkin mendapatkan pengakuan dari masyarakat sekitar, Gunungkidul sehingga bisa menjadi DPRD tidak langsung melalui kabupaten, tapi langsung ke provinsi. Dalam kami mengabdi, kemungkinan ada nilai yang diterima masyarakat/ warga Gedang Sari pada umumnya,?ungkapnya ke Harian Bernas.
Di dunia politik, Suparja bukan orang yang baru. ?Awal mula, kami politisi dari PDIP. Kami menjadi kepala desa PDIP dari tahun 83-95. Saat menjadi kepala desa, harus bergabung dengan partai Golkar karena jaman Orde Baru, kepala desa wajib masuk. Era reformasi, kita netral sedikit. Setelah 17 tahun menjabat kepala desa mau nyalon lewat PDIP, kebetulan tidak ada peluang, saya ikut mendirikan pendirian Partai Nasdem di DIY, khususnya Kabupaten Gunungkidul. Kami merintis Nasdem di Gunungkidul sehingga bisa sampai di DPRD DIY,? tuturnya.
Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Gunungkidul ini merasa bersyukur atas pencapaiannya saat ini karena perjuangan untuk meniti karirnya. ?Tahun itu, Gunungkidul, terkenal tandus, pelosok di daerah. Untuk ongkos bis sekolah tahun 1974 harus bekerja sendiri. Jual daun jati (untuk bungkus tempe) untuk beli buku, pensil, dsb. Waktu SMP, pergi ke sekolah sambil jualan kayu bakar. Kita harus mencari uang sendiri. Unik, untuk mencapai SMA butuh perjuangan seperti itu. Kuliah tidak boleh, tidak ada biaya dan tidak ada saudara di kota. Sarjana pun setelah bekerja, bukan SMA langsung kuliah. Hidup kami sejak kecil penuh perjuangan, liku-liku,? bebernya.
Ia pun memiliki pengalaman tak terlupakan ketika berdagang di Jakarta tahun 1986-1995. ?Waktu belum punya kios, digaruk Pol PP. Gerobak dagangan dilempar mobil, saya ikut. Setelah saya ikut, tahu-tahu gerobak diturunin di Makam Tanah Kusir. Waktu itu jam dua (2) malam. Saya takut untuk mengambil itu,? ucap kenangnya.
Direktur Utama CV Galuh Mulia ini mengakui bahwa posisi kepala desa ini sangat menarik karena ada berbagai ilmu sosial kemasyarakatan dan ilmu pemerintahan. ?Istilahnya memecahkan berbagai masalah yang ada di masyarakat,? katanya.
Pengalaman uniknya sebagai anggota DPRD DIY, ia menjawab bahwa harus bergabung dengan teman-teman karena belum fraksi secara penuh dan harus menerima. Menjadi anggota dewan di provinsi, baginya tidak ada bargaining politik. ?Kalau tidak bohong, seorang politikus, ujung-ujungnya mencari kekuasaan. Di DIY ini, kekuasaan jelas habis karena UU No 13 tahun 2012 tentang keitimewaan, gubernur dan wakil gubernur langsung diangkat, ditetapkan. DPRD DIY tidak akan setajam dengan DPRD di luar DIY. Warga mengatakan DPRD kurang tajam boleh, tidak salah karena memang kondisinya seperti ini,? urainya.
Untuk permasalahan yang sering dihadapi dalam pekerjaannya, pria kelahiran Gunungkidul menjawab tentang memahami masyarakat, misal kalau pilihan itu disebutnya pesta demokrasi. Kalau di lapangan, yang namanya pesta demokrasi itu, pakai biaya yang sangat tinggi. Sering-sering kita kampanye atau rapat, kalau pulangnya tidak mengganti transport? Masyarakat sendiri sudah terbiasa sejak dulu. Jarang sekali, kita diskusi-diskusi kepada masyarakat tentang politik gratisan. Istilahnya, tetap memakai biaya. Inilah yang membuat kami sedih. Di negara kita seperti itu,?paparnya.
Permasalahan yang kedua, ia menjawab tentang kondisi ekonomi masyarakat. ?Kesenjangan yang ada sangat mencolok sekali di negara kita. Bagi kami, ini ancaman negara, bukan serangan dari luar. Di pelosok, kecenderungan perbedaan sosial ekonomi yang kaya dan miskin. Hilangnya rasa hormat menghormati antara yang muda dan tua. Kami sangat prihatin dan sedih dengan pendidikan budi pekerti di DIY dan Nusantara mulai merosot,?jelasnya.
Untuk tantangan ke depan, Penasehat Paguyuban Kepala Desa Gunungkidul ini menerangkan bahwa partai politik akan banyak banyak sekali. ?Utamanya, teman-teman yang membuat uu partai politik di pusat, istilahnya masih mementingkan golongannya. Conoth yang baru digagas saat ini, namanya dewan perwakilan rakyat, tapi dalam diskusi dsb, membentuk uu saja, masih dengan suara terbanyak, terbuka, tertutup, dsb. Ini sesuatu hal yang sangat ringan bagi masyarakat bawah yang memberi mandat, hei wakil, kamu membikin aturan yang semestinya melindungi hak-hak kami. Kalau tertutup, kewenangan untuk menentukan caleg itu terjadinya di tokoh-tokoh partai itu sehingga untuk nomor tertutup atau nomor urut, wewenang yang menjadikan bukan suara rakyat, tapi suaranya partai politik. Ini juga akan membodohi kalau ini sampai terjadi. Tantangan money poitic, di mana-mana terdengar. Sekarang pun tidak dipungkiri, teman-teman yang jadi DPR itu, beberapa ada yang murni diterima masyarakat, ada yang jadi karena memang uang, dan ada yang jadi karena popularitas sebelumnya. Itu tidak dibekali dengan ilmu politik yang kuat,? terangnya.
Ia pun menjelaskan tentang pentingnya posisinya sebagai anggota dewan di DPRD DIY penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Wakil rakyat memang penting digeluti dengan serius. Meski DPRD di DIY memang lemah, tapi kedudukannya di DIY penting karena representasi masyarakat DIY itu sendiri. Sebagai pejabat DPRD DIY, unsur penyelenggara Pemerintahan di DIY itu penting karena kalau nggak ada DPRD, peraturan yang di sini tidak bisa dilaksanakan sehingga kedudukan DPRD DIY di struktur organisasi pemerintahan sangat penting karena menentukan kebijaksaan, membuat dan mengesahkan aturan, menentukan dan mengesahkan anggaran, dan paling penting mengawasi penyelenggaraan pemerintahan di DIY. Sebisa mungkin, apapun yang kita buat di DPRD ini, harapannya berguna dan bermanfaat bagi masyakarat DIY,? katanya panjang menjelaskan.
Peraih Juara 1 Administrasi PBB tingkat Gunungkidul tahun 1997 ini membagikan inspirasinya kepada yang membaca artikel ini. ?Kisah yang saya sampaikan semoga memberikan semangat bagi yang membaca karena perjalanan berpolitik itu memang tidak yang sekonyong-konyong bagi orang yang tumbuhnya dari masyarakat kelas bawah seperti saya,? tukasnya.
Sarjana Ilmu Administrasi Negara ini membagikan rencana dalam waktu dekatnya. ?Sebagai seorang politisi dan ketua partai, partai Nasdem di Gunungkidul dan DIY minimal harus sama dengan partai yang sudah lama. Saya kepengen pengurus bergerak cepat, tepat, dan benar. Saya juga ingin Gunungkidul menjadi pusat pariwisata DIY yang terkemuka baik di Indonesia dan dunia. Cita-cita saya, di Gunung kidul, wilayah selatan menjadi ikon yang luar biasa, tujuan wisata utama, yang dulu dikatakan gersang, tandus, makannya gaplek, tiwul,? jelasnya.
Untuk impian, peraih Juara 2 Tingkat Poros Bidang Administrasi Pemerintahan dan Perpajakan tahun 1998 ini ingin partainya menang di tingkat kabupaten Gunungkidul dan tiga besar di tingkat nasional. ?Impian terbesar, menjadi seorang kader partai politik,? pungkasnya.
