Sleman, Harianbernas.com? Sebuah kegagalan merupakan hal biasa dalam berbisnis. Pantang menyerah untuk kebaikan, begitu setidaknya prinsip yang dipegang teguh oleh Sukarman (72), seorang warga dusun Tawangrejo Purwobinangun yang kini menggeluti bisnis di bidang peternakan ayam.
Inovasinya dalam bidang peternakan, yaitu menggunakan sistem closed house menuai hasil yang baik. Closed house system istilah dalam peternakan, atau yang lebih dikenal kandang tertutup ini belum lama Sukarman realisasikan dalam bisnisnya.
“Saya mulai pake closed house itu tahun 2016, baru-baru ini. Kalau enggak salah sekitar 6 bulan ke belakang,” ujar Sukarman, sambil menyenderkan kepala di kursi ruang tamu kediaman anaknya.
Sukarman(72) tak menampik, selain beternak ayam, dia juga memiliki beberaoa hektar kebun salak yang terletak di sekitar rumahnya. Namun, baginya hasil yang didapat dari kebun salak yang dimilikinya kadang kali tak sepadan.
Tak putus asa, dirinya memberanikan diri untuk memulai beternak ayam di lahan tanah yang tersedia di sekitar kediamannya. “Awalnya saya ternak ayam itu seperti pada umumnya, pakai kandang biasa. Tapi, sayangnya saya dapat keluhan dari warga, keluhannya itu karena bau dan lalat,” ungkapnya.
Kemudian, setelah mendapat keluhan dari warga sekitar, dirinya mendapat saran dari kerabatnya sesama peternak ayam untuk menggunakan sistem closed house. Tak pikir panjang, Sukarman menerima saran dari kerabatnya untuk membuat kandang tertutup.
“Setelah saya mulai pakai closed house, ternyata di periode pertama selama 35 hari, hasilnya sudah bisa kerasa, lebih menguntungkan. Selain itu, juga kualitas ayamnya bagus,” katanya.
Sistem closed house sendiri merupakan sistem pada peternakan ayam dengan menutup seluruh bagian kandang. Udara yang masuk dibatasi melalui tempat tertentu kemudian dihisap oleh kipas (blower) yang berada di belakang kandang.
“Angin yang masuk jadinya angin segar, melalui depan kandang, kemudian dikeluarkan lewat blower. Dan untuk bau kandang dari kotoran ayam itu bisa hilang juga karena kita semprot anti amonia setiap tiga hari sekali jadi enggak ada bau. Dan hasilnya, lebih bagus, waktu panennya lebih cepat, ayamnya sehat,” jelasnya.
Kandang yang dimiliki Sukarman berkapasitas 4000 ekor ayam saat panen dan penjualannya penghasilan kotor Rp. 38.000.000 dalam satu periode (35 hari). Setelah dipotong biaya operasional, penghasilan yang didapat Sukarman sebanyak Rp. 20.000.000.
Dalam membuat kandang closed house, memang dibutuhkan biaya yang cukup untuk memenuhi bahan-bahan yang diperlukan. Di antaranya, yaitu penutup seluruh kandang yang biasanya memakai terpal untuk menutuk atap, bagian kiri dan kanan. Kemudian, bagian depan bisa ditutup menggunakan kelambu agar lalat tidak masuk, tapi udara tetap bisa masuk. Bagian belakang kandang dipasang kipas (blower) untul menghisap udara yang masuk ke dalam kandang.
Sukarman juga mengatakan biaya yang dibutuhkan untuk membuat kandang memang tidaklah sedikit. Untuk satu kandang dengan kapasitas 5000 ekor ayam, dirinya harus mengeluarkan biaya hingga Rp. 50.000.000.
“Rp. 50.000.000, itu untuk biaya kandangnya saja, untuk ayam, pakan, dan operasional lainnya kerjasama dengan PT Unggas Makmur Indonesia (UMI), yang nantinya dari hasil penjualan ayam itu dipotong biaya operasional ke perusahaan, sisanya baru penghasilan bersih,” terangnya.
Tak butuh waktu lama bagi Sukarman untuk mengelola peternakan dengan sistem closed house. Sejak dahulu, pensiun PNS ini juga memang memiliki minat dalam bidang peternakan. Hasil yang didapat saat ini merupakan buah hasil dari teguhnya prinsip Sukarman untuk berusaha.
Jatuh bangun juga pernah dirinya alami selama berkecimpung di bidang peternakan. Bahkan, dirinya mengatakan sempat bangkrut beberapa kali saat beternak ayam telur dan terlilit hutang hingga dirinya sempat memutuskan untuk berhenti beternak dan menyewakan semua lahannya kepada peternak lain dengan harapan dapat mendapatkan sejumlah uang untuk menopang biaya hidupnya.
“Ke depannya juga saya harap peran Pemerintah untuk ikut membantu kami dalam bidang peternakan supaya warga lebih sejahtera,” katanya.
