HarianBernas.com – Don Bosco Doho, S.PHIL, MM, CET kini menekuni bidang pekerjaan sebagai dosen untuk mata kuliah Logika dan Filsafat Ilmu, Etika dan Filsafat Komunikasi, serta Metodologi Penelitian.
“Di luar waktu mengajar, saya menekuni beberapa profesi lain seperti sebagai Trainer, Pembicara dan Analis Grafologi untuk corporate dan lembaga sosial kemasyarakatan dan keagamaan serta institusi pendidikan,” ungkapnya ke Harian Bernas (21/1).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Untuk pencapaiannya saat ini, ia memiliki motto yang teguh dipegang selama ini, “A drop of water hollows a stone, not by force, but by continuously dripping”. Artinya, titik-titik air dapat melubangi sebuah batu yang keras, bukan karena kuatnya tetesan air tersebut, tetapi karena tetesannya yang jatuh terus-menerus. ”Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita selalu berusaha. Tidak ada mustahil kalau orang terus menerus dan konsisten berusaha. Mencintai pun merupakan usaha tanpa henti untuk meluluhkan pujaan hati. Tidak benar kalau kita selalu mengatakan “Aku cinta padamu, I love you”. Yang benar adalah aku selalu berusaha mencintaimu, I am trying to love you. Karena panggilan mencintai, termasuk mencintai profesi dan pilihan hidup adalah sebuah never ending process,”paparnya.
Kandidiat Doktor ini pun menceritakan pengalaman uniknya yang menjadi titik baliknya dalam kehidupannya. ”Hidup adalah perjalanan. Hari ini bertemu dengan orang baru, besok bertemu siapa lagi dan lusa entah. Setiap perjumpaan meninggalkan kesan dan makna tersendiri. Demikian pula dengan pilihan untuk menekuni sebuah profesi tertentu. Sebagai sebuah proses dalam menekuni profesi sebagai dosen, pembicara publik, baik berbayar atau charity saya pernah bekerja sebagai profesional di dunia bisnis. Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah proses pendidikan menjadi calon imam adalah panggilan untuk mencerahkan dan mengajarkan sebanyak mungkin orang dengan kemampuan retorika yang cukup. Atas dasar itu setelah melalui perjalanan panjang, maka pilihan menjadi dosen dan trainer adalah profesi mulia yang masih tetap dijunjung tinggi hingga saat ini,” ucap ceritanya panjang.
Penyuka hobi membaca ini menceritakan pengalaman unik di pekerjaan sebagai dosen. ”Ketika bisa bertemu dengan berbagai tipe mahasiswa dan mahasiswi dari angkatan ke angkatan. Sebagai orang yang ditempa dalam iklim yang disiplin, seringkali dinilai sebagai dosen killer, galak, dan susah berkompromi. Namun, selama prinsip disiplin demi kebaikan dan demi mempersiapkan generasi masa depan maka apapun persepsi dan stigma dari mahasiswa, saya cuek,” tuturnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Pria kelahiran Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur ini menjawab tentang alasan menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini. “Menjadi dosen logika dan filsafat mungkin bagi kebanyakan orang sulit mencerna setiap kata dan kalimat yang keluar. Setiap kata dan kalimat bermakna. Saya menjiwai bidang ini karena terpanggil untuk mengajarkan dan menanamkan kemampuan berpikir bagi setiap mahasiswa untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, melalui mata kuliah Logika, membedakan mana yang baik dan buruk melalui subject Etika dan membedakan mana yang indah dan mana yang jelek melalui mata kuliah Estetika. Jika seorang manusia dapat menerapkan ketiga keampuan dasar ini maka yakinlah orang tersebut akan menjadi orang yang berintegritas dengan ukuran ideal Baik. Melalui pelatihan dan analisis karakter pun muaranya tetap kepada tiga hal di atas. Tentang hal ini akan tetap saya jiwai dalam setiap tugas dan tanggung jawab saya ke depan,” jelasnya panjang.
Ayah dari dua putra ini juga memaparkan permasalahan yang paling sering dihadapi di dalam pekerjaannya. ”Sebagai dosen di era sosial media yang diwarnai oleh revolusi teknologi informasi saya sering menghadapi paradox. Kalau dulu dosen harus proaktif agar mahasiswa tidak brisik atau ribut di ruang kuliah selama perkuliahan berlangsung, maka sekarang betapa sulitnya membuat mahasiswa bersuara selama kelas berlangsung. Fenomena ini menjadi keprihatinan yang harus disikapi secara bijak. Selain bijak, saya juga harus pandai menyederhanakan materi yang sulit agar dapat dicerna dengan mudah dan mudah diingat,” ucapnya menerangkan.
Pemilik sertifikat Ethos Trainer (CET) ini mengungkapkan tentang tantangan pekerjaannya ke depannya. “Jam terbang tetap menjadi penentu keberhasilan dalam setiap profesi, demikian pula dengan profesi dosen atau trainer atau pembicara publik. Tantangan yang akan tetap saya dihadapi dalam pengajaran filsafat adalah bagaimana membumikan materi yang berat menjadi praktis dan tetap dikenang. Saya menyikapinya dengan banyak membaca, sering bertukar pikiran, tidak jemu berguru dan bertanya serta makin banyak merefleksikan setiap permasalahan kehidupan yang dapat dicerna dari perspektif filsafat,” tukasnya.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Flores ini menerangkan tentang bidang pekerjaan yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ”Bidang yang saya geluti adalah filsafat, kearifan, serta grafologi. Grafologi ini membawa warna tersendiri dalam komunikasi interpersonal saya dengan orang yang saya jumpai. Dalam filosofi grafologi ditegaskan, anda adalah apa yang Anda tulis (you are what you write). Ilmu ini memang terkesan sok tahu, tetapi setelah saya berusaha menelusuri hingga mengambil program sertifikasi untuk menjadi pembicara dan terapy tulisan tangan dan tanda tangan, saya mendapati kekayaan yang terkandung dalam tulisan seseorang. Dari tulisan dapat diketahui bagaimana masa lalu seseorang, masa depan dan bagaimana seseorang memandang dan memperlakukan dirinya. Dengan dan melalui tulisan orang lain saya dapat menempatkan diri ketika berkomunikasi dan bersosialisasi. Karakter dan nasib seseorang ternyata bisa berubah dengan mengubah tulisan dan tanda tangannya. Ini yang mendorong saya mendalami dan terpanggil untuk membagikannya kepada masyarakat luas. Sebab masih banyak orang yang perlu disadarkan mengenai makna dan pesan yang tersembuyi di balik tulisan dan tanda tangannya,” bebernya panjang.
Master dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia ini membagikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ”Dengan kisah ini, saya ingin menawarkan kepada banyak orang bahwa hidup yang hanya sementara ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan orang sebanyak-banyaknya. Kekayaan tidak akan dibawa mati, nama baik dan amal baik yang menetap di benak orang. Membuat orang lain berpikir tentang dirinya dan orang lain merupakan impian saya. Oleh karena itu selama saya bisa berbagai, saya akan membagikan ilmu dan pengalaman serta hasil refleksi saya kepada sebanyak mungkin orang, melalui tulisan, buku dan kegiatan berbagi lainnya,” katanya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Pengagum sosok Ayah ini menceritakan rencana atau projectnya dalam waktu dekat ini. “Rencana dalam waktu dekat ini adalah segera menerbitkan Buku Logika: Ilmu dan Seni Menalar, Buku Etika dan Filsafat Komunikasi, Filsafat Cinta dan Buku Komunikasi Perkawinan. Namun, semua ini diharapkan berjalan mulus setelah disertasi doctoral saya di bidang Leadership Berbasis Kearifan Lokal sebuah Studi Fenomenologi Hermeneutik,” jelasnya.
Sarjana Filsafat ini mengungkapkan impian terbesarnya ke depannya. “Impian terbesar ke depan adalah menjadi guru besar di bidang Etika, menjadi grafolog, dan membuka perpustakaan umum gratis untuk masyarakat di kampung halaman saya Flores. Orang Flores itu, rajin membaca tetapi buku dan majalah atau Koran terbatas. Maka ketika ada fasilitas umum dan gratis, jalan kepada pencerahan akan terbuka lebar,”pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
