HarianBernas.com – ?Aku selalu berdoa kepada tuhan, agar mengizinkanku menolong satu orang lagi. Kemudian aku berdoa lagi kepada Tuhan, agar mengizinkanku menolong satu orang lagi.? (Desmond Doss).
Saat sedang asyik menyereput kopi, tiba-tiba saja saya teringat seseorang yang cukup saya kagumi, Desmond Doss namanya. Mungkin bagi Anda yang berkarir di militer atau military addict juga tahu tentangnya. Ia adalah prajurit terbaik Amerika yang pernah ada. Namanya dikenal sebagai penentang perang pertama yang menerima medali kehormatan ?Medal of Honor?, penghargaan tertinggi Amerika untuk keberanian perang.
Ia juga dikenal sebagai conscientious objector atau dalam arti harfiahnya ?penentang yang sungguh-sungguh? atau ?penentang hati nurani?, adalah terminologi yang digunakan ketika seorang prajurit menolak untuk berperang atas nama hati nurani atau kepercayaan yang dia anut. Karena agama dan keyakinannya mengajarkan untuk tidak membunuh manusia. Namun, anehnya ia dengan keras ingin membela Amerika dan menjadi prajurit perang. Sungguh sangat bertolak belakang bagi pasukan perang yang tugasnya adalah menyerang dan membunuh lawan atau bila tidak ia akan terbunuh.
Bahkan niatnya untuk berkontribusi untuk negara bukanlah karena paksaan juga suruhan dari siapapun. Murni niat dari hati yang terpanggil untuk ikut membela negara. Awalnya memang ia mengikuti segala pelatihan militer dengan baik bahkan hasilnya diatas rata-rata. Hanya saja saat pelatihan senjata tiba, ia tidak mau mengikuti dan memegang senjata sesuai instruksi pelatihnya.
Akhirnya pelatihnya marah kemudian melapor kepada komandannya. Komandan Desmond Doss sungguh kaget dengan pernyataan beliau yang tidak rasional bagi seorang prajurit perang yang akan berperang, sehingga dengan berbagai macam cara ia memaksa Desmond agar mau menuruti perintahnya dan pelatihnya. Kehidupan di militer terasa sulit bagi Desmond.
Dia kerap diejek dan dikucilkan oleh banyak orang, termasuk rekan-rekan sesama tentara, karena sikap dan kenyakinannya itu, bahkan oleh para komandannya. Namun, hal itu tidak membuat kenyakinannya surut. Dia terus menolak memanggul senjata meski caci maki terus berdatangan. Bahkan di saat yang lain libur cuti, ia tidak diizinkan cuti karena tidak lolos pelatihan senjata. Padahal di hari libur cuti pertamanya ia sudah berjanji akan menikahi kekasihnya.
Setelah Desmond dihukum dan harus mengikuti pengadilan militer, akhirnya ia dibebaskan dan diterima keberatannya untuk tidak memegang senjata selama perang, dan ikut berkontribsi sebagai tim medis saja.
Selama masa perang tiba, yang awalnya ia dikucilkan dan sangat dikhawatirkan. Tiba-tiba berubah menjadi seorang yang sangat ajaib, ia tidak hanya sekedar brilian tapi juga bertanggung jawab akan tugasnya. Di saat pertempuran terjadi di pegunungan Hackshaw Ridge melawan Jepang ia terus maju, membantu mengobati, menenangkan dan mengamankan rekan-rekannya yang cidera atau terluka akibat baku tembak. Ia hanya bermodal keyakinan bahwa ketika menolong orang maka kita akan ditolong, itulah yang menyebabkannya berani walau tidak memiliki senjata ketika turun di medan perang.
Tekanan terakhir dalam perang di pegunungan Hacksaw Bridge terjadi pada hari Sabtu. Semua orang tahu bahwa Desmond tidak bekerja pada hari itu melainkan ibadah, tapi meraka menyadari kalau meraka butuh Desmond. Mereka tidak akan berperang tanpa Desmond. Desmond setuju dia bekerja di hari sabtu asalkan diberi waktu untuk membaca kitabnya dan berdoa. Maka, komandannya pun menunda pertempuran sampai Desmond Doss selesai dengan ritual-ritualnya. Selama dua belas jam, desmond bekerja menolong orang-orang terluka dalam satu pertempuran paling berdarah di Jepang selama Perang Dunia II
Hasilnya sangatlah menakjubkan! Menurut catatan ia berhasil menyelamatkan kurang lebih 75 orang prajurit di Hackshaw Ridge.
Dan Amerika berhasil menundukkan Jepang saat itu!
Desmond Doss meninggal pada usia 87 tahun pada Maret 2016. Sosoknya yang sangat rendah hati, dan selalu memberikan pujian kepada Tuhan adalah yang patut diteladani.
Dan ?Mengubah keyakinan seseorang adalah perbuatan yang salah tidak peduli itu militer atau siapapun. Saat kau memiliki keyakinan, itu bukanlah lelucon. Itulah dirimu yang sebenarnya.? (Harold Hal Doss).
Salam bahagia,
Aristha J. Kusuma | Youngest Indonesian Trainer 18th & Turbo Learning Specialist
Penulis buku :
Cara Dahsyat Mengoptimalkan Potensi Diri
Novel 'Cinta di Balik Rasa'
Antologi 'Dear Friend'
www[dot]aristhajkusuma[dot]com | WA: 082384912456
