Kebumen, HarianBernas.com-Desa Sidomulyo dan Desa Grujugan, di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen sudah puluhan tahun sebagai sentra industri caping bambu. Di 2 desa itu, sebagian besar rumah tangga, pasti ada satu atau dua desa keluarga menjadi perajin caping. Tidak salah, jika produk caping bambu dari 2 daerah ini cukup besar. Produk mereka tidak menumpuk karena pasarnya yang sampai Luar Jawa.
Desa yang letaknya 8 km dari Kota Kebumen ini, sebagian besar warga di desa, selain sebagai petani, juga sebagai perajin caping bambu. Di beberapa rumah, yang biasanya pengepul caping, hampir tiap hari di halaman rumahnya, ada caping setengah jadi atau baru anyaman dijemur.
Seperti yang disaksikan Bernas, Kamis (23/3), di satu kampung di Sidomulyo, ada 2 pengepul kerajinan caping. Umumnya baru setengah jadi yang dijual perajin kepada pengepul pertama. ?Harga bahan caping masih anyaman, sepasang Rp 4000, seorang di sini, sehari paling banyak bisa membuat 3 pasang, atau Rp 12.000 per hari,? ujar Marsiman (47), salah satu pengepul di desa itu.
Tahapan selanjutnya, bahan caping yang masih anyaman, dirapikan dan dibentuk. Di bagian pinggirnya untuk merapikan, dengan cara dijahit dengan tangan, upahnya Rp 2000 per buah. Pada tahapan ini, setiap perajin paling banyak menyelesaikan 1 kodi atau mendapat upah Rp 40.000 per hari.
Marsiman yang ditemani Turino (37), perajin caping mengakui, tidak khawatir dengan pemasaran caping dari 2 desa ini. Sudah ada pengepul besar yang siap menampung dan membeli produk caping mereka, berapapun jumlahnya. ?Sudah ada pengepul besar, siap memasarkan, sampai Sumatera,? kata Marsiman sambil menyebut 2 nama yang membantu pemasaran caping mereka.
Mereka sadar, tidak mungkin pemasaran caping hanya di Kabupaten Kebumen karena produk caping mereka cukup besar. Pasar caping di beberapa kabupaten di Jawa dan Sumatera menjadikan produk caping asal Sidomulyo dan Grujugan, cepat terserap pasar.?Kalau hanya dipakai petani di Kebumen menumpuk,? kata Turino. (nwh).
