HarianBernas.com – Membaca memang satu dari sekian cara untuk mendapatkan pengetahuan dan kepuasan batin. Dewasa ini semakin banyak genre-genre yang berkembang di Indonesia seperti halnya 'teenlit' dan 'metropop.'
Namun sempatkah Anda menilik novel-novel berbau sastra yang ringan dibaca? Tidak banyak orang mau membaca karya sastra yang (mungkin) dikarenakan munculnya anggapan bahwa karya sastra itu acapkali identik dengan hal-hal yang rumit, tidak jelas, bahkan membuat pusing.
Baca juga: Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
Tahukah Anda jika ada karya-karya sastra yang sifatnya ringan dan tidak mengandung banyak kerumitan? Jika dibanding dengan genre-genre novel yang berkembang saat ini, lima karya sastra Indonesia di bawah ini memiliki sesuatu yang tidak akan Anda temukan di novel-novel dengan genre teenlit, metropop ataupun yang lainnya.
Kelima novel di bawah ini memiliki keindahan tersendiri dalam pemilihan kata, pengungkapan rasa, dan penyampaian maksud kepada pembaca. Bahasa Indonesia yang terkadang terasa kaku atau kurang fleksibel jika digunakan untuk penuturan cerita, maka di dalam lima karya Sastra Indonesia ini, hal itu tidaklah berlaku. Inilah lima karya sastra yang wajib Anda tahu dan baca:
1. Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata
Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, SJ, adalah nama lengkap dari penulis novel karya sastra klasik Anak Bajang Menggiring Angin yang pertama kali diterbitkan tahun 1983. Novel ini menceritakan sebuah kisah yang sangat terkenal, sebuah roman cinta antara Rama dan Dewi Sinta yang lebih dikenal dengan kisah Ramayana. Meskipun tanpa perlu dibukukan, kisah Ramayana sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat Indonesia.
Hanya saja yang membuat novel ini terkenal bukanlah kisah besar Ramayana di dalamnya, justru kisah-kisah kecil dan sederhana yang oleh Sindhunata dituliskan dengan begitu apiknya yang membuat novel ini terkenal. Pemilihan kata Sindhunata yang begitu indahnya seakan-akan membuat para pembaca meresapi setiap makna dari kisah di dalamnya. Diubahnya Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang begitu elok.
Baca juga: 4 Langkah Menemukan Ide Pokok Paragraf dengan Mudah
2. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
Suatu kepuasan batin tersendiri ketika Anda dapat benar-benar membayangkan, merasakan, bahkan seolah-olah mampu menciup aroma yang digambarkan oleh seorang penulis dalam suatu novel. Disinilah Ahmad Tohari hadir dan memberikan segala deskripsi lengkap mengenai suatu keadaan sebuah dukuh dengan segala kekurangan dan kelebihannya dengan latar belakang tahun 1950an-1960an.
Dengan apiknya Ahmad Tohari mampu memberikan gambaran-gambaran secara gamblang melalui pemilihan-pemilihan katanya. Ronggeng Dukuh Paruk merukapan novel sastra penggabungan dari trilogy yang ditulis oleh Ahmad Tohari, yaitu: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Novel ini juga sudah diangkat menjadi sebuah film dengan judul Sang Penari yang dimainkan dua artis terkenal yaitu
3. Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer
Siapakah yang tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer dengan segala hal yang melekat pada dirinya terutama dalam karya-karyanya yang kritis. Pria yang sempat menjadi tahanan politik di Pulau Buru ini berhasil membuat suatu karya bahkan catatan-catatan yang terkenal mendunia, bahkan beberapa kali mendapat penghargaan sastrawan seasia di Jepang.
Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini menceritakan tentang perjalanan seorang tokoh Minke dengan latar belakang masa penjajahan. Diceritakan oleh Pramoedya, Mike adalah seorang anak yang pandai menulis hingga tulisannya membuat banyak orang terkagum-kagum. Pada masanya, Minke adalah seorang tokoh revolusioner yang berani melawan ketidakadilan.
4. Saman dan Larung karya Ayu Utami
Ayu Utami adalah seorang penulis wanita yang sudah banyak menuliskan karya-karya sastra yang cukup laris. Salah satu diantara karya terbaiknya adalah dwilogi Saman dan Larung. Saman dan Larung ini merupaka dua buku yang saling berkaitan berlatar belakang masa reformasi. Saman adalah sebuah karya sastra, terbit tahun 1998, yang menceritakan tentang kisah seorang pastor muda Katholik.
Pastor ini berpindah haluan sebagai aktivis sosial di suatu lembaga swadaya masyarakat yang menantang segala bentuk ketidakadilan terhadap rakyat dan merubah namanya menjadi Saman. Sedangkan Larung sendiri adalah kelanjutan dari Saman yang terbit tahun 2001 ini masih menceritakan kisah Saman yang bertemu dengan seorang pemuda bernama Larung. Latar belakangnya masih seputar reformasi dengan penggunaan bahasa Indonesia yang menawan.
5. Burung-burung Manyar karya Y.B Mangun Wijaya
Inilah salah satu diantara sekian banyak karya sastra Indonesia yang berlatar belakang politik tahun 1945. Novel karya Y.B Mangun Wijaya ini sempat diterjemahkan kebeberapa bahasa, salah satunya tentu saja Bahasa Inggris. Karya sastra satu ini juga tidak jauh-jauh dari kisah yang berlatar belakang kemerdekaan, bahkan latar belakangnya mengambil kisah saat kekalahan Belanda terhadap Jepang. Perjuangan Teto dituliskan secara apik oleh Y.B Mangun Wijaya.
Itulah sekilas karya-karya sastra yang perlu diketahui dan wajib untuk dibaca.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
