HarianBernas.com – Nuansa alam pedesaan Klurak, Tamanmartani, Kalasan yang asri menyentuh ramah ketika memasuki pelataran Poeri Devata Resort Hotel Yogyakarta. Hawa sejuk udara juga terhirup dan menerpa segar tiada tara apalagi dari kejauhan, di pandangan mata tampak kemegahan Candi Prambanan, membalut segala kepenatan sehari-hari. Panorama di sana sungguh menentramkan hati. Resort ini telah berdiri sejak tahun 1989.
Tak sampai lima menit menunggu, Direktur Poeri Devata Resort Hotel Yogyakarta,R Aj Lupitasari, SIP, MM menyapa akrab ketika ditemui Harian Bernas. Ia pun mulai menceritakan tentang bidang pekerjaan yang rutin dilakukannya. “Bidang yang sedang ditekuni saat ini berkaitan dengan pariwisata. Dipasrahi orangtua mengurus Poeri Devata. Seksi repot. Secara struktural, menjadi direktur di Poeri Devata,” ungkapnya ke Harian Bernas, (4/3).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Mengurus resort hotel ini menjadi pengalaman barunya karena sebelumnya lama bekerja di sebuah bank. Ia pun mengaku bahwa tak mengenyam dasar pengetahuan terkait dunia perhotelan atau pariwisata sama sekali. “Di sini, pengalaman baru. Saya memang tidak punya basic perhotelan atau pariwisata sama sekali. Basicnya, hubungan internasional. Sebelumnya, bekerja di bank, 6 tahun,” tuturnya halus.
Bagi Lupitasari, menangani Poeri Devata Resort Hotel menjadi tantangan tersendiri. “Saya nol pengetahuan tentang perhotelan dan pariwisata. Harus belajar tentang perhotelan seperti apa sih, karakternya seperti apa sih? Belajar juga tentang karakter pasarnya si hotel itu, seperti apa sih? Apalagi Poeri Devata sendiri berbeda dengan hotel yang lain, yang building. Bentuknya resort, tentu pasarnya beda lagi,” terangnya.
Dengan pengalamannya selama dua tahun, wanita bertutur halus ini sudah mulai bisa memetakan tentang pasar konsumen untuk resortnya.“Kalau pasarnya, resort itu jarang sekali anak muda yang datang ke sini. Di sini, biasanya family atau pensiunan, yang memang punya waktu luang untuk wisata, dalam arti, relaksasi diri. Santai sejenak dari hiruk pikuk pekerjaannya. Di sini mayoritas tamunya, 90% asing, lalu 70% orang-orang usianya di atas 50 tahun. Hal-hal seperti itu, awalnya saya tidak tahu. Saya harus memahami, kalau pasarnya seperti ini, karakternya seperti apa. Dari Inggris, Belanda, Amerika, Rusia. Selain Barat, juga ada dari Asia, Korea sama Jepang, yang usianya lebih muda dan merasa enjoy di sini. Domestik jarang, hanya ketika lebaran dan tahun baru,” urainya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Dua tahun belakangan ini, ia memang sedang benar-benar fokus setiap hari untuk membangun wajah Poeri Devata yang baginya memang terkesan resort tua. ”Jujur, ini memang hotel tua. Pertama kali ke sini, saya rada pesimis, apakah tamu itu akan menyukai kondisi apa adanya di sini. Yang membuat berkesan dan optimis, ternyata melayani tamu domestik dan asing itu beda. Bagi kami yang bekerja di bidang jasa, lebih mudah melayani tamu asing. Kalau tamu domestik, fasilitas yang ada di kamar sama fasilitas di rumahnya, bisa lebih bagus dari kita. Orang Indonesia itu tipikalnya demanding, ibaratnya sudah mengeluarkan uang sekian, ya harus dapat fasilitas yang begini-begini. Kalau orang asing, yang dia cari suasana dan pelayanan. Masalah fasilitas dan sarananya, asal pertama masih berfungsi baik dan yang kedua bersih. Mau kondisinya seperti apapun, ia (tamu asing-red) no problem. Orang asing seperti itu dan mereka fair,” jelasnya.
Bisnis resort rupanya bukan menjadi hal baru bagi kelurganya karena kebetulan, Ayah dan Ibu memang basicnya tertarik di dunia pariwisata sehingga usahanya pun berupa hotel dan rumah makan. “Secara spesifik, manajemen perhotelan tidak mendalami. Di sini, saya didampingi saudara saya yang dulu pengalaman di perhotelan yang cukup lama, seorang pensiunan pekerja hotel. Waktu luang mendampingi saya dengan hal-hal yang kaitannya dengan operasional perhotelan. Ibu Hermi, membantu saya untuk memahami perhotelan,” tukasnya.
Dalam perjalanan waktu, ia pun sering mendapat komentar yang bagus atau positif dari sejumlah tamu asing untuk pelayanan resortnya. “Komennya yang dibuat selalu bilang service di sini bagus. Untuk itu, service excelent yang saya fokuskan ke anak buah. Karena memang fasilitas yang ada seadanya, yang bisa kita lakukan adalah melayani. Sebisa mungkin, jangan katakan tidak pada tamu. Masalah nanti tidak bisa, urusan belakangan, pokoknya di depan yang penting bisa dulu. Masalah, tentang tidak bisa, bisa dikomunikasikan di dalam, gimana caranya supaya itu bisa,” bebernya.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Penyuka hobi membaca ini pun menceritakan lagi tentang adanya satu tamu asing yang sampai-sampai dia menulis surat untuknya, tulis tangan lagi. “Di sini itu seperti di rumah sendiri, yaitu diorangkan, dilayani semaksimal, diperhatikan. Inilah enaknya dengan tamu asing. Dia bisa kita sentuh sisi emosionalnya. Cuma dengan memerhatikan dan kita sapa setiap hari, Anda sehat hari ini? Mereka sudah mengerti bahwa kita memperhatikan tamu sehingga mengerti dengan kekurangan yang ada di sini. Yang bisa kita maksimalkan, service pelayanan yang terbaik. Disentuh emosionalnya, itu yang bisa membuat mereka seperti di rumah, betah, dan merekomendasikan,” paparnya.
Selain itu, tahun lalu, ada tamu asing seorang ibu bule dari Singapura yang berwisata ke Poeri Devata Resort. Waktu itu, entah dengan teman atau sudaranya. Dia berkesan sekali di sini, dia dilayani dengan baik. “Apa yang menjadi kebutuhan dia, di sini kita bisa memberikan dengan cepat dan segala macam. Ternyata, kita baru tahu, anaknya dia seorang kontributor trip advisor. Waktu di sini, ia cerita sama anaknya, ‘You have to come here’. Setelah pulang, ia masih bercerita dengan anaknya. Januari, anaknya datang ke sini. Pertama, hanya stay satu malam menjadi stay lima hari. Akhirnya, dia cerita, saya tahu hotel ini dari Ibu saya. Ternyata apa yang diceritakan Ibu saya itu sesuai dengan apa yang saya alami di sini. Ia baru cerita setelah tinggal beberapa hari tinggal di sini. Dia enjoy dan senang, kebetulan dia travel blogger. Jadi waktu check out, dia akan menulis di blognya. Yang bisa kita harapkan dari tamu itu sebuah rekomendasi yang bagus. Mungkin terdengar sepele, tapi bagi kami ada satu pencapaian. Service itu, ikhlas,” urainya panjang.
Ia pun tak lupa memberikan inspirasinya kepada yang membaca kisahnya ini. “Saya itu bukan orang terlalu memikirkan gender, tapi saya merasa bahwa perempuan itu sebenarnya bisa lho jadi apapun yang diinginkan apalagi di Jawa. Saya itu, dua bersaudara, kakak saya laki-laki dan saya anak bungsu. Dari kecil, saya melihat ayah saya lebih keras pada saya, bahkan sampai SMP, SMA, Kuliah. Waktu keluar dari bank, saya pernah dilarang sama Ayah karena pokoknya, saya harus bekerja. Yang namanya perempuan tidak hanya di rumah, ada hal-hal yang bisa diraih lebih,” ucapnya.
Penyuka hobi travelling ini [un membocorkan project terdekatnya dan impiannya. “Mau buka outbond di Poeri Devata, yang bentuknya tim buliding. Lalu, ingin ada renovasi. Pertama, layoutnya. Kedua, catnya mau diubah dan peremajaan produknya. Untuk impian, pariwisata Jogja seperti pariwisata Bali. Untuk resort ini, sekarang bintang tiga bisa menjadi bintang lima dengan sarana dan prasarana karena lokasinya sudah prime, pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
