HarianBernas.com – Sejak dulu, RB Dwi Wahyu B, SPd, MSi memang menyukai tentang politik, tapi ia tidak pernah bercita-cita untuk menjadi anggota dewan. Sejak tahun 2009 menjadi anggota DPRD DIY, ia hanya menganggap bahwa perjalanan hidupnya mengalir begitu saja.
Wakil Ketua Fraksi Komisi B DPRD DIY ini juga mengisi kesehariannya sebagai Entrepreneur Property. Ketika diwawancarai di ruangannya, ia mengakui bahwa tidak pernah mempunyai cita-cita dalam hidupnya. ?Saya pernah disuruh Bapak menjadi guru, tapi saya tidak suka menjadi guru. Namun, saya suka pendidikan, lalu mendirikan LPK (Lembaga Pelatihan kerja) karena kesukaan saya terhadap dunia pendidikan,? ungkapnya ke Harian Bernas.
Sebelum menjadi anggota dewan, pria kelahiran Sleman ini pun mengenang bahwa dulu paling suka memakai baju yang terkenal disebut baju DPR-an. Rasa suka ini muncul karena pengaruh dari sosok Bapak, seorang guru, yang pasti punya stelan baju model DPR-an saat itu. Baju DPR-annya ini dibuat dari sisa bahan baju DPR-an Bapak kalau sedang menjahitkan. ?Saya paling suka pakai baju (DPR-an) itu. Bahkan, saya mau melepas baju itu pas saya tidur karena tidak mau dilepas,? kenangnya.
Sosok Bapak bagi RB Dwi Wahyu memang sangat memengaruhinya karena mengarahkannya ke konstruksi berpikir Soekarno. Sejak SMP, ia mengaku sudah membaca buku Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi karena diperintah Bapaknya walaupun tidak tahu artinya. Saat itu, menjadi buku terlarang karena orang yang baca buku itu, takut di-PKI-kan. Ketika lulus SMP, ia baru diterangkan tentang apa itu kapitalisme, nasionalisme, dan nasakom karena Bapaknya yang guru memiliki banyak teman yang menjadi politikus. ?Kalau pergaulan, langsung masuk di partai, ketemu teman-teman kampus, itu yang memotivasi saya. Dulu tidak pernah terngiang menjadi DPR, tapi asyik ketika mengadvokasi masyarakat dan goal. Itu asyik bagi saya. Dedeciation of life Soekarno itu top, ia merasa bukan apa-apa dan tidak berarti apa-apa ketika tidak berguna bagi sesama dan Tuhannya,? tukasnya.
Di properti, suami dari Anastasia Endang Sulistijowati, SPd ini pun menceritakan pengalaman uniknya. ?Di properti, kalau properti tidak laku-laku pusing. Lihat tukang nganggur, beban. Kalau kelamaan nganggur bisa lari. Sekarang, cari tukang susah. Untuk menjadi dewan, mengalir saja. Itu bukan sebuah cita-cita meski sejak kecil suka politik. Tahun 1999, menjadi dewan, tapi mengundurkan diri. Tahun 2009, nyalon lagi karena tertantang dari UU Pemilu saat itu yang banyak-banyakan suara, tidak nomor urut. Tertantang untuk mencoba, apakah saya laku apa tidak,? terangnya.
Dalam perjalanannya menjadi anggota dewan, Direktur utama LPK VISTA ini memaparkan tentang permasalahan yang paling sering muncul di hadapannya. ?Politik itu, salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan apa saja, termasuk permasalahan yang ada di masyarakat. Ketika berbicara permasalahan di masyarakat, tidak mungkin saya akan memberikan semuanya. Pastinya saya akan lebih strategis ketika saya ada di dalam sistem. Karena DPR, mempunyai kewenangan tentang anggaran di mana anggran harus berpihak terhadap apa yang dibutuhkan masyarakat,? paparnya.
Kendala-kendala yang muncul ketika melakoni profesi anggota dewan pun disinggung oleh ayah dua anak ini. ?Ketika masyarakat memberikan aspirasi yang tidak logis, masyarakat kan sukanya charity. Nih kasih apa, kasih apa. Masyarakat kadang-kadang tidak peduli dengan aturan yang ada. Ketika dewan tidak bisa memberikan itu, mereka selalu men-judge bahwa dewan DPRnya tidak becus. Kita pasti selalu berpikir bagaimana memberikan solusi walaupun ketika berbicara tentang solusi, pasti ada timbal balik di masyarakat. Ketika memberikan hibah bansos, masyarakat harus punya lembaga hukum. Nggak mungkin lembaga hukum masyarakat itu ada sehingga harus mencari, padahal masyarakat butuh lembaga hukum itu untuk bansos. Hal ini sulit juga. Pokok-pokok pikiran ini menjadi solusi tadi. Terkait dengan hibah bansos ini, bagaimana tidak memberatkan masyarakat untuk mempunyai lembaga hukum masyarakat itu sendiri,? tambahnya panjang.
Untuk tantangan, alumni Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Yogyakarta ini pun mengisahkan tentang hal berikut ini. ?Ya tantangan mempertahankan kekuasaan menjadi DPR. Harus mempersiapkan konstituen supaya besok bisa milih kita lagi. Tantangan selanjutnya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat supaya sadar berpolitik dan tidak termakan politik transaksional. Kadang tidak semua dewan itu melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Ada yang setelah jadi, ya tidak pernah ke konstituen. Pikirannya, besok kita beli karena terbukti efektif. Ini yang paling tukang ngrusak. Saya selalu bilang, yang namanya DPR itu, waktu orde baru dengan sekarang secara kulaitas bagus-bagus dulu. Sekarang itu, orang tidak tahu apa bengkoknya politik itu apa, bisa jadi DPR karena punya logistik. Ini yang membahayakan. Teman-teman PDIP ini relatif mesti tidak pakai duit. Kalau untuk beli makan dan minum, wajar. Kalau sampai kepada ngamplopi, tidak,? bebernya panjang.
Untuk pencapaian yang membanggakan, ia menjawab bahwa ketika proses menjadi DPR tidak melalui UU No Urut, tetapi diuji oleh seberapa besar dukungan terhadapnya dan dukungan itu meloloskannya.
Inspirasi pun tak lupa disampaikan anggota dari Komisi B DPRD DIY ini untuk yang membaca kisahnya ini. ?Harus menjadi pemilih cerdas. Ketika dia memilih, dia harus tahu siapa dia dan perjalanan berpartainya. Saya sampai menjadi pengurus DPD ini, orang tertinggi di DIY dari satgas, komcam (tingkat kecamatan), jadi PAC, jadi DPC kota. Kalau menjadi pengurus dari bawah sampai provinsi, saya alami,? jelasnya.
Penyuka hobi membaca ini menceritakan tentang project terdekat dan impiannya. ?Untuk Project, ya mempersiapkan tahun 2019, baik untuk diri saya dan mengegoalkan calon presiden. Sesuai keputusan MK kemarin bahwa pemilu besok itu, pemilihan presiden dan legislatif itu bareng. Ini butuh sosialisasi. Pilkada waktu dekat ini ya satu tarikan napas dengan konsolidasi tahun 2019. Untuk impian, jadi anggota dewan lagi,? pungkasnya.
