HarianBernas.com – Dedi Priadi, MT, MA kini menkuni pekerjaan sebagai periset sekaligus trainer. Sebagai periset, riset utamanya terkait penelitian sidik jari psikologi (psychological fingerprints), yaitu suatu bidang riset psikologi yang bukan saja baru, tetapi juga banyak menemui banyak tantangan kalangan profesional psikologi. ?Alhamdulillah, setelah lima tahun riset dan pengembangan, pada bulan Oktober 2014, kami meluncurkan sebuah produk riset piranti pemetaan potensi genetik Tes Sidik Jari PRiADI (PRiADI Psychological Fingerprints) yang dapat menjadi acuan asesmen potensi alamiah untuk semua usia (all age assessment),?ungkapnya ke Harian Bernas (11/2).
Sebagai trainer, fokus utamanya, mendampingi klien menemukan potensi alamiahnya secara cepat, akurat, dan menyeluruh berdasarkan panduan hasil Tes Sidik Jari PRiADI. Ia menyebutnya ini sebagai proses pencarian jati diri (self-discovery process). ?Belajar mengenali diri selain mendekatkan kepada kesuksesan di dunia, juga jalan terbaik mengenal Tuhan. Jalan menuju Tuhan sebanyak helaan nafas hamba-Nya dan jalan terbaik menuju-Nya adalah dengan mengenal lebih dalam tentang siapa sesungguhnya jati diri Anda,? tuturnya.
Pemilik cita-cita sewaktu kecil ingin menjadi dokter ini menceritakan pengalaman khusus yang menjadi titik baliknya sehingga tertarik pada sidik jari pskilogi. ?Awal ketertarikan saya mendalami psychological fingerprints berawal dari kegelisahan saya untuk mengetahui potensi alamiah anak saya-Elhurr Zohaeri Nur Muthahhari-saat dia berusia 3 tahun. Metode observasi pemetaan potensi psikologis anak yang ada pada saat itu tidak terlalu meyakinkan saya untuk bisa melihat potensi alamiah psikologis Elhurr secara akurat dan komprehensif. Karena lain observer, seringkali lain pula simpulan psikologisnya. Sebagai orangtua, saya butuh satu panduan yang lebih firm, lebih meyakinkan, sehingga bisa menjadi panduan saya dan istri saat melakukan pendampingan berkala kepada anak kami yang tengah tumbuh kembang,?bebernya.
Dari pengalamannya melakukan observasi psikologi perilaku Elhurr ini, Sarjana Sains ini terus menekuni bidang sidik jari psikologi hingga sekarang ini. Ia pun juga menerangkan tentang alasan lain untuk terus menekuni bidangnya. ?Mengenal diri adalah puncak pengetahuan. Saya merasa bahagia karena telah membantu banyak orang lebih mengenal dirinya; membantu mereka mengenali karakter unggul mereka sekaligus membantu mereka mengantisipasi potensi resiko perilaku (risk behaviors) alamiah yang mereka miliki. Saat para orang tua terbantu melihat kecenderungan perkembangan kepribadian anak-anak mereka, para siswa dan mahasiswa terbantu melihat kecendrungan minat studi dan preferensi pekerjaan mereka, dan perusahaan terbantu melihat memetakan potensi alamiah karyawan-karyawan mereka, itulah kebahagiaan saya. Perasaan bahagia inilah sumber energi utama mengapa saya bertahan dan ingin terus berkembang dalam riset dan pengembangan sidik jari psikologi,?urainya.
Alumnus ITB (Institut Teknik Bandung) ini menceritakan pengalaman uniknya di bidang pekerjaannya. ?Suatu waktu saya dan tim diundang untuk melakukan pemetaan dan training Inborn Character Management ? training khusus terkait hasil analisis Tes Sidik Jari PRiADI? kepada sekitar empat puluh orang di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Setelah diambil sidik jari dan dianalisis sebelumnya, saya lalu menyampaikan materi training saya. Sebagai pengantar saya terangkan argumentasi logis atas analisis sidik jari yang kami lakukan dan seberapa akurat sistem kami bisa mengetahui karakter dasar setiap orang di tempat tersebut. Saya terangkan juga bahwa terkait pengukuran primary character seseorang seperti acuan nilai self-control dan agresivitas seseorang, sistem kami dipandang sangat akurat,? paparnya.
Nah, setelah menjelaskan, seorang peserta training dengan nada gurau langsung bertanya, ?Pak, bisa ditunjukkan di antara seluruh peserta training ini yang paling emosional menurut hasil tes sidik jari?? Semua orang tersenyum mendengar pertanyaan rekan mereka, tapi kemudian mereka terdiam penasaran setelah mendengarkan jawabannya. ?Saudara A, kata saya. Mendengar jawaban saya, semua peserta training bergemuruh, menunjukkan rasa terkejut sekaligus tertawa lepas. Ternyata jawaban saya tepat, yang bersangkutan dipandang oleh mereka sebagai seorang yang emosional dan cenderung menyerang saat berargumentasi dalam keseharian bekerja di perusahaan tersebut. Saya sendiri saat menjawab pertanyaan itu firm karena yakin dengan data statistik yang ada bahwa yang bersangkutan terkait penilaian self-control dan agresivitas berada pada pencilan bawah (kurang dari 1 % populasi sampel),? jelasnya.
Magister Teknik ini memaparkan tentang tantangan ke depannya yang akan dihadapi dalam pekerjaannya.?Karena Tes Sidik Jari PRiADI merupakan produk riset yang baru maka tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengedukasi masyarakat tentang manfaat dan keunggulan tes sidik jari psikologi, tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan melalui tes sidik jari, tentang akurasi dan standar statistik di belakangnya, dan tentang perbedaan mendasar tes sidik jari dengan tes formal psikologi. Tanpa edukasi pasar yang baik, akan sulit bagi kami menembus ceruk pasar asesmen psikologi di Indonesia,? terangnya.
Master of Art dari University of Arizona, Amerika Serikat ini membagikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini. ?Saya memaknai usaha kami membuat Tes Sidik Jari PRiADI sebagai perjuangan mencapai mimpi. Saat ide itu pertama kali tercetus, saya memulai riset dengan keraguan, dengan data dan basis teori yang sangat minim. Lambat laun, seiring waktu dan kedewasaan, kami menyikapi permasalahan dalam proses inovasi ini, kami bisa mencapai impian yang dicanangkan: menciptakan piranti asesmen psikologi untuk semua usia yang akurat, cepat, dan mendalam bahasan psikologisnya,?katanya.
Penyuka hobi jogging ini memaparkan habit khusus yang dibangun selama ini untuk mendukung pekerjaannya. ?Sebagai seorang yang cenderung analitis, saya selalu membiasakan diri berbicara dan bertindak secara faktual, terutama terkait penanganan masalah klien-klien kami. Boleh dibilang saya seksama dalam membaca hasil analisis klien. Tetapi saya sadar, bersikap objektif saja tak cukup saat saya training dan melakukan konsultasi bersama klien. Oleh karena itu, saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Saya belajar dan berusaha untuk bisa menangkap permasalahan klien secara baik, mendengarkan mereka dan berusaha berempati terhadap mereka. Itulah kebiasaan yang saya bangun saat bekerja dan berkonsultasi dengan klien,?paparnya.
Founder PT. Dataquest Leverage Indonesia ini pun membeberkan tentang rencananya dalam waktu dekat ini dan impiannya.?Memperluas jangkauan layanan Tes Sidik Jari PRiADI ke seluruh pelosok negeri dengan cara bekerja sama dengan komunitas dan melahirkan banyak associate trainer Tes Sidik Jari PRiADI. Untuk impian, go International. Mendorong Tes Sidik Jari PRiADI menjadi pemimpin pasar produk asesmen kepribadian di dunia. Dengan bekal tingkat akurasi yang tinggi, analisis psikologis yang mendalam, dan inovasi teknologi pengambilan sidik jari, insya Allah impian itu akan tercapai suatu saat nanti,?pungkasnya.
