HarianBernas.com – Ir Arief Budiono saat ini memutuskan untuk hanya fokus saja di DRPD DIY dan partai karena ini adalah amanah yang tidak ringan, tidak bisa dianggap sebagai sambilan. Untuk menjalani aktifitas sebagai anggota dewan, ia memiliki motto Hidup Itu Adalah Sebuah Perjuangan.
?Maksudnya ketika melakukan aktivitas, apapun itu, tidak ada yang bisa dilakukan secara santai. Semua itu harus dilakukan dengan sebuah perjuangan. Apapun itu, untuk mencapai sukses, pasti membutuhkan keseriusan dan kesungguhan perjuangan itu,? ungkapnya ke Harian Bernas.
Menjadi anggota dewan, tidak pernah terbayang dalam benaknya. Keterlibatannya bergabung di kepartaian benar-benar tidak dalam skenario awalnya. Ia sebetulnya arahnya ingin menjadi dosen. Pernah bergabung dan mengajar di lembaga pendidikan, Unikom. ?Perjalanan kehidupan manusia tidak lurus-lurus saja, tetapi ada yang berbelok di tengah jalan, menyesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi. Bagi saya, ilmu itu tidak hanya yang kita dapatkan dari sekolah, sebenarnya ilmu yang memberikan bekal kita untuk berkembang. Jadi, dengan ilmu itu, potensi bisa kita kembangkan,? tuturnya.
Bagi Sarjana Peternakan ini, ada yang pengembangan potensinya sesuai dengan keilmuan yang didapatkan di perguruan tinggi, tapi tidak menutup kemungkinan, banyak pengembangan dirinya itu tidak sesuai dengan keilmuan PT. ?Semua itu adalah hasil dari olah, hasil pengamalan ilmu itu. Ilmu itu berkembang. Dari situlah, termasuk saya itu, dengan keilmuan yang kita dapatkan. Itu bisa kita kembangkan di sisi yang lainnya,? ucapnya.
Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menceritakan bahwa waktu di kepartaian, benar-benar niatnya itu (istilahnya) ingin memberikan kontribusi yang bisa kita lakukan untuk partai saja. Tanpa pernah terbayang menajdi anggota dewan. Karena waktu itu, anggota partai belum banyak sehingga yang menjadi atau dicalonkan anggota dewan itu yang ada, kemudian direkrut. ?Saya tak pernah ada terbersit menjadi anggota dewan. Waktu itu, saya ditaruh di nomor dua di Kabupaten Sleman untuk Provinsi. Saya tidak pernah kampanye untuk diri saya. Saya juga tidak kampanye di daerah saya. Karena waktu itu, saya ada di struktur wilayah, saya justru banyak membantu kampanye di Kulonprogo dan Gunungkidul, padahal saya dicalonkan di Sleman. Kita semua berkampanye istilahnya memperkenalkan partai saja. Pokoknya, bagaimana seluas-luasnya masyarakat mengenal partai sehingga Ketika ada di Gunungkidul dan Kulonprogo, tidak ada beban sama sekali untuk memenangkan diri saya,? urainya.
Tahun 2004, Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY ini akhirnya menjadi anggota dewan, bukan karena jerih payahnya sebagai caleg. ?Saya tidak keluar duit kok, boleh dibilang tidak mengeluarkan dana karena tidak berkampanye di daerah saya, tapi membantu di daerah-daerah yang lain karena Gunungkidul dan Kulonprogo masih sedikit. Tidak tahunya, dari Sleman bisa mengangkat dua, no 1 dan 2. Nah, disitulah titik baliknya, tidak pernah terbayang menjadi politisi, anggota dewan. Itu tiba-tiba harus mengubah haluan saya. Mau tidak mau, kita harus cepat menyesuikan diri, belajar mengikuti situasi yang terjadi. Sebagai anggota dewan belajar tentang politik. Tahun 2004, menjadi perubahan itu,? paparnya.
Alumnus UGM ini pun membagikan pengalaman uniknya ketika menjadi anggota dewan. ?Yang jelas, ada hal-hal baru yang kita mesti harus mau untuk terlibat, misal waktu itu, diminta untuk menjadi model, teman-teman pengusaha dan perajin batik menyelenggarakan semacam festival, kemudian ada lima orang anggota dewan, termasuk saya yang berperan menjadi model di catwalk. Saya kira itu menjadi pengalaman baru yang menarik untuk memeriahkan itu karena muatan lokal perlu disupport. Terkait dengan masyarakat, yang paling membuat kita senang, memberikan andil, yaitu ketika masyarakat meminta sesuatu atau mengajukan permohonan untuk kebutuhan mereka, kita bisa membantu melalui advokasi kita di anggaran. Itulah yang membuat kita merasa senang. Sangat menggembirakan bisa membantu masyarakat, memperjuangkan apsirasi mereka, membantu kebutuhan pengembangan usaha mereka,? terangnya.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi sebagai anggota dewan, ia pun memiliki jawabannya tersendiri. ?Di lembaga ini, dituntut adanya transparansi, akuntabilitas. Ini kan mau tidak mau, dalam kita memerankan diri (anggota dewan) ini, semunya harus serba terbuka. Masyarakat bisa mengetahui dan menilai. Jadi, di dalam memerankan ketiga fungsi: anggaran, penyusunan program legilasi/peraturan daerah, pengawasan, supaya macth dengan kebutuhan masyarakat, mau tidak mau harus banyak berkomunikasi dengan banyak masyarakat, termasuk konstituen kita, walaupun secara umum semuanya. Harus banyak melakukan komunikasi dengan konstituen. Dalam reses, saya usahakan untuk benar-benar bertatap muka dengan konstituen. Saya berharap mereka benar-benar memberi masukan. Dari situlah, kita berusaha menjadikan bahan yang kita dapatkan itu utnuk mengoptimalkan peran kita itu,? jelasnya.
Untuk tantangan ke depan dalam pekerjaannya, penyuka hobi naik sepeda ini merasakan bahwa saat ini masyarakat semakin cerdas dan mengerti tentang hak-hak mereka, hak masyarakat di dalam konteks bernegara. ?Demokrasi semakin melahirkan banyak instrumen ataupun sarana, yang bisa mereka manfaatkan untuk berkomunikasi. Saya kira ini sebuah tantangan tersendiri bahwa masyarakat semakin cerdas memanfaatkan teknologi. Tentu, dalam mereka mengungkapkan, ya segala macam apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan dan usulkan tidak lagi dibatasi harus terjadwal dalam reses atau dalam forum resmi. Mereka kapan pun bisa menyampaiakn melalui media sosial, bisa melalui teknologi itu. Inilah yang bagi saya, mau tidak mau harus mengikuti tren ini, artinya harus menjadi lebih akrab dengan pendekatan penggunaan teknologi yang ada di media sosial, harus semakin akrab dan tidak ketinggalan. Ketika mereka menyampaikan masukan, kita bisa segera merespon. Tren ke depan, akan banyak menggunakan media-media itu,? jelasnya.
Mantan Pemimpin Umum Penerbit dan Percetakan Waislama ini memberikan inspirasinya kepada yang membaca artikel ini. ?Seperti halnya saya, bisa jadi perjalanan pengembangan diri kita tidak lurus-lurus saja, tetapi yang penting, kita perlu punya kesiapan untuk mengembangkan potensi diri kita ini, lalu serius menekuni. Kita tidak perlu memegang bahwa saya kalau kuliah di psikologi harus menjadi seorang psikolog, tapi kita harus punya kesiapan untuk memgembangkan diri/profesi kita. Yang penting, mau serius belajar dan menekuni,? bebernya.
Mantan Manager Keuangan CV Murah Barokah juga memberikan sarannya. ?Bagi mereka yang belum berkecimpung atau terlibat di dalam dunia politik maka tidak punya saran, tapi kalau yang sudah, yang penting, posisi atau fungsi anggota dewan itu sangat dinantikan kiprahnya di masyarakat. Jujur, masyarakat itu sangat membutuhkan wakil rakyat yang ideal. Yang benar-benar bisa memperjuangkan aspirasi kebutuhan masyarakat sehingga yang sudah menjadi anggota dewan banyak-banyaklah berkomunikasi dengan masyarakat maka kita akan punya bahan yang banyak dalam rangka menjalankan tugas fungsinya sebagai dewan. Kalau kita tidak banyak berkomunikasi, kita cenderung tidak akan mempunyai bahan,? pungkasnya.
