HarianBernas.com – Siuling Moeharjo menyebut kegiatannnya mendampingi pasien kanker sebgai pelayanan sosial. Tahun 2012-2013, ia berjuang melawan kanker. Setelah sembuh, kini melayani orang-orang penderita kanker dari berbagai kota. ?Dulu pengusaha, sekarang tidak terlalu menekankan sebagai pengusaha, tetapi saat ini, saya harus bekerja untuk kehidupan sehari-hari , saya berjualan kopi. Kopi itu kopi organik yang misinya sejalan dengan misi saya, pelayanan sosial. Kopi itu saya jual karena kopi itu standardnya untuk kesehatan,? ungkapnya ke Harian Bernas saat ditemui di kediamannya di Jalan pakuninratan, Yogyakarta (6/4).
Kisahnya berawal di tahun 2012, ia divonis kena kanker ovarium. Dalam 10 bulan, harus menjalani 3 kali operasi dan 7 kali kemoterapi. Perjuangan dengan kankernya itu memang sangat tidak mudah. Pada waktu itu, tidak ada orang yang membimbingnya, mengarahkan. ?Saya harus tanya sendiri info-info dokter untuk ke mana karena keluarga saya tidak yang mengalami kanker. Saya ini merasa begini, selain harus menemui dokter yang tepat di bidangnya, emosi saya yang berjuang kanker pada waktu divonis kanker, dunia gelap, sorot pandang tidak ada pengharapan, tidak tahu ke depan mau apa, benar-benar sudah lumpuh. Pikirannya divonis kanker hanya mati,? tuturnya.
Namun, seiring waktu, Siuling percaya bahwa itu sebagai satu pekerjaan Tuhan. Di mana Tuhan itu menggerakkan dua orang. Sebelum divonis dengan kanker, dua orang sahabat ini tiba-tiba muncul saja. ?Satu orang dokter yang dikenal tahun 85 waktu di Jerman. Dokter ini mengarahkan saya secara medis, bicara secara medis tentang kanker. Satu sahabat saya, teman kuliah yang juga tidak pernah berkomunikasi tiba-tiba muncul. Dia seorang motivator dan aktivis gereja yang memainkan segi emosi saya.Teman yang dokter, dia bilang kamu berjuang dengan kanker ibarat argo yang berjalan. Jangan ditunda harus segera ditindaki. Teman yang aktivis gereja, dia bilang kamu hadapi, vonis dokter tentang kanker, tidak berhubungan kematian. Kamu harus punya daya juang, punya semangat, tetap berdoa, bersyukur. Berpikir positif,? paparnya.
Selanjutnya, ia terus mencoba menerima, berdamai dengan diri sendiri, pasrah tetap bersyukur. Itu sesuatu yang tidak mudah baginya. ?Begitu divonis kanker, secara manusiawi, pasti sedih, takut, panik, tidak ada harapan, bingung, pasti ada. Akhirnya, sudut pandang menjadi berubah. Dalam kondisi terpuruk, saya tetap bersyukur hingga antara hati dan mulut sama-sama bisa menerima, kemudian,? jelasnya.
Baginya, orang sakit kanker tidak hanya berhubungan dengan medis, tetapi dari diri sendiri harus dibangun semangat dan punya daya juang yang tinggi. Kekuatan cinta dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya itu luar biasa. Tuhan terus kirimkan sahabat dengan perannya masing-masing, ada yang dokter, motivasi, menyediakan obat, dan semua kebutuhan-kebutuhan. Semua dipenuhi sampai alat masak diganti.
Dengan banyak dukungan, ia menjadi termotivasi untuk survive dan kuat dengan punya tujuan masih punya orangtua. ?Saya punya Ibu yang tinggal sama saya. Tugas saya belum selesai. Tugas saya masih ada orangtua. Saya itu lima bersaudara, saya satu-satunya anak perempuan. Saya tidak mau membebani keluarga karena perjuangan dengan kanker harus siap mental, siap dengan kepala plonthos. Pengobatannya tidak bisa satu bulan dua bulan tergantung kondisi fisiknya sampai stadium berapa. Bisa satu tahun dua tahun tiga tahun sampai berapa lama tidak tahu. Saya sudah punya tujuan, saya harus bisa, harus kuat. Di tengah proses pengobatan itu, kalau orang tidak punya tujuan, tidak punya daya juang, putus asa, atau tidak punya semangat, kanker itu akan cepat menyebar,? ujarnya.
Dari operasi tahun 2012 dan kemoterapi sampai tahun 2013, ia tidak bisa langsung sehat dalam satu atau bulan karena kemoterapi tidak bisa membedakan sel-sel baik dan jahat. Semua kena. Alat perasa dan berpikir lumpuh semua. Tidak bisa berpikir yang berat-berat. ?Itu yang saya rasakan. Setelah dinyatakan bersih, tidak perlu kemoterapi, tahun 2015, saya baru bisa pulih. Meski stadium satu, saya mendapatkan obat kemo yang cukup keras. Dampaknya itu, gangguan sesak napas, daya ingat berkurang,? ucapnya.
Dua tahun (2013-2015), ia terus menyemangati diri sendiri. Baginya, atas ijin Tuhan, ia memang harus alami dan hadapi. Pada waktu berdoa, ia bisa bersyukur dan bisa menerima. ?Saya tahu di balik apa yang terjadi, ada maksud Tuhan, tetapi saya tidak tahu maksud Tuhan itu apa. Karena mendekatkan diri dengan Tuhan, saya percaya bahwa saya akan sembuh dan akan survive. Saya ikut kelas untuk pengembangan pribadi supaya pulih. Saya percaya itu tuntunan Tuhan. Tiba-tiba setelah selesai dengan kemo, Tuhan itu tiba-tiba kirimkan orang-orang yang berbeda, ada penulis, penginjil, motivator, yang itu ternyata perannya berbeda-beda,? katanya.
Dari penulis itu sembari berusaha untuk semangat pulih, tiba-tiba dikenalkan satu pasien kanker untuk ia menyemangati. ?Kondisi belum begitu pulih, saya berusaha mau berbagi pengalaman, bagaimana saya semangat menghadapi kanker. Tahun 2015, ada satu pasien kanker, lalu ada satu lagi pasien kanker. Ada yang dari Semarang, Muntilan, Yogyakarta,? sebutnya.
Penulis itu mengapresiasinya bahwa ibu melakukan pekerjaan yang mulia karena sedang berjuang melawan kanker kok melayani orang yang juga berjuang melawan kanker. Kalimat itu ternyata begitu sakti sehingga dibukakan pintu cakrawala berpikir saya. Penulis itu berkata menekankan lagi, ibu berhati mulia, ibu punya potensi yang tidak ibu akui. ?Pada waktu itu seperti shocktherapy, saya menyadari bahwa saya ini sebagai orang percaya pada Tuhan bahwa Tuhan itu sudah memberikan potensi pada setiap orang, tetapi saya sepertinya memendam potensi itu. Tiba-tiba ketika dia bicara seperti itu, saya diingatkan menyimpan potensi. Saya harus bisa. Saya percaya bahwa apa yang ada di alam bawah sadar saya itu begitu dibukakan cakrawala berpikirnya seperti roket yang tiba-tiba melesat cepat,? bebernya.
Kemudian, ia terus memperlengkapi diri seperti kelas untuk pengembangan diri dengan bertemu orang-orang yang berbeda dengan prestasi di bidangnya masing-masing. ?Kehidupan saya berubah 360 derajad. Saya yang dulunya tidak bisa bicara, yang dulunya tidak dikenal, sekarang orang tahu saya. Sambil memulihkan badan saya, terus dikirim pasien-pasien kanker. Saat ini, ada 25 pasien kanker dari berbagai kota, bahkan dari Kalimantan Utara dirujuk ke Yogyakarta. Saya menyebut diri saya pendamping pasien kanker, juga tidak membawahi satu bendera. Saya bukan dokter, tidak bicara tentang kedokteran. Saya juga bukan ahli gizi, tetapi saya mau berbagai lewat pengalaman hidup saya. Bagaimana saya harus semangat, kuat, dan harus beriman. Kesembuhan itu tidak sepehuhnya tergantung dari pengobatan, tetapi kesembuhan harus dari diri sendiri. Kita harus semangat, punya daya juang, dan iman,? terangnya.
Dalam pelayanan pendampingan pasien kanker, ada suatu kata-kata yang menjadi dasarnya untuk membangun emosi, spiritual, mental, dan menjadi pegangan bagi orang yang sedang berjuang melawan kanker, yaitu kehidupan yang sehat itu tidak hanya bicara apa yang dimakan, tapi juga apa yang dikonsumsi, bisa emosi, mental, spiritual. Emosi itu bisa emosi positif atau emosi negatif. Mental itu harus sebagai mental pemenang, siap dengan menerima bahwa kanker itu ada di dalam tubuhmu karena kamu stress pun juga tidak akan membantu. Siap emosi, siap cari topi atau rambut palsu. ?Siap tidak siap harus siap, rasa takut bukanlah untuk dinikmati, tapi untuk dihadapi. Itu prinsip saya di dalam saya memberikan semangat. Ada satu perkataan, hati yang gembira adalah obat,? pungkasnya.
